Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Bukit Lawang : Tumbal Darah untuk Bertemu Orangutan


Beberapa waktu lalu, akhirnya saya liburan dan melihat yang hijau-hijau kembali!

Setelah diam di apartemen kotakan kecil selama 6 bulan, saya keluar kandang juga. Ga tanggung-tanggung keluarnya, sung saya terbang ke Medan! Tujuannya tentu bukan untuk berlibur, tapi untuk 'pulang' dan menjenguk Papa di rumah, berhubung adik saya si Pojan dan istrinya, Sarah, juga sedang cuti dan bisa keluar kandang dari Papua sana. Alhamdulillahnya saya dan Junda masih boleh WFH sampai batas waktu yang belum ditentukan, jadinya kami bisa boyongan ke Medan dan bekerja dari sana. 

Dari awal rencana pulang, Pojan udah ngajakin saya untuk liburan tipis-tipis. Saya dan Junda lumayan insecure karena masih pandemi, jadi kami lumayan picky dalam memilih tempat berlibur. Dari berbagai rencana, akhirnya yang kami approve adalah trekking di Bukit Lawang.

Drama dari Timur ke Jakarta

Sebenarnya sejak kepulangan saya dari Flores di awal Juni kemarin, saya udah niat banget mau nulis kisah perjuangan kami pulang ke Jakarta yang penuh drama dan air mata. Tapi karena males ngetik panjang, dan juga setelah itu saya ada piknik-piknik yang lain, maka postingan ini terus tertunda hingga hari ini. Karena lagi lumayan nganggur di kantor, saya mau nyoba nulis ceritanya. Dan seperti tujuan dari blog ini yang dibuat sebagai memento seorang Mira Afianti, kisah ini pun harus diabadikan.

Setelah 5 hari bertualang di Flores, dari mulai sailing trip ke Kepulauan Komodo hingga main ke Danau Kelimutu, tibalah hari kepulangan kami ke Jakarta. Pesawat kami (seharusnya) terbang dari Ende ke Kupang di hari Sabtu, lalu lanjut lagi dari Kupang ke Jakarta di hari Minggu pagi. Setelah packing, kami pun langsung menuju ke Bandara H. Aroeboesman, Ende. Sebelumnya mampir dulu makan siang di Sate Bangkalan di dekat bandara. Di sana kami bertemu beberapa orang calon penumpang yang juga akan pulang ke Jakarta. Salah seorang mbak-mbak kemudian bertanya ke kami,

Mbak2: "Mbak, pesawatnya di-cancel ngga?"
Kami : "Wah, belum ada pemberitahuan tuh, Mbak. Kenapa memangnya?"
Mbak2 : "Pesawat saya di-cancel nih, pesawatnya nggak bisa lewat karena debu Gunung Sangeang."

Ternyata oh ternyata, semalam Gunung Sangeang di Bima meletus dan memuntahkan awan panas. Memang deh pas lagi liburan gini saya paling nggak melek sama yang namanya berita.

Setelah diusut, si Mbak tersebut ternyata naik pesawat Garuda di pukul 13:00. Sementara saya dan 3 teman lain naik Wings Air di pukul 15:00. Tapi sayangnya Danik, yang memang beli tiketnya belakangan, naik pesawat Garuda yang sama dengan si Mbak. Langsung deh kita buru-buru ke bandara untuk nyari kepastian dan bener, pesawat Garuda yang terbang dari Ende seluruhnya di-cancel. Danik langsung buru-buru nge-refund tiketnya dan book tiket baru (Wings Air) dengan keberangkatan dari Maumere (kota yang lebih besar dari Ende, jaraknya 4 jam perjalanan). Luqman yang setia pacar juga ikut nemenin Danik ke Maumere. Tinggal lah Saya, Via, dan Rina di Ende. Tadinya kami masih nyantai-nyantai sambil agak harap-harap cemas karena pas nanya ke kantor Wings Air di bandara, mereka bilang mereka tetap terbang.


Terdampar di bandara

Pendakian Gunung Papandayan

Pendakian ini adalah pendakian saya yang ke-dua setelah Gunung Gede, April tahun lalu. Rencana mendaki Gunung Papandayan ini sebenarnya sudah dibuat sejak lama sekali. Setelah pendakian Gunung Gede, kami semua sepakat kalau kami semua merindukan 'nanjak'. Sampai-sampai saya modal untuk beli carrier, matras, dan sleeping bag supaya nggak minjem-minjem lagi. Namun  ternyata karena satu dan lain hal, rencana tersebut terus batal dan tertunda hingga akhirnya baru direalisasikan minggu lalu.

Awal pendakian dari Camp David.

Sebenarnya apa sih yang dicari dari perjalanan-perjalanan ini?

Mengintip Taman Nasional Ujung Kulon

Akhir pekan selepas libur lebaran yang lalu, saya sempat ikut trip ke Ujung Kulon yang diadakan oleh salah satu travel agent ala backpacker yang sekarang memang sedang marak-maraknya menjual banyak trip murah ke berbagai destinasi.

Cukup dengan pesan singkat,

"Mir ke Ujung Kulon yuk!"

Saya terkadang bingung harus senang atau sedih akan betapa murahannya easy-going-nya saya menerima berbagai ajakan main. Senang karena berarti akhir pekan saya bebas dari kegiatan bengong di kosan, sedih karena dompet yang sebenarnya menipis. Ah tapi tak apalah. Uang bisa dicari, sementara ajakan seorang teman tidak akan datang kedua kali. Ya, pembenaran diri.

Ujung Kulon kerap dipergunakan di dalam percakapan sehari-hari sebagai konotasi untuk menyatakan sebuah tempat yang letaknya jauh sekali. Mungkin semakna dengan antah berantah. Pada kenyataannya, hal itu benar adanya. Letaknya jauh di ujung barat pulau Jawa, dengan jarak tempuh sekitar 7 jam perjalanan darat dari Jakarta ditambah 3 jam perjalanan laut untuk menuju Pulau Peucang. Perlu diingat pula akses jalannya dengan medan ekstrim naik turun dan kondisi jalan yang tidak bisa dibilang baik. Tapi untuk yang merindukan suasana pantai yang asri dan juga sepi, Ujung Kulon sangat saya rekomendasikan untuk tempat kabur sejenak dari hiruk pikuk ibu kota.

Dermaga Pulau Peucang

Lebaran di Takengon, Dataran Tinggi Gayo

Meneruskan tradisi lebaran tahun lalu, tahun ini saya dan keluarga kembali memilih untuk jalan-jalan santai untuk mengisi waktu liburan. Destinasinya lagi-lagi Aceh. Sebenarnya sih ingin pulang kampung ke Sumatera Barat. Tapi karena Sumatera Barat itu letaknya lebih jauh dan kalau pas lebaran macetnya luar biasa, jadi Aceh kembali terpilih sebagai tujuan kami. Setelah tahun lalu napak tilas ke Banda Aceh, tahun ini kota yang kami kunjungi adalah Takengon. Sebuah kota kecil di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.


Flores Trip : #5 - Pesona Danau Tiga Warna Kelimutu


Setelah puas menjelajah indahnya Kepulauan Komodo, kami pun segera kembali ke Labuan Bajo untuk meneruskan perjalanan menjelajah Pulau Flores. Sebenarnya ada banyak sekali tujuan yang sangat menarik di pulau ini. Tapi karena waktu kami yang sangat terbatas, mau tak mau kami harus memilih. Pilihan pun jatuh ke Danau Kelimutu. Untuk generasi 90-an pasti akrab banget sama danau yang satu ini karena gambarnya muncul di pecahan uang lima ribu rupiah kala itu. Danaunya ada tiga dengan warna yang berbeda dan bisa berubah-ubah. Kelimutu terletak di Kabupaten Ende yang letaknya di ujung bawah Flores. Dari Labuan Bajo bisa naik travel atau Bis dengan waktu tempuh sekitar 10 jam. Karena waktu kami yang terbatas dan konon jalan lintas Flores itu rawan longsor, kami pun memilih terbang dari Labuan Bajo ke Ende. Ada banyak maskapai yang melayani rute ini seperti Wings Air, TransNusa, dan juga Garuda. Waktu tempuhnya sekitar 45 menit.

