[Japan] Planning, Getting Started, and Little Tips (Part 1)

Wednesday, April 23, 2014

Alhamdulillah, trip ke Jepang yang udah direncanain setahun lamanya berjalan lancar. Dulu saya dan beberapa teman sekelas di kampus yang emang hobinya ngebolang pernah mikir kayak gini.
"Nanti kalau udah pada kerja, ngumpul buat pergi jalan-jalannya bukan di kampus lagi, tapi langsung di airport"
Dan Alhamdulillah beneran kesampean :)

Arrived Savely @ Haneda Airport

Dimulai dari angan-angan saya dan Nindy yang pengen banget ke Tokyo berdua, tiket promo, dan akhirnya jadi ngajak beberapa teman yang lain. Sayangnya ada sedikit drama yang bikin Nindy akhirnya jadi batal ikut. Ini sedih sungguhan deh sebenernya. Tapi mungkin lain kali kita memang harus jalan berdua ya Nin, ga boleh ajak yang lain haha. Tapi gak boleh berkelanjutan sedihnya karena ini Tokyo di musim semi! Bunga sakura dan banyak bunga-bunga lain sedang bermekaran bikin Tokyo jadi cantik dan fotogenik sekali.

Oke cukup sudah intronya. Kali ini saya mau nyeritain gimana planning trip ke Jepang. Menyangkut tiket pesawat, mungkin sedikit tips untuk apply visa, plan itinerary, dan juga budgeting. So it's gonna be super duper mega ultra long post! Karena kemarin lumayan banyak yang nanyain detail trip saya, jadi biar ringkas dan semuanya bisa baca, why not making it as a blog-post? Anggaplah ini sedikit tips untuk berlibur (agak murah) ke Jepang.


When to Go?

Cherry Blossom @ Shinjuku Gyoen National Garden

Pertama-tama sekali, tentukan ingin ke Jepang di musim apa. Musim semi ketika Sakura bermekaran? Musim panas yang banyak festival? Musim gugur yang serba merah? Atau musim dingin? Setelah menentukan musim, ada baiknya research tanggal-tanggal terbaik untuk mengunjungi Jepang di musimnya. Misal ingin lihat full-bloom Sakura, googling dulu tanggal mekarnya. Ini yang sempat terlewatkan oleh saya. Haha. Dikirain Sakura bakal tumbuh sepanjang musim Semi, tapi ternyata mekarnya hanya 10 hari saja, dari akhir Maret hingga awal April. Beruntung sekali di pertengahan april kemarin masih sempat lihat beberapa pohon yang mekar di Fuji dan Shinjuku Gyoen. Jadi sekali lagi, riset awal itu sangat penting!

Plane Ticket.
Setelah riset, saatnya beli tiket! Berburu tiket promo adalah solusi untuk terbang murah ke Jepang. Subscribe ke beberapa newsletter maskapai yang buka penerbangan ke Jepang agar selalu update soal promo ini. Yang paling sering ngasih promo sih tentu saja AirAsia. Tapi biasanya jangka waktunya jauh sekali, bisa sampai setahun sebelumnya seperti saya yang beli tiket di tanggal 1 April 2013 untuk penerbangan April 2014. Dan tiket promo ini sistemnya nggak bisa di-refund. Jadi, sebelum berburu pastikan dulu ya jadwal yang benar-benar aman. Aman cutinya, uangnya, perizinan dari orangtua/pacar/suami/istri (ini serius lho), dan juga jangan lupa cocokkan dengan musim apa di Jepang sana. Selain AirAsia, kadang-kadang Garuda Indonesia juga ngasih best-deal buat ke Jepang lho.

Notes :
  • Travel light tanpa bagasi untuk menghemat pengeluaran.
  • Kalau pergi rombongan, bisa beli 1 bagasi extra untuk pulangnya saja untuk space oleh-oleh yang kemudian bisa di-share
  • Flight add-ons seperti bagasi, meals (kalau naik AirAsia) sebaiknya dibeli belakangan saat visa udah approved.
  • Perkiraan harga di kisaran IDR 3 - 4 juta (PP).

Visa.
Udah banyak banget yang bahas proses dapet visa Jepang jadi rasanya ngga perlu berpanjang-panjang di sini. Prosesnya mudah banget kok. Asal semua dokumen yang diminta lengkap, itinerary jelas dan masuk akal dengan uang yang ada di tabungan kita, pasti deh approved. Masuk akal di sini maksudnya nggak ngoyo, misal uang cuma 5 juta tapi itinerary keliling jepang dr Hokkaido sampe Kyoto, ya nggak masuk akal kan. Memang sih, uang di rekening nggak ada aturannya harus berapa. Cuma kata kebanyakan orang rumus amannya begini:

 (jumlah hari di jepang x 1 juta) + harga tiket pulang normal tanpa promo

Jadi misal kayak kemarin saya 5 hari, uang 'aman' yang ada di rekening adalah minimal:
 (5 * 1) + 5 = 10 juta

Notes:
  • Perhatikan daerah yurisdiksi (wilayah kerja) pembuatan visa, sesuai dengan daerah asal KTP kita (selengkapnya lihat di sini). Karena KTP saya Medan, jadi saya harus mengurus visa di konsulat Jepang di Medan. Sempet pusing gimana ngurusnya, tapi ternyata bisa diwakilin sama keluarga kok. Cukup bawa KK aja.
  • Rumornya sih dalam waktu dekat Indonesia bakal bebas visa ke Jepang. We'll see :)

Where to Stay?
Karena perjalanan ini benar-benar diusahakan sehemat mungkin, jadi pilihan menginap nggak jauh-jauh dari Hostel berformat dorm. Pilihannya banyak banget di www.hostelworld.com atau www.booking.com.

Hostel tempat saya menginap dan mungkin bisa dijadikan referensi adalah Khaosan World Asakusa. Letaknya hanya 2 menit berjalan kaki dari Asakusa Station (Tsukuba Subway) dan dekat sekali ke Sensouji Temple. Akses ke convenience store seperti Lawson atau SevenEleven, 100 Yen shop, toserba Don Quijote, sampai penyewaan sepeda juga dekat. Saya jatuh cinta banget dengan hostel ini. Mungkin nanti bakal dibikin satu postingan khusus. Rate-nya JPY 2000 / malam untuk 10-bed mixed dorm.

Notes:
  • Know your budget. Hostel paling murah sejauh saya lihat sih berkisar di JPY 1900 - 2000 an. Yang lebih mahal banyak. Tapi sesuaikan dengan budget. Kalau buat saya sih karena Hostel cuma dikunjungi saat mau tidur dan mandi aja, rasanya gak perlu yang bermewah-mewah deh.
  • Untuk cewe-cewe yang risih harus tidur di mixed-dorm, ada pilihan female-dorm tapi biasanya lebih mahal harganya. Karena kemarin saya berangkatnya sama teman cowok semua, jadi ngerasa save banyak yang ngejagain. Eh ada bonusnya lho bisa lihat bule-bule sixpack lagi bobok ganteng (tapi endingnya doi ngedipin mata ke Amoy -__- #GayDetected)
  • Know the location. Coba buka-buka map dulu sebelum booking hostel. Jangan pilih hostel cuma karena murah tapi jaraknya jauh banget dari mana-mana. Amannya sih cari yang sekitaran Asakusa. Di sana banyak banget hostel yang affordable dan mudah akses kemana2nya.

Transportation.
Nggak perlu khawatir soal ini. Transportasi di Jepang itu nyamannnn banget! Semuanya rapih dan teratur. Nggak perlu takut nyasar karena nggak bisa baca kanji karena pasti ada terjemahan huruf latinnya. Untuk ongkos itungannya sih lumayan mahal. Naik kereta yang jarak dekat aja dengan jeda 1-2 stasiun bisa mencapai JPY 300an. Tapi saya rasa kebayar impas sama ketepatan waktu dan kenyamanannya.

Petunjuk super jelas kayak gini harus jeli diperhatikan biar nggak nyasar
Shinjuku Station

Line kereta di jepang ada banyak sekali dan dikelola oleh beberapa perusahaan berbeda. Ada JR Line, Ginza Line, Yurikamome, dll. Jadi bukan cuma KAI doang lah istilahnya kalau di Indonesia. Awal-awal rada ruwet sih saat harus pindah-pindah dari satu line ke line lain, tapi kalau memperhatikan petunjuk yang super lengkap di stasiun sih niscaya nggak akan nyasar.

Notes:
  • Untuk yang berencana berpindah-pindah kota, misal dari Tokyo ke Kyoto, disarankan membeli JR Pass dulu di Indonesia. Dengan JR Pass ini kita bisa naik semua kereta JR secara cuma-cuma sepuasnya, termasuk Shinkansen! Karena kemarin memang nggak berencana berpindah kota dari Tokyo, jadi opsi ini tidak saya gunakan.
  • Untuk menghemat waktu agar tidak antri membeli tiket setiap bepergian, gunakan kartu prabayar seperti PASMO atau Suica. Harganya JPY 1000 termasuk deposit JPY 500. Bisa dibeli di bandara dan bisa diisi ulang di stasiun manapun. Cukup tap di mesin tiket stasiun dan tinggal melenggang ke dalam kereta :D Selain untuk kereta, PASMO ini bisa digunakan di convenience store (Lawson, Family Mart, Seven Eleven), vending machine, dan sampai untuk berbelanja di store besar seperti Uniqlo! Haha. Cukup praktis kalau nggak pengen repot ngantongin kembalian receh.
  • Oiya FYI uang kertas di Jepang hanya untuk nominal 10.000, 5.000, dan 1.000, sisanya adalah koin. Makanya recehan di Jepang sangat berharga. Kehilangan koin 500 yen sama saja dengan kehilangan uang sekitar 50.000 rupiah. Duh.
  • Hemat waktu dengan menghindari nyasar. Gunakan apps kece bernama Hyperdia (available for Android and IOS) juga Google Maps untuk mencari rute kereta lengkap dengan menit-menit keberangkatan juga harganya. Selain riset stasiun pemberhentian, jangan lupa riset tentang pintu keluar stasiunnya. Ini penting banget karena kalau salah keluar nanti bisa-bisa jadi lebih jauh ke tujuan kita.
  • Contoh : kalau mau ke patung Hachiko, the nearest way adalah ke Shibuya station dan keluar di Hachiko Exit.

What to Eat?
Mahal. Itu jelas kerasa banget. Kalau budget terbatas sih ngga usah maksain untuk masuk restoran karena sekali makan bisa mencapai JPY 800an. Trus makan apa dong? Onigiri dan bento di convenience store sih jadi andalan kami selama di sana. Beli Onigiri seharga JPY 110 lalu makan bersama abon sapi bekal dari tanah air :D Kalau mau lebih enak sedikit bisa beli bento box berisi sushi atau mie goreng di kisaran JPY 300-400. Yah sekali-kali bolehlah makan ramen (insya Allah halal) seharga JPY 1000 (more on that later).

Onigiri andalan. Hati-hati juga ada yang isinya babi
Makanan andalan kedua. Nasi yang dibalut tahu dan juga sushi. Makan beginian kenyangnya awet!

Notes:
  • Untuk yang Muslim, phrase "Sore-wa butani-ku?" (Apakah itu babi?) terbukti handal banget buat mastiin apakah ada babi atau enggak di makanan kita. Kalau dijawab "Haik" ya jangan dimakan yaa walaupun memang terlihat sangat menggiurkan. Haha. Amannya sih cari yang seafood atau telur.
  • Di hostel bisa memasak. Jadi memasak sarapan di pagi hari akan menghemat sekali. Menunya sih ga jauh-jauh dari Indomie (seleraku) atau sandwich. Tinggal beli telur di convenience store terdekat :D
  • Abon sapi dan boncabe sangat-sangat membantu sekali untuk makanan Jepang yang biasanya rada plain di lidah :D
  • Untuk minum, untungnya semua air keran di Jepang bisa diminum langsung. Daripada beli air mineral kemasan, bawa botol sendiri dan isi ulang sepuasnya di manapun :D

Where to Shop?
Lagi-lagi mahal! Haha. Untuk mengakalinya, bisa beli oleh-oleh di 100 Yen shop atau di 3 Coins Shop yang semua harganya 300 Yen. 100 Yen shop ini sih favorit kami semua. Bisa banget berlama-lama di sini dan berakhir beli barang2 nggak guna cuma karena murah. Haha. Ga usah belanja di Uniqlo karena harganya sama aja dengan di Indonesia. Kalau mau oleh-oleh yang Jepang banget, Nakamise street di dekat Sensouji Temple Asakusa kayanya yang paling komplit. Cuma ya siap-siap merogoh duit lebih aja. Dan entah kenapa penjual di sini jutek-jutek abis, ga kayak di tempat-tempat lain di Jepang -_-

Nakamise street

Note:
Tapi kalo beruntung, bisa nemu barang-barang random murah kok. Contohnya Amoy yang dapet jaket kece seharga JPY 1000 atau Ibun yang dapet kemeja flanel kece seharga JPY 100 saja!

Barang-barang cute ini semuanya berharga JPY 300 di 3 Coins Shop. Gimana nggak kalap?

Internet Connection.
Sebagai anak gaul di era informatika, kebutuhan internet tentunya penting banget dong ya. Ketemu tempat oke jangan lupa check-in dulu di Path. Ada objek yang instagram-able, kudu langsung post. Haha! Tapi di Jepang akses internet berguna banget untuk menghindari nyasar. It will save your time, energy, and your leg!
Untuk beli simcard kayaknya rada susah. Tapi jangan khawatir, banyak banget portable WiFi yang disewakan di mana2. Di bandara kalo ga salah ada juga deh. Tapi kemarin biar praktis, kami menyewa di hostel dengan harga yang lebih murah dibandingkan bandara. Harganya cuma JPY 500/ hari. Tapi kita harus deposit JPY 10.000 untuk jaminan yang nantinya akan dikembalikan lagi. Agak kaget waktu nerima devicenya ternyata Galaxy Note II (yaeyalah di kereta aja HPnya Iphone semua haha). Jadi Note II itu dipake buat tethering rame2. Kecepatannya ngga usah ditanya lah yaa, nggak ada yang namanya lelet kayak di Indonesia. Eksis di socmed dan menghubungi sanak saudara via Skype pun tak ada hambatan.

Fiuuuhh~ Karena postingan ini sudah panjang sekali, untuk itinerary dan budgeting kayaknya dilanjut di part 2 saja ya :)

PS: Kurs 1 Yen saat itu adalah sekitar 112 Rupiah

1 comment:

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS