Showing posts with label Asia. Show all posts
Showing posts with label Asia. Show all posts

Shirakawa-go : Buah dari Over Ekspektasi


Shirakawa-go udah lama banget ada di bucket list saya. Awalnya, saya tau Shirakawa-go waktu ngeliat foto salah satu teman saya yang sedang kuliah di Jepang. Fotonya menunjukkan suasana musim dingin di sebuah desa; hamparan rumah-rumah tradisional yang berselimut salju tebal dengan lampu temaram yang menyala hangat. Serene dan dreamy sekali. Saya langsung bertekad akan berkunjung ke sana jika suatu hari nanti kembali ke Jepang. 

Bersepeda Mengelilingi Taipei


Saat pertama kali sampai di Taipei, hal yang sangat menarik perhatian saya adalah banyaknya sepeda berwarna oranye berjejer sepanjang jalanan, mirip dengan London dengan sepeda Santander-nya. Ketika berjalan dengan Guan dan Debby, mereka menjelaskan kalau sepeda-sepeda lucu itu bernama YouBike, yang bisa disewa dan dikembalikan di tempat berbeda. Saya dan Junda yang tidak punya banyak kesempatan untuk bersepeda di Jakarta tentunya langsung semangat dan merencanakan untuk bersepeda di seputar Taipei, berhubung kotanya sendiri sangat bike-friendly.

Takayama

Setelah berjalan jauh dari Magome ke Tsumago, kami melanjutkan perjalanan menuju Takayama. Rencananya kami akan naik kereta lokal dari Nakatsugawa station, yang memakan waktu sekitar 3 jam. Menurut perkiraan, kami akan tiba di Takayama sekitar pukul 10 malam. Tapi realita berkata lain; saat itu ternyata kami ketinggalan kereta! Padahal, kami sudah ada di stasiun dan menunggu di peron yang benar. Namun ternyata, kereta ada di peron seberang. Padahal saya dan Junda sempat bercanda kenapa kereta di peron seberang itu tidak jalan-jalan. Setelah menerima kenyataan yang pahit dengan lapang dada, mau gak mau kami harus naik kereta berikutnya. Akibatnya, hampir tengah malam kami baru sampai di Takayama.

Snowy Takayama

Berburu Ayam Krispi, Tahu Busuk, dan Berbagai Makanan Lainnya di Taipei Night Market

Taiwan adalah negara yang sangat identik dengan night market. Mungkin sama kayak Jakarta dengan macetnya. Night market biasanya berupa jalan raya yang disulap menjadi pasar berisi stall makanan atau souvenir, dan beroperasi setiap hari dari mulai sore tiba hingga larut malam. Taiwan lumayan terkenal dengan streetfood-nya. Jadi, night market adalah one-stop-solution buat kamu yang mau icip-icip berbagai makanan khas Taiwan. Pokoknya intinya, do not ever ever ever go to Taiwan without visiting the night market! Gak cuma untuk turis, tapi orang lokal sendiri memang suka sekali pergi ke night market untuk makan dan hangout

Saya sebenarnya bukanlah orang yang terlalu adventurous kalau soal makanan. Apalagi makanan-makanan di luar negeri yang biasanya rasanya kurang cocok sama lidah saya yang medok Indonesia. Jadinya, pasar malam penuh makanan tidak terlalu membuat saya excited... sampai akhirnya saya ingat kalau Shihlin, ayam krispi bermicin yang terkenal di Indonesia itu adalah salah satu street food asli dari Taiwan. Dan ternyata, Shihlin sendiri diambil dari nama Shihlin Night Market, salah satu night market paling terkenal di Taipei. Selain Shihlin Night Market, ada banyak sekali night market lainnya. Sampai-sampai kita bisa saja pergi ke night market yang berbeda setiap harinya.  

Taipei: di Mana Hutan dan Kota Hidup Berdampingan


Hari itu hari Sabtu. Saya dan Junda berencana akan bertemu Guan, teman kuliah Junda saat di London, dan juga Debby (istrinya Guan) di stasiun MRT Wanfang Hospital yang dekat dengan AirBnb kami. Debby dan Guan akan mengantarkan kami berkeliling Taipei. Senang sekali rasanya jalan-jalan di kota baru dengan guide lokal asli.

Setelah pertemuan yang kurang dramatis (Junda dan Guan terakhir bertemu 2 tahunan yang lalu, so I expect some tears or hugs at least) di stasiun, bergegas lah kami ke tujuan pertama; Maokong.