Flores Trip : #4 - Setitik Surga Bernama Gili Lawa

My heart fell for Gili Lawa.

Gili Lawa atau Gili Laba, salah satu tempat di daerah Kepulauan Komodo yang membuat saya kekeuh untuk menyewa kapal live on board instead of ikut rombongan tour. Kebanyakan tour dari Labuan Bajo memang tidak menyertakan tempat ini di daftar tujuannya karena letaknya yang cukup jauh. Tapi sayang banget kan kayaknya jauh-jauh terbang ke sini tapi tidak melihat langsung pemandangan yang (menurut saya) paling indah? Sejak pertama kali melihat Gili Lawa di blog Wira saya bertekad dalam hati bahwa suatu hari saya akan ke sana. Sejak awal sms-an dengan Pak Mat saya sudah berpesan, "Pokoknya gimana pun caranya di 3 hari 2 malam itu saya bisa ke Pink Beach, Gili Lawa, sama liat Komodo, Pak. Tujuan lain nggak terlalu penting." Dan Alhamdulillah semuanya terpenuhi.

Flores Trip : #2 - Bertemu Si Komo

*Si Komo. Tapi palsu.

Pagi itu saya dibangunkan oleh sayup-sayup adzan Subuh yang berasal dari perkampungan di Pulau Komodo. Yap, mayoritas penduduk Pulau Komodo beragama Islam dan rupanya kapal kami 'parkir' tidak begitu jauh dari perkampungan penduduk sehingga adzan terdengar cukup jelas. Langsung saya beranjak sholat Subuh lalu nongkrong di meja makan menunggu sarapan sembari menikmati suasana pagi. Salah satu pagi paling indah dalam hidup saya. Pulau-pulau yang tadi malam tidak kelihatan karena gelap gulita sekarang mulai menampakkan dirinya.

Flores Trip : #1 - Hello, Labuan Bajo!

Keinginan untuk menginjakkan kaki di Flores sebenarnya sudah dipendam sejak lama. Tapi entah kenapa sulit sekali rasanya mewujudkannya. Alasan klisenya sih uang dan waktu. Penerbangan ke Indonesia bagian Timur memang tidak pernah murah. Jangan pernah menaruh harapan pada tiket promo karena (nyaris) tidak ada. Nggak heran kalau orang-orang lebih memilih untuk berlibur ke luar negeri karena memang jauh lebih murah tiketnya. Jika sudah punya uang, selanjutnya mari berhitung waktu yang diperlukan untuk menjelajah Flores. Bagi corporate slave macam saya yang liburnya bergantung pada tanggal merah dan juga cuti yang cuma 12 hari itu (pun harus dipotong dengan cuti bersama), mencari waktu yang agak lega untuk berkunjung ke Flores rasanya sulit sekali.


Piknik ke Tongging



Karena saya lahir dan besar di Medan, piknik ke danau Toba sudah tak terhitung berapa kali. Acara piknik keluarga ataupun tamasya bersama dari sekolah pasti sering memilih tempat ini karena jaraknya yang tidak terlalu jauh. Meskipun begitu, rasanya saya tidak akan pernah merasa bosan mengunjungi danau terbesar se-Asia Tenggara ini. Ketika mobil mulai melalui jalan yang berkelok-kelok curam, dan perlahan genangan air yang memantulkan birunya awan mulai terlihat dari balik bukit-bukit yang berlapiskan rumput berwarna hijau bak permadani dengan pohon-pohon pinus tumbuh di atasnya, tetap saja tak henti-hentinya saya mendecakkan rasa kagum pada Sang Pencipta meski pemandangan ini sudah saya lihat berkali-kali dan nyaris dihapal di kepala ini

Pada mudik liburan tahun baru kemarin, saya mengajak keluarga untuk piknik lagi ke danau Toba. Akan tetapi hujan yang turun terus menerus membuat rencana ini nyaris gagal, mengingat jalan menuju Danau Toba yang rawan akan longsor. Tapi entah mengapa pada suatu hari itu, matahari mulai muncul sedikit-sedikit, lalu dengan impulsif kami pun berangkat ke Tongging.

Ada banyak spot untuk melihat danau cantik ini. Karena danau ini luas sekali, tempat-tempat tersebut tersebar di Sumatera Utara dan mengelilingi danau. Yang paling terkenal adalah Parapat, yang berjarak sekitar 4-5 jam dari Medan. Yang paling dekat adalah Tongging yang berjarak hanya 2-3 jam melewati Brastagi (yang dekat sekali dengan Gunung Sinabung). Waktu kami tak banyak sehingga kami memutuskan untuk ke Tongging saja. Sekedar piknik memakan bekal makan siang dari rumah.

Pemandangan yang paling bagus adalah saat di perjalanan karena kita menuruni bukit untuk sampai ke danau. Kita bisa melihat danau Toba yang dikelilingi oleh bukit-bukit cantik yang mirip dengan setting film The Lord of the Rings. Saya langsung pindah ke tempat duduk ke depan sehingga bisa memotret dengan leluasa. The weather was so nice!










Di atas bukit, terdapat sebuah air terjun yang bersumber dari sungai bawah tanah dan mengalir ke danau. Air terjun Sipiso-Piso namanya. Jadi ketika kita berada di puncak bukit kita bisa melihat air terjun di sebelah kanan, dan danau toba di sebelah kirinya. Priceless.


Till we meet again, Toba!

Hello Again, Bandung!

 

Bandung adalah long lost friend buat saya. Seorang teman lama yang sudah lama sekali tidak ditemui, tidak tahu kabar beritanya karena jarang sekali berkomunikasi. Teman tersebut kamu rindukan, tapi ketika tiba kesempatan untuk bertemu, kamu akan kehabisan ide hendak membicarakan topik apa. Karena sepertinya membicarakan kenangan masa lalu bersama Bandung itu lama kelamaan terasa sangat membosankan. Sehingga pada akhirnya kamu memilih untuk berbasa basi saja dengannya.

Tapi bagaimanapun juga melihat langit Bandung yang mendung dan juga udaranya yang Bandung banget, mau gak mau bikin saya kangen sekali. Ingin rasanya tinggal berlama-lama. Sekedar tidur dan ngulet-ngulet di kasur pakai selimut tebal dan kaus kaki (yang mustahil sekali dilakukan di Cikarang, haha), membaca buku sambil minum teh hangat, kehujanan naik motor tak tentu arah, atau sekedar bengong di kosan. Haha. Tapi waktu tidak mungkin diulang kembali, jadi nikmatilah Cikarang yang penuh polusi dan kubikel kantormu, Mir.



Postingan yang dibuat karena malas sekali bekerja di H min beberapa hari menuju liburan.

Pulau Kelor yang Selebar Daun Kelor

Akhir pekan ingin refreshing tapi bosan dengan hiburan khas Jakarta (baca : mall)? Mungkin Kepulauan Seribu adalah jawabannya. Tidak punya waktu banyak untuk menginap? Tidak masalah. Karena ada pulau yang jaraknya lumayan dekat sehingga perjalanan pulang dan pergi bisa dilakukan di hari yang sama.

Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust adalah tiga buah pulau yang akan kami datangi akhir pekan yang lalu. Perjalanan impulsif ini berawal dari promosi dari sebuah agen perjalanan yang menawarkan harga paket tur hanya 89 ribu rupiah saja untuk perjalanan ke tiga pulau ini. Angka yang cukup murah, mengingat terkadang jika kita main ke mall, angka yang dihabiskan bisa berkali-kali lipat dari itu. Pulau Kelor mungkin cukup familiar bagi yang sering melakukan perjalanan ke pulau di Kepulauan Seribu, misal Pulau Tidung atau Harapan, karena Pulau Kelor ini selalu kita lewati. Ingat sebuah pulau mini dengan benteng dari bata merah? Pulau Kelor that is, yang belakangan jadi terkenal karena salah satu artis ibukota yang melangsungkan pernikahannya di sana.Di pulau tersebut ada Benteng Martello yang menjadi tempat untuk memantau kapal-kapal yang akan melipir ke Jakarta. Pulau Cipir merupakan pulau yang dulunya berisi rumah sakit yang diperuntukkan untuk para jama'ah haji Indonesia. Karena di seberangnya, di Pulau Onrust, dulunya merupakan asrama haji untuk para jama'ah dari Jakarta. Jaman dulu sekali deh itu, saat kakek-kakek buyut kita pergi ke arab dengan menaiki kapal selama berbulan-bulan. Sekarang, Pulau Cipir dan Onrust dijadikan situs sejarah yang- yaah namanya juga Indonesia - sayang sekali kurang terawat.

Muara Kamal, tempat kapal yang akan kami tumpangi parkir. Karena ini perkampungan nelayan jadi yaa sangat kotor dan becek!
Lagi nangkep ikan katanya
Sekitar 20 menit berlayar, Pulau Kelor sudah di depan mata.
Baru nyadar gak ada motret benteng sama sekali kecuali yang ada 'model'nya. Haha.
Instagram-able
Dermaga di Pulau Kelor yang dibagusin gara-gara pernikahan artis ibuota.
Lihat Jakarta dari kejauhan?
Benteng Martello - ramai! Banyak yang niat banget photosession. Kita ga mau kalah. Haha.

Well, jangan mengharapkan pulau yang wah, yang bersih dengan pasir putih dan bebas sampah. Buang jauh-jauh ekspektasi itu. Walaupun begitu, merasakan sinar matahari dan menghirup udara segar setidaknya menurut saya masih jauh lebih baik dibandingkan dengan olahraga di mall. 

Berwisata di Jakarta

Minggu kemarin saya reunian three musketeers bersama Hardo dan juga Wira. Ini bukan nama gank, tapi julukan yang dulu diberikan kepada kami karena dulu kalau ada acara di PhotoST (komunitas fotografi di kampus), pasti ujung-ujungnya yang dateng ya kami-kami juga. Masa suram, karena sekarang PhotoST sudah ramai.

Tujuan awalnya sih pengen tur museum di Jakarta yang sebenarnya banyak banget, tapi kalah pamornya sama mall-mall yang lebih banyak jumlahnya. Pada akhirnya? Museum yang dikunjungi cuma satu : Museum Gajah yang kemarin baru kemalingan. Haha. Sisanya lebih ke wisata kuliner dan nyasar gara-gara Google Maps. Meh.

Monumen di depan Museum Nasional yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Gajah.




Nyasar dan akhirnya nyerah dan bertanya kepada bapak tukang parkir yang ternyata jauh lebih handal dibanding Google Maps.

Ada bule yang ngintip dari dalem :D

I love this signage.

Coffee Bar in Tjikini


The famous gado-gado Bonbin, yang bakal ada di nomer satu hasil pencarian Google dengan keyword "Kuliner Jakarta". Enak! Tapi overpriced.


Numpang sholat di Istiqlal

Yang berakhir dengan leyeh-leyeh di pelataran masjid menikmati cahaya yang stunning seperti ini. BTW, itu orang sholat beneran loh.


Katedral di depan Istiqlal. Someday harus masuk ke sini.

Sarinah, tumben sepi.


Akhir pekan yang menyenangkan. All photos were taken by Ricoh GR, my new baby. Dapat ilmu yang banyak juga soal si Ricoh (yang sebenernya mah ada semua di manual book cuma emang dasar males baca) dari Wira. I'm in love deeply with this camera, and will share about this later :)