Januari 2011 adalah saat terakhir saya mengunjungi pantai. Merasakan terik mataharinya hingga membuat kulit saya gosong, lalu merasakan pasir putih yang lembut di telapak kaki saya yang telanjang. Setelah mengunjungi Pulau Tidung di awal 2011, kehidupan saya dipenuhi dengan mengerjakan Tugas Akhir, sidang, wisuda, mencari pekerjaan untuk menyambung hidup (lebay), dan akhirnya ditelan rutinitas pekerjaan.
Adalah saya dan Riwe, teman kantor saya yang udah ngebet pengen liburan melihat alam. Kita pun berfikir, "udah deh ini walaupun ujung-ujungnya cuma berdua, kita tetep harus liat pantai!" berhubung kebanyakan orang kalau diajakin pasti banyaaak banget alasan dan excusenya. Tapi siapa sangka, kalau pada akhirnya orang yang terkumpul berjumlah 8 orang. Saya, Riwe, Tomi (ini teman kantor yang sipit banget ngalah-ngalahin saya - haha), Nindy (teman seperkuliahan yang saya jebak ikut padahal tadinya dia ke kosan saya di Cikarang cuma pengen minjem laptop buat TA), Niken (teman kuliah Tommy dan Riwe di ITS), Alex (teman kantor yang memutuskan ikut di H - beberapa jam), Rio (anak ITS juga), dan Weni (sahabat Riwe waktu SMA). Awalnya saya berfikir kebanyakan orang dan tidak saling mengenal bakal menjadikan liburan ini super garing. Tapi ternyata salah besar. Entah apa yang membuat kami bisa ketawa ketiwi akrab kaya udah kenal lama banget.
Kami pun menuju Utara Jakarta, Muara Angke untuk menyebrang ke Pulau Harapan. Sempet dag dig dug takut ngga keburu ikut kapal yang jam setengah 7. Di Muara Angke saya bertemu dengan tim bolang: Niken, Dance, Ferga, Ryan, Alan. Mereka adalah teman sekampus yang juga teman PhotoST yang pada akhirnya juga berhasil saya racuni untuk berubah haluan ke Pulau Harapan padahal tadinya mereka hendak kemping di Pulau Pari. *smirk. Kalau rombongan saya memang berencana liburan a la koper dengan penginapan, makanan, dsb dsb diurusin sama si bro Ilham di Pulau Harapan sana, rombongan Niken lebih memilih liburan a la Ransel. Membawa tenda, kompor dan amunisi makanan. Setelah 3 jam lebih terombang ambing di kapal, kami pun merapat di Pulau Kelapa. FYI: Pulau Kelapa dan Pulau Harapan terhubung oleh suatu jalan setapak.
"The sun is up! I'm so happy I could scream!"
(The Cure - Mint Car)
Yang paling di cari dari wisata di kepulauan seribu tentu saja: Snorkeling! Rombongan saya dan rombongan niken snorkeling menggunakan kapal yang sudah saya booking sebelumnya. Total menjadi 13 orang. Yes patungannya jadi murah. Oiya ditambah 2 orang pria yang dicurigai mempunyai disorientasi seksual (if you know what I mean).
ceritanya seorang Mira Afianti udah bisa berenang.hahaha
pemandangan di bawah sana
Spot snorkeling pertama: Pulau Genteng
Selain snorkeling, bro Ilham membawa kami ke sebuah pulau dengan pantai yang sangat indah bernama Pulau Bintang Kayu Angin. Heaven!
pantai yang super kece di Pulau Bintang Kayu Angin
Dari Pulau Bintang Kayu Angin, kami menuju suatu tempat di tengah-tengah lautan (yaiyalah ya) yang katanya merupakan pecahan ombak. Sehingga ada bagian dangkal berpasir. Sayang saya lupa namanya apa. Selanjutnya menuju Pulau Bira. Dan terakhir berhenti di Pulau Perak, tempat geng ransel akan mendirikan tenda. Rombongan kami pun berpisah di sana.
di pecahan ombak yang lupa apa namanya
geng koper
saya punya mainan baru :D
sunset + ga mau pulang
Walaupun liburan kali ini a la koper, tapi uang yang dikeluarkan hanya berkisar di 200 ribuan saja. Sudah termasuk kapal Muara Angke - Pulau Harapan, Homestay AC, makan 3x dengan ikan dan seafood yang super maknyus, Snorkeling, dan Guide. Ditambah bonus banyak teman baru yang menyenangkan. CP Pulau Harapan: Ilham (081807833620). Ini seriusan tinggal ongkang-ongkang kaki semuanya langsung diberesin sama si Bro. Harga juga bersahabat banget. Recommended!
Terimakasih pantai, mentari, dan teman-teman baru yang baik untuk liburan yang menyenangkan ini! :D