Jepang, Kali Kedua : Itinerary!

Disclaimer : super-duper long post ahead! Brace yourself!

Saat berkunjung ke Jepang di 2014 yang silam, saya bertekad di dalam hati untuk kembali lagi ke negara ini suatu hari nanti. Pas bilang ke Junda, dia juga setuju untuk balik lagi ke Jepang. Makanya, setelah memutuskan untuk meniqa, kami jadi giat menabung uang, jatah cuti, dan mencari tiket promo ke Jepang untuk jalan-jalan berdua. Kami juga bertekad kalau perjalanan ini harus lama durasinya, memaksimalkan jatah berkunjung di visa single entry Jepang yaitu selama 15 hari. 

Long story short, di bulan Agustus, kami berhasil mengamankan tiket penerbangan langsung AirAsia Jakarta - Narita dengan harga yang murah. Wah, rencana terlihat cukup mulus. Tapi tunggu dulu. Beberapa minggu kemudian, kami mendapatkan kabar kalau rute tersebut dihilangkan oleh pihak AirAsia karena satu dan lain hal, dan kami dihadapkan dengan pilihan untuk refund uang atau mengubah rute terbang. Tentu saja kami pilih yang kedua, dengan penuh jerih payah karena customer service AirAsia sepertinya dihajar banyak komplain saat itu. Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya confirmed lah tiket Jakarta - Narita kami yang baru, via Bangkok.

Magical Jiufen


Setelah puas hujan-hujanan menguntit kucing-kucing di Houtong Cat Village, saya dan Junda melanjutkan perjalanan ke Jiufen, tempat di mana kami akan bermalam. Dari Houtong, kami naik kereta menuju Ruifeng, lalu lanjut naik bus hingga ke Jiufen. Halte bus cukup ramai sore itu, untung saja semua orang bisa terangkut di dalam bus, walaupun harus berdiri berdesak-desakan. Sialnya, rute dari Ruifeng menuju Jiufen adalah jalan menanjak penuh tikungan, karena posisi Jiufen yang ada di atas gunung. Ditambah lagi dengan kecepatan mengemudi sang supir yang kayaknya tidak terlalu takut akan maut, kami semua sukses terombang-ambing di dalam bus.

Houtong Cat Village : A Truly Purradise!



Saat sedang riset kilat sebelum ke Taiwan, saya menemukan sebuah desa bernama Houtong yang sukses membuat saya merubah rencana perjalanan, tanpa pikir panjang. Houtong adalah sebuah desa kecil berjarak 35km di Utara kota Taipei. Ini bukan desa yang biasa-biasa saja, karena ini adalah desa kucing!

Taiwan: Bubble Drink Madness!

Tasting bubble drink is one of the main reason for me and Mira to visit Taiwan. Many reputable bubble drink shops in Indonesia are originated from Taiwan, which made us eager to taste them in their home turf.

As soon as we got out of the airport, we realized how shortsighted that goal of us, indeed. It was hard to turn a road in Taipei without finding a bubble drink store from many different brands, a lot of which can’t be found in Indonesia. Not to mention, we observe that everybody on the road seems to hold some kind of milk tea or bubble drink instead of a cup of coffee. Knowing that, we immediately switch our goal into tasting as many brands as we could during our stay, preferably those that can’t be found in Indonesia.

Bubble drink everywhere! They even have a customized bubble drink cup holder, so it could be easily carried everywhere.

By the time we got back home, we’ve tried 7 different bubble drink brands in our 4 days there. Quite an achievement, isn't it? Therefore, in this occasion I’m going to list 5 brands that we liked the most, sorted ascendingly.

Kenapa Kamu Harus ke Taiwan?

Setelah satu tahun lamanya gak jalan-jalan, akhirnya saya jalan-jalan lagiiiii~ Kali ini berdua bersama Junda, yang kayaknya akan jadi partner tetap jalan-jalan seterusnya. Hehe.

Sebenernya karena super duper bokek setelah meniqa kemarin, kami memutuskan untuk menunda dulu jalan-jalan (biasanya orang menyebut hanimun tapi sebutan tersebut rasanya kurang cocok untuk saya yang selalu membayangkan kalau hanimun itu identik dengan kasur dan kelopak bunga mawar yang dibentuk hati - hahaha). Selain karena uangnya belum cukup, saya juga inginnya menimbun cuti dulu agar bisa liburan yang agak lamaan sedikit. Tapi beberapa minggu menjelang meniqa, kami baru tau kalau wedding gift dari kantor Junda ternyata berbentuk tiket 'hanimun' gratis. Budgetnya gak terlalu banyak untuk jalan-jalan fancy ke UK atau Europe sih, tapi lumayan banyak juga kalau cuma dihabiskan untuk sekedar ke Bali.

Setelah menimbang beberapa hal, akhirnya kami putuskan untuk ke.. Taiwan!

Hey, Singapore!


Believe it or not, saya belum pernah ke Singapura! Seenggaknya sampai beberapa waktu yang lalu. Pernah sih transit di Changi, tapi gak bisa diitung ke Singapura juga soalnya cuma di bandara doang muter-muter nunggu jadwal terbang berikutnya. Entah kenapa saya kayak nggak pernah punya motivasi gitu untuk ke negara dengan lambang makhluk mutan kombinasi singa dan duyung ini. Karena yang tertanam di kepala saya dari cerita banyak orang, Singapura itu isinya cuma belanja barang branded dan Universal Studio. Haha. Karena saya nggak terlalu suka belanja barang branded (karena ngga ada duitnya) dan bukan penggemar amusement park, makanya Singapura selalu di-skip tiap menentukan tujuan liburan.

BooksActually


Sebagai orang yang sering nggak tau diri kalau beli buku (sebagian besar ditimbun, bacanya nanti-nanti kalau pas lagi mood), salah satu tempat favorit saya adalah toko buku. Pokoknya bikin saya senang itu gampang banget lah. Ajak aja masuk ke toko buku, trus tinggalin sampai saya (akhirnya) capek berdiri melototin cover buku atau baca sinopsisnya satu-satu dan galau mikir harus beli yang mana. Makanya setiap ada kesempatan berkunjung ke negara lain, saya hampir selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku.

Kemarin pas lagi ada urusan ke Singapore, saya langsung semangat pengen berkunjung ke BooksActually. Toko buku yang satu ini memang udah dari lama saya kepoin di instagram, soalnya toko ini ngejual buku-buku penulis indie dari Singapore gitu deh. Sebagian buku-bukunya mereka terbitkan sendiri di bawah label Math Paper Press. Saya penasaran banget Singaporean literature (sing-lit) itu kayak apa. Akhirnya dibelain deh ke sini pagi-pagi, padahal tempatnya agak nyempil gitu di kawasan pemukiman. Stasiun MRT terdekat itu Tiong Bahru. Dari sana tinggal jalan kaki sekitar 800 meteran gitu lah. Pas saya nyampe, pas banget tokonya baru dibuka.

Suatu Hari yang Mendung di Hoa Lu dan Tam Coc

Karena kunjungan kami yang super duper singkat di Hanoi, hanya 2 malam 1 hari, maka kami hanya punya 1 hari efektif yang bisa dipakai untuk berjalan-jalan. Banyak banget pilihan day-trip dari Hanoi. Ada yang ke Ha Long Bay, Hoa Lu - Tam Coc, Parfume Pagoda, wah banyak lah pokoknya. Kebanyakan turis hampir pasti akan memilih Ha Long Bay tanpa keraguan karena kayaknya "belum ke Hanoi kalo belum ke Ha Long Bay".


Tapi kalau cuma punya 1 hari dan harus memilih antara Ha Long Bay dan Hoa Lu - Tam Coc, jelas saya akan memilih Hoa Lu - Tam Coc. Kenapa? 

Pertemuan Kedua dengan Hanoi


Setelah bertualang sekitar 5 harian di Laos dari Vientiane di Selatan hingga Luang Prabang di Utara, perjalanan kami lanjutkan ke Hanoi, ibukota Vietnam, yang letaknya bertetanggaan dengan Laos. Hanoi ditambahkan ke rangkaian perjalanan kali ini karena waktu ngeliat peta, Luang Prabang dan Hanoi tampak sudah dekat, dan biar sekali mendayung dapet 2 negara gitu maksudnya. Awalnya kami pikir karena dekat, Luang Prabang dan Hanoi bisa ditempuh via jalur darat. Well, pada kenyataannya memang bisa sih, tapi waktu tempuhnya konon bisa sampai 30 jam dengan kondisi bus dan jalanan yang sangat nggak asik. Beberapa review malah bilang kalau bus Luang Prabang - Hanoi itu adalah "bus ride from hell" atau "nightmare journey of over 38 hours". Waduh.

10 Hal yang Bisa Kita Lakukan di Luang Prabang

*Warning : bandwith killer! Too much photos!

Jika berkunjung ke Laos, saya sangat merekomendasikan untuk menghabiskan waktu lebih di Luang Prabang. Karena kota yang letaknya agak di Utara ini merupakan tempat ter-favorit saya selama di sana. Sisihkan waktu setidaknya 2 hingga 3 hari untuk menjelajahi kota ini. 

Memangnya bisa ngapain aja sih di Luang Prabang?

Berikut 10 hal yang bisa dilakukan di Luang Prabang versi Mira Afianti.

Selalu ambil peta di resepsionis dan pinta mereka untuk menunjukkan tempat-tempat menarik di kota tersebut.

Alms Giving Ceremony, Luang Prabang


Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Buddha, salah satu hal yang menjadi daya tarik Laos adalah upacara pemberian sedekah (biasanya berupa makanan atau hadiah dalam bentuk lainnya) kepada biksu. Upacara ini sering disebut dengan Alms Giving Ceremony. Umumnya berlangsung di pagi buta, di saat-saat menuju terbitnya matahari. 

Di Vang Vieng, 2 hari berturut-turut kami melewatkan upacara ini dikarenakan susahnya untuk bangun pagi melawan gravitasi kasur yang lumayan posesif. Saat tiba di Luang Prabang kami langsung membulatkan tekad untuk bangun pagi demi menyaksikan tradisi yang sudah ada sejak dahulu kala ini.

Vang Vieng

Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, kami terpaksa turun dari van yang ternyata telah sampai di perhentian terakhirnya. Saya mengedarkan pandangan ke sekitar, ada lapangan luas dengan beberapa balon udara yang hendak bersiap-siap terbang. Di kejauhan kelihatan siluet bukit-bukit karst yang tampak seperti lukisan. Setelah perjalanan sejauh 158 km yang ditempuh dengan waktu 3 jam dari Vientiane, melewati jalanan yang rusak di sana sini dengan pemandangan desa-desa yang diselimuti debu, akhirnya kami tiba di Vang Vieng.

Singgah Super Kilat di Vientiane


Seperti yang sudah diceritakan secara singkat di postingan sebelumnya, kunjungan kami di ibukota Laos ini hanya sebentar saja. Penyebabnya saat browsing sebelum berangkat, objek wisata di seputar Vientiane tampak tidak terlalu menarik untuk kami. Kebanyakan kuil dan monumen-monumen gitu deh. Karena kami anaknya NakAl (nak alam) banget, bawaannya emang males ke kuil dan udah pengen cepet-cepet main air di Vang Vieng. Jadilah kami memutuskan untuk tidak menginap dan langsung berangkat ke Vang Vieng begitu sampai di Vientiane.

Sabaidee, Laos!

*) Sabaidee = hello!
Now you know how to greet people in Lao
--
Dulu sama sekali nggak tertarik untuk mengunjungi Laos. Mungkin karena namanya yang kurang populer jika dibandingkan tetangga-tetangganya seperti Thailand, Vietnam, atau bahkan Kamboja. Tapi karena kemarin lagi pengen liburan bareng house-mate (perasaan pengen liburan terus) yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya dan bingung menentukan destinasi yang belum pernah dikunjungi dengan biaya yang terjangkau, akhirnya tercetuslah Laos.

Patuxay Momument, Vientiane. 

Laos memang nggak punya pantai, tapi ternyata banyak sekali aktivitas asik yang bisa kita lakukan di sana. Setelah mengunjungi Laos, saya bisa dengan pede bilang kalau negara ini adalah negara tujuan favorit saya di Asia Tenggara sejauh ini (padahal ke Singapura dan Brunei belum pernah). Ini murni preferensi pribadi, karena Laos adalah surganya kegiatan outdoor yang  berbau alam! Meski semua negara-negara di Asia Tenggara yang pernah saya kunjungi selalu seru dan keren dengan cara yang berbeda, tapi entah kenapa perjalanan ke Laos kemarin ini rasanya paling berkesan. Salah satu faktornya mungkin karena perjalanannya ditemani teman-teman yang asik (cieee..)

Postingan ini akan membahas tentang gambaran umum perjalanan ke Laos kemarin.