Showing posts with label Raja Ampat. Show all posts
Showing posts with label Raja Ampat. Show all posts

Diving in Raja Ampat? Checked.

Selalu ada 'saat pertama' dalam melakukan sesuatu. Pertama kali naik pesawat, pertama kali menonton bioskop, pertama kali wawancara pekerjaan, atau pertama kali yang lainnya. Saya pernah membahas hal tersebut di sini. Nah, kalau saya ditanya sekarang "Mira, when was the last time you did something for the last time?", maka saya akan menjawab : "beberapa minggu yang lalu saya untuk pertama kalinya diving".

Sore itu kami sampai di Waiwo Dive Resort, tempat di mana kami akan menginap selama beberapa hari di Raja Ampat. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah 4 waktu Indonesia bagian Timur dan kami diberikan waktu bebas. Bisa dipergunakan untuk sekedar leyeh-leyeh di pantai, snorkeling atau diving di depan resort. Ya namanya saja sudah Dive Resort, jalan sedikit ke tengah pantai depan resort, kita akan menemukan karang dan ikan yang berwarna warni. Tadinya saya memutuskan untuk snorkeling saja, karena mikir udah kesorean, mahal (diving ini biayanya ngga ditanggung sama panitia acara, hiks), dan yang paling terutama : SAYA TAKUT. haha.

Oke, saya suka snorkeling. Oke, alam bawah laut itu sangat indah. Tapi ide untuk menyelam ke bawah laut dan menggantungkan hidup kepada tabung oksigen itu menurut saya mengerikan. Jika ada satu hambatan besar yang membuat saya sampai sekarang susah buat lancar berenang adalah ketakutan akan kehabisan nafas. Haha ini konyol sih emang. Tapi biasanya ketika saya berenang dari ujung ke ujung di kolam berenang, saya suka berenti di tengah-tengah gara-gara tiba-tiba muncul rasa panik takut kehabisan nafas. Padahal mah ya tinggal naik ambil nafas juga beres, toh awal-awal udah bisa. Tapi ya gitu deh.

Tapi ketika melihat teman-teman yang lain sedang akan bersiap-siap memakai perlengkapan diving, dan yang paling penting ketika rasa gengsi saya yang setinggi puncak bukit di Wayag mulai timbul, maka saya segera mengambil langkah impulsif dan memutuskan untuk ikut. Another "what are you doing, Mir?" moment. Tapi setelah diyakinkan bahwa "hey it's alright, ini di depan resort kok. bukan di open water" dan make sure bahwa ada si guide yang janjinya sih bakal selalu menemani, saya pun sedikit tenang.

Saat sedang bersiap-siap memakai ini-itu perlengkapan menyelam, hujan turun dengan derasnya. Agak sedikit panik tapi si mas-mas guidenya cuma bilang "nyantai mbak, di dalam juga ntar basah", oke fine. Perasaan saat pertama kali dipakaikan peralatan menyelam : "gilak, aku kece gini lah". Beberapa saat kemudian : "edan berat banget". Hahaha.

Sebelum menenggelamkan diri, kami diberi beberapa pengarahan standar. Kayak fungsi tombol-tombol ajaib di rompi buat ngempesin dan ngisi pelampung, aba-aba di bawah air, cara equalisasi telinga, dsb. Wah kayaknya gampang nih, pikirku. Belum tau aja nanti di dalam kayak apa.

Latihan nafas pertama, kita disuruh duduk di dasar laut. Diem gak ngapa-ngapain, cuma belajar ngambil dan buang nafas. Oke lumayan gampang nih, pikirku lagi.

Blrrbb.. Blrrrbbb..
Beberapa detik kemudian.. Nubruk (fail)
Si mas-mas yang sangat bersemangat itu mulai mengajak saya ke tempat yang lebih dalam. Satu hal yang paling krusial didalam menyelam adalah equalisasi, dan saya lupa menerapkannya dan akibatnya telinga ini sakit luar biasa karena perubahan tekanan udara yang drastis. Langsung kasih aba-aba bahaya lalu saya langsung ke atas. Ini mas-masnya kesel kayanya karena saya naik-turun terus. Haha. Dan pada akhirnya karena bosen dimarahin saya pun berjuang dan akhirnya sukses aqualisasinya. Telingaku tak sakit lagi (pasang aba-aba oke di tangan). Hore.

Kedalaman 12 meter di bawah laut.

Sebenernya sih agak kecewa sama pemandangan di dalam sana. Karena baru habis hujan, jadi airnya agak keruh. Kata mas-masnya kalo lagi jernih dan nggak mendung, kita bakal bisa liat nudibranch. Bahkan travel-mate saya yang ikutan diving sempat ketemu penyu. Walaupun kurang beruntung, tapi yang saya lihat di bawah lumayan rame kok. Tapi tetep gak serame foto-foto underwater di google jika kita googling "raja ampat". Bahkan masih bagusan pas saya snorkeling di Menjangan. Yaiyalahya, ini cuma di depan resort. Kayaknya buat dapet yang benar-benar kece dan masih natural, harus nyelam di open water. Tapi denger-denger di Raja Ampat arus bawah lautnya agak mengerikan dan harus punya license dan minimal pernah nyelam 40x baru boleh nyelam di spot open-water.

Nemonya pasti lagi geli-gelian ke anemon. Hahaha. Agak shaky nih gambarnya
Saya dan si mas-mas menyelam hingga kedalaman 12 meter menurut alat pengukur kedalaman di rompi saya. So far so good, Sampai akhirnya rasa panik itu mulai menyerang lagi. Kali ini dipersembahkan oleh tenggorokan yang kering banget gara-gara susah menelan saliva. Akhirnya saya pun memutuskan untuk naik ke permukaan.

Dan the best momentnya adalah ketika saya muncul ke permukaan dan disambut oleh kedua pemandangan ini.

Matahari terbenam di sebelah Barat.
Pelangi yang sempurna di sisi yang berlawanan. Timur berarti ya?
Wira, leha-leha sambil motret langit yang ciamik.
Terimakasih banyak buat Rina atas pinjaman kamera underwaternya yang berguna sekali. maaf dibawa ke 12 meter padahal batas maksimalnya 10 meter. Hahaha. Dan diving in Raja Ampat pun sekarang sudah resmi dicentang dari bucket list. Semoga bakal ada pengalaman kedua, ketiga dan seterusnya :D

Kampung Sawinggrai

Waktu belum lagi menunjukkan pukul 6 pagi ketika kapal kami merapat di dermaga Sawinggrai. Tidak banyak bicara karena masih melawan kantuk, kami semua segera berjalan dari dermaga menuju kampung Sawinggrai di mana sudah ada beberapa orang yang menunggu sambil membawa senter. Kampung Sawinggrai adalah tempat di mana kita bisa melihat burung kebanggaan masyarakat Papua, burung Cendrawasih, terbang bebas. The bird of Paradise ini sekarang sudah cukup langka dan merupakan salah satu spesies yang hampir punah.

Burung Cendrawasih hanya bisa dilihat di jam-jam tertentu. Yaitu jam 6-7 pagi dan 4-5 sore. Barulah saya mengerti kenapa saya dibangunkan sepagi itu hanya untuk melihat burung. Untuk menuju tempat kongkow si Cendrawasih, memakan waktu sekitar setengah jam untuk trekking menuju dalam hutan. Untuk urusan trekking, jelas ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan trekking ke puncak Wayag sebelumnya. Hanya saja rasa lelah yang belum hilang sepenuhnya dan juga rasa pegal luar biasa di bagian paha membuat saya dan beberapa teman sering mengeluh ketika menemukan tanjakan yang sebenarnya tidak ada apa-apanya.

Di tengah hutan sudah dibangun semacam pondokan sederhana dari kayu yang letaknya persis di bawah sebuah pohon. Pohon itu konon menjadi tempat kongkow favorit si Cendrawasih. Pondokan diletakkan sedemikian rupa hingga kami bisa melihat si Cendrawasih dengan leluasa. Tidak lama menunggu, terdengar kicau merdu dan si sosok merah gagah pun muncul di pohon tersebut. Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang si Cendrawasih, dan tidak ada pula foto sosoknya (ada sih, tapi masih di Wira soalnya saya ngga bawa lensa tele dan motret pake lensa 28 mm rasanya sangat tidak berguna). Setelah puas kami pun segera kembali ke kampung Sawinggrai.

Kampung Sawinggrai yang tadinya sepi karena masih gelap, sekarang sudah mulai ramai. Banyak anak-anak kecil yang sedang bermain. "Sinyo hitam, giginya putih.. Kalau tertawa manis sekali.." mungkin sangat pas menggambarkan anak-anak Papua. Hitam manis, dengan gigi yang putih dan berderet rapi ketika mereka tersenyum. Bulu matanya yang sangat lentik dan pasti bikin Syahrini iri membuat pandangan mereka terlihat sangat jenaka.

Ketika sedang asyik memandang sekitar, saya melihat seorang anak yang menenteng plastik kresek berisi susu kental manis dan memberikannya kepada ibunya. "Bu, di sini ada warung?", tanya saya kaget karena melihat peradaban yang tidak saya temui di Wayag, haha. "Ada, di sebelah sana." si ibu menunjuk ke suatu arah. "Oh, di sana ya bu, makasih." Saya baru saja hendak beranjak ketika si ibu menyuruh anak perempuannya mengantarkan saya ke warung tersebut. Helda namanya, kelas 2 SD di SD kampung sebelah. Ketika saya tanya kenapa hari ini gak sekolah, dia cuma nyengir. Dasaar.


Warung di kampung Sawinggrai menjual air mineral ukuran 1,5 liter seharga 12 ribu. Lebih mahal daripada harga satu liter bensin. Ya ngga  begitu kaget juga sih mengingat sejauh apa perjuangan sebotol air mineral tersebut untuk sampai ke kampung itu. Di warung saya bertemu seorang anak yang manis sekali bernama Ester. Ester ini masih TK dan kerjaannya ketawa terus. Jadi penasaran, apakah saya selucu itu? Haha ge er. Dan lama kelamaan jadi banyak anak-anak kecil yang menghampiri saya dengan tampang curious.



Selain anak-anak perempuan, ada juga beberapa bocah lelaki yang sedang bermain. Saat saya tanya lagi ngapain, katanya lagi bikin mobil-mobilan. Saya tanya lagi siapa yang ngajarin, katanya bikin sendiri. Hebat. Saya bilang "nanti kalau sudah besar jadi insinyur ya, biar bisa bikin mobil beneran". Aduh sedih ya kalau dibandingin sama anak-anak di kota besar yang mainannya udah Blackberry semua.

 
Matahari sudah semakin meninggi dan saya harus segera meninggalkan kampung Sawinggrai karena harus segera kembali ke Sorong. Ah, pagi hari itu sungguh menyenangkan, bertemu burung Cendrawasih dan juga bertemu anak-anak kampung Sawinggrai dengan segala kesederhanaannya :)

Wayag - Dangerously Beautiful

"Belum ke Raja Ampat kalo belum ke Wayag. Jauh pisan. Tapi mun ke sana mah terbayar da", kata akang-akang di resort tempat saya menginap yang ternyata adalah orang Cibereum, Bandung. Sempat kaget saat sedang asik leyeh-leyeh ngapung di laut sehabis diving menikmati senja, tiba-tiba ada orang yang ngajakin saya ngomong pake bahasa Sunda gara-gara dia denger saya dan Wira ngomong pake aing-maneh (haha ketauan orang Dayeuh Kolot). Dan belakangan saya baru tau kalo manajer resortnya juga orang Bandung. Haduh, jauh-jauh ke Papua ketemunya orang Sunda juga. Pas saya tanya jawabannya cuma "iya nih kemarin sih lagi main di Pangandaran, tau tiba-tiba hanyut sampai ke sini". Oke, tips murah ke Raja Ampat : mulailah dari Pangandaran. 

Memang benar jika ada orang yang berkata bahwa belum ke Raja Ampat jika belum ke Wayag. Karena Wayag sendiri jaraknya sangat jauh dari Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat yang ternyata besaaar sekali ruang lingkupnya. Memakan waktu sekitar 6 jam perjalanan dengan kapal motor dari Waisai yang terletak di pulau Waigeo, pulau terbesar di kabupaten Raja Ampat. Waiwo Dive Resort, tempat saya menginap juga terletak di pulau Waigeo. Dan ketika saya sampai di sana, saya langsung membatin "mana Raja Ampatnya nih?" Haha. Karena belum menemui pemandangan khas ala gambar-gambar di google berupa laut hijau toska dengan bukit-bukit karst yang menjulang.

Frankly said, I'm a lucky bastard! Haha. Gimana engga, karena ternyata tour gratisan ini juga mencakup perjalanan ke Wayag. Saya sempat iseng melihat list harga tour yang ditawarkan Waiwo Dive Resort, dan agak tercengang saat tau harga sewa kapal dari Waiwo ke Wayag adalah seharga 10,5 juta. Itupun menggunakan kapal biasa yang membutuhkan waktu 6 jam. untungnya kapal yang disewa oleh panitia dari susu Hilo selama 3 hari yang setia mengantarkan kami kemana-mana adalah speedboat dengan mesin turbo. Perjalanan ke Wayag yang tadinya 6 jam bisa dipangkas jadi 3 jam saja. Saya udah gak paham lagi itu bayar kapalnya berapa duit.

Pemandangan pagi hari menuju Wayag

Pagi hari pukul setengah 7 waktu Indonesia bagian Timur, kami pun bertolak dari Waiwo menuju Wayag. Langit Papua benar-benar indah! Langitnya bersih tanpa polusi dan awannya menggumpal bagus seperti permen gula-gula kapas. Dalam perjalanan ke Wayag, kami melewati Teluk Kabui yang disebut sebagai miniatur Wayag. Oke, sudah mulai berasa Raja Ampat di sini. Namun berbeda dengan Wayag yang bukitnya lebih tinggi dan runcing, Teluk Kabui mempunyai bukit-bukit yang lebih rendah dan landai. Wajar saja jika disebut miniatur. Kapal kami pun melaju melewati bukit-bukit seakan melewati sebuah labirin di tengah lautan meninggalkan Teluk Kabui untuk menuju Wayag yang sesungguhnya.

Saya di Teluk Kabui.

Wayag merupakan salah satu daerah konservasi terumbu karang. Oleh karena itu setiap kapal yang ke sana harus ekstra hati-hati, terutama saat melewati perairan yang agak dangkal agar tidak merusak karang.

Untuk memasuki kawasan Wayag, setiap orang wajib membeli entrance pin seharga 250 ribu untuk turis lokal dengan masa berlaku setahun. Setahun di sini maksudnya bukan setahun dari tanggal pembelian. Akan tetapi pihak pemerintah Kabupaten Raja Ampat mengeluarkan entrance pin itu setiap tahunnya, dengan periode Januari - Januari. Jadilah pin saya yang dibeli di bulan Desember 2012 hanya berlaku hingga Januari 2013. Haha agak sedih tapi yaudahlah ga mungkin bisa balik kesitu juga kalau pakai duit sendiri :P

Melipir ke sini dulu sebelum bisa masuk ke Wayag.

Setelah melapor di pos jaga di pintu masuk Wayag dengan menunjukkan entrance pin, tibalah kami di kepulauan Wayag. Ini baru Raja Ampat! Dengan bukit-bukit kecil yang menjulan tinggi runcing dan lautan yang biru jernih. Tuhan memang Maha Canggih. Kamera secanggih apapun yang diciptakan oleh manusia memang tidak akan bisa mengalahkan kamera paling canggih di semesta, yaitu kedua mata ini. Menikmati pemandangan dari bawah belum cukup katanya. Untuk mendapatkan pemandangan yang lebih indah lagi, kita harus menaiki salah satu bukit di sana.

Awalnya saya pikir medan yang ditempuh adalah trekking biasa. Akan tetapi kapal kemudian semakin merapat dan hampir menubruk bukit didepannya. Perlahan awak kapal mulai mengeluarkan tali lalu menambatkan kapal di salah satu pohon terdekat. Didepan mata sudah terlihat bebatuan kapur yang harus dipanjat. Dafuq.

Kapal merapat, tidak ada tepian yang landai jadi harus langsung memanjat ke atas. Bukitnya jadi terlihat agak landai gara-gara efek lensa 14 mm. Foto © Wira Nurmansyah

Wayag, dangerously beautiful. Literally dangerous. Bayangkan memanjat bebatuan kapur tanpa pengaman apapun dengan kemiringan bisa mencapai hampir 90 derajat dan jika salah-salah berpijak ada air laut yang biru siap menampung kita. Saya yang olahraga paling banter cuma berenang sekali seminggu dengan cepat langsung kekurangan stamina. Belum lagi matahari yang terik membuat bebatuan menjadi sangat panas dan sangat menyakitkan jika harus memegangnya dengan tangan telanjang. Beruntung sekali saat itu saya memakai sendal gunung yang ternyata sangat membantu.

Sedikit tips melakukan perjalanan ke Wayag :
  1. Bawalah topi atau apapun untuk melindungi kepala. Matahari jumlahnya ada 9 di sana!
  2. Bawa jaket, manset atau apapun untuk melindungi lengan. Dan kenakan celana panjang ketika hendak memanjat bukit di Wayag. Saya memakai celana pendek dan itu adalah kesalahan besar.
  3. Pakailah sepatu, minimal sendal gunung. Travel mate saya yang menggunakan sendal jepit sangat tersiksa dan pada akhirnya sendal jepitnya menjadi hancur tak berbentuk.
  4. Sarung tangan sangat membantu untuk melindungi tangan dari panas bebatuan dan pohon-pohon yang kebanyakan berduri.
  5. Sunblock, jika tidak ingin kulit terbakar

Aslinya jauh-jauh lebih indah.

Panorama fail yang dibuat dengan kondisi tangan gemetaran. Masih layak pajanglah kalau ukurannya kecil :P

Selama memanjat ke atas saya tak henti-hentinya berpikir "What am I doing here??" dan terus bertanya kepada guide, "mas ini ntar turunnya gimana?" dan sedikit berdoa semoga ada jalan turun yang lebih manusiawi. Dan jawabannya "ya ntar jalan mundur mba turunnya. merayap", sukses membuat saya agak malas melanjutkan perjalanan ke atas.
 
Bukti udah nyampe atas. 
Sesampainya di atas? Subhanallah, bukan main rasanya. Semua effort yang dikeluarkan saat memanjat terbayar lunas! Walaupun di atas saya gemetaran bukan main karena takut ketinggian, tapi pemandangannya terlalu sayang untuk dilewatkan. Saya tidak banyak memotret di atas. Juga tidak banyak difoto dan semua foto saya yang di atas mukanya tegang semua dengan senyum maksa. Hahaha. Saya lebih banyak duduk meredakan degup jantung yang sangat kencang dan merasakan keringat yang tak henti-hentinya mengalir sambil menikmati pemandangan. Salah satu pemandangan terbaik yang pernah saya lihat. Picture sure will explain more. Tapi kalau mau lihat foto Wayag yang lebih spektakular, mungkin bisa di lihat di blog teman saya yang foto-fotonya sering bikin saya minder. Bisa dilihat di sini.

Perjalanan turun ternyata benar lebih menegangkan. Akan tetapi saya sukses pada akhirnya sampai di kapal dengan selamat. Rasanya lega tak terkira ketika menjejakkan kembali kaki ini ke kapal. Salah satu yang sering tanpa sadar saya lakukan ketika bepergian adalah menaklukkan ketakutan saya sendiri dan pada akhirnya berhasil lebih memahami diri saya sendiri.

Letak Wayag yang sangat jauh dan betapa sulitnya perjuangan yang diperlukan untuk melihat pemandangannya mungkin menjadikan keindahan Wayag menjadi tidak ternilai harganya. Alam di sana yang masih benar-benar alami dan sangat terjaga karena jarang dijamah termasuk sulit ditemui di Indonesia yang kebanyakan sudah tercemar oleh tangan-tangan manusia yang usil. Semoga Wayag tetap lestari, dan tetap indah senantiasa.

Mejeng gapapalah ya, blog saya ini. Haha. 

Setelah lelah memanjat, kapal kami merapat di pantai berpasir putih yang indah sekali. Makan siang terasa sangat nikmat ketika disuguhi pemandangan seindah itu. Kami beristirahat sejenak karena setelahnya kami akan menuju Manta Point di Arborek untuk melihat Pari Manta. Berhubung postingan ini udah kepanjangan, jadi more on that later... :D

Panorama Pantai Wayag, agak fail. Difoto menggunakan kamera ponsel saya.

Raja Ampat - Prolog

Tuhan menciptakan bumi Indonesia dengan sangat indah dan hati-hati. Sentuhan tangannya yang Maha Indah bisa dilihat di setiap sudut Indonesia dengan beribu-ribu pulaunya yang eksotis. Raja Ampat salah satunya. Kepulauan di bumi Papua ini disebut-sebut sebagai Last Paradise on Earth. Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi setelah menjejakkan kaki ini di sana dan menyaksikan sendiri indahnya dengan mata kepala sendiri, saya, Mira Afianti, menyatakan setuju dengan pernyataan tersebut.

Memijakkan kaki di Raja Ampat pada awalnya mungkin hanyalah sebuah mimpi. Mahalnya ongkos pesawat untuk terbang ke Papua mungkin bisa diakali dengan berburu tiket murah. Akan tetapi akses menuju Raja Ampat itu sendiri yang merupakan suatu tantangan. Bensin yang tergolong langka di Papua membuat harganya melambung dan berdampak pada biaya sewa kapal yang sangat mahal. Quick Fact : untuk menuju kepulauan wayag (ya, bukit-bukit indah yang muncul pertama kali ketika kita mengetikkan keyword 'raja ampat' di google) membutuhkan biaya minimal 8 juta untuk sewa kapalnya. Maka mimpi hanyalah tinggal mimpi, tapi itu dulu.

Adalah seorang teman saya yang bernama Wira Nurmansyah. Dia adalah teman sepermainan saya di masa kuliah karena sama-sama bergabung di PhotoST - komunitas fotografi kampus. Saya menyebutnya jurig lomba, karena entah lomba manapun yang berbau fotografi atau menulis, pasti dia menjadi juaranya. Bahkan seminggu sebelum ke Raja Ampat wira baru saja pulang dari Wakatobi, mengemban misi sebagai agen idTravellers, dan menang! Entah dewi fortuna mana yang mengikutinya. Sampai saya curiga Wira ini pakai susuk atau minimal pelihara tuyul. Haha, ga enak banget ya ini perkenalan tentang Wira.

Jadi intinya, suatu hari di akhir September, di mobil dalam perjalanan pulang dari Braga Festival di Bandung, ada saya, Hardo, Wira, dan Pojan - adik saya yang menyetir hari itu. Hardo berkata "Mir, si Wira mau ke Raja Ampat lah". Wah saat itu saya langsung berontak gak terima trus langsung minta diturunin di jalan (haha drama). Tapi yaudahlah dalam hati cuma mikir "tunggu pembalasanku, Wir". Padahal mau bales dendam apa juga, ikut lomba males soalnya ga pernah menang, duit ga punya. Fail. Sampai pada akhirnya besok paginya ada sms "mir, mau ikut ke raja ampat ga? ternyata pemenangnya boleh bawa temen". Oke, itu saya langsung bangun dari tidur dan konfirmasi ke Wira. Ini gak segampang itu sih sebenernya ngajaknya, ada sedikit kongkalikong sama si Wira sebelumnya. Setelah minta izin ke Mama dan Papa yang untungnya agak kooperatif sama anaknya yang gak bisa diem ini, walaupun agak shock dulu kok ujug-ujug saya minta izin ke Papua, akhirnya deal, saya akan ke Raja Ampat!

Halo, Sorong!

Wayag - a teaser.


Perjalanan 4 hari 3 malam ke Raja Ampat benar-benar luar biasa. Dari mulai pengalaman pertama diving, rock climbing demi melihat pemandangan surga, mengejar pari Mantarai, hingga trekking pagi buta demi melihat cendrawasih, banyak cerita dari Timur Indonesia, tapi more on that later, biar seru :D