Berburu Ayam Krispi, Tahu Busuk, dan Berbagai Makanan Lainnya di Taipei Night Market

Taiwan adalah negara yang sangat identik dengan night market. Mungkin sama kayak Jakarta dengan macetnya. Night market biasanya berupa jalan raya yang disulap menjadi pasar berisi stall makanan atau souvenir, dan beroperasi setiap hari dari mulai sore tiba hingga larut malam. Taiwan lumayan terkenal dengan streetfood-nya. Jadi, night market adalah one-stop-solution buat kamu yang mau icip-icip berbagai makanan khas Taiwan. Pokoknya intinya, do not ever ever ever go to Taiwan without visiting the night market! Gak cuma untuk turis, tapi orang lokal sendiri memang suka sekali pergi ke night market untuk makan dan hangout

Saya sebenarnya bukanlah orang yang terlalu adventurous kalau soal makanan. Apalagi makanan-makanan di luar negeri yang biasanya rasanya kurang cocok sama lidah saya yang medok Indonesia. Jadinya, pasar malam penuh makanan tidak terlalu membuat saya excited... sampai akhirnya saya ingat kalau Shihlin, ayam krispi bermicin yang terkenal di Indonesia itu adalah salah satu street food asli dari Taiwan. Dan ternyata, Shihlin sendiri diambil dari nama Shihlin Night Market, salah satu night market paling terkenal di Taipei. Selain Shihlin Night Market, ada banyak sekali night market lainnya. Sampai-sampai kita bisa saja pergi ke night market yang berbeda setiap harinya.  


Saat pertama kali sampai di Taipei, hari sudah larut. Begitu sampai di Airbnb, saya tidur dengan perasaan excited karena akan nyobain ayam krispi micin keesokan harinya.


Hari itu, saat jalan-jalan dengan Guan dan Debby, menuju sore mereka mengajak kami untuk mampir ke salah satu night market tertua di Taipei; Raohe St. Night Market. Dari pagi saya udah ngoceh terus ke Debby kalau saya pengen banget makan Ji Pai (bagaimana orang Taiwan menyebut crispy fried chicken), dan Debby berjanji untuk mengantarkan saya ke mamang-mamang yang jualan makanan ini di night market.  Yasss!

Begitu sampai di Raohe Night Market, ternyata sulit sekali untuk fokus ke Ji Pai, karena dari gerbang masuk saja udah terpampang jutaan street food lain yang bentuknya tidak kalah menarik dari Ji Pai. Saya yang waktu itu sudah sakaw Ji Pai saja bisa teralihkan oleh bentuk makanan-makanan lain itu. Postingan kali ini akan saya dedikasikan untuk berbagai street food yang saya dan Junda coba di Night Market yang kami datangi di Taiwan.

Devil Evolution, the best Ji Pai!

Debby dan Guan membawa kami menelusuri Raohe night market ketika hari belum terlalu malam, jadinya orang-orang baru mulai membereskan gerobak dagangan mereka. Kami berhenti di salah satu stall dengan nuansa yang dominan hitam dengan tema gotik. "Devil Evolution" tulisannya, dengan logo makhluk aneh bertanduk yang disinyalir sebagai the devil itself. Huuu seramm.


Jujur, saat itu saya agak kurang yakin dengan gerai ini. Selain karena tema dekorasinya yang kurang melambangkan kelezatan dan malah mengingatkan saya pada neraka, saya juga pernah baca kalau Ji Pai yang paling terkenal di Taiwan adalah Hotstar (mereka juga buka gerai di Indonesia). Tapi berhubung udah jauh-jauh dianterin, jadi lah saya pesan satu, yang pedes.

Melihat gambar yang terpampang di menu, terlihat kalau Ji Pai ini dagingnya lebih tebal dari yang biasanya dijual di Indonesia. Ini adalah awal mula keraguan saya, karena takutnya kalau dagingnya ketebelan, nanti pas di tengah jadi gak ada rasanya kayak dada ayamnya KFC. Trus takut kalo kering jadi susah dikunyahnya. Pas si abang-abangnya mulai bikin ayamnya, tambah lagi keraguan saya karena tepungnya tuh kayak tepung yang biasa aja, beda sama Shihlin di Indonesia yang bentuknya kayak bulir-bulir krispi. Dan hati ini makin sedih ketika melihat abangnya naburin bubuk (yang tadinya saya kira micin) cuma sedikit gituuu. Beda sama Shihlin yang biasanya ditaburin micin kayak mau bedakin bayi abis mandi sore-sore :(


Ji Pai pun datang. Besarnya sebesar muka saya, karena gak dipotong-potong kayak Shihlin. Masih panas mengebul, tapi saya coba gigit pelan-pelan.

Dan rasanyaaa......... MAU NANGIS.. ENAK BANGET YA TUHAN :(((((


Tepungnya krispi kriuk enak, dan ternyata bubuk yang ditaburin itu cuma bubuk cabe aja. Gak perlu micin banyak-banyak kayak Shihlin, karena Devil Evolution ini tepungnya sendiri udah berbumbu dan enak paraaah. Daging ayam tebal berwarna putih yang saya kira akan plain dan kering ternyata super juicy dan berbumbu bangetttt. Pasti udah di-marinade super lama dengan bumbu-bumbu ajaib. Saya langsung merasa berdosa udah suudzon sama Devil Evolution. Maaf ya, Devil :(

Love at the very first bite. Lihat dadanya setebal ituuu!

Ternyata enak juga makan dada ayam utuh tanpa dipotong-potong berhubung dagingnya masih juicy, jadinya gak capek ngunyahnya. Dan enaknya lagi, gorengannya terasa tidak terlalu berminyak. Setelah berantem rebutan sama Junda, habislah satu Ji Pai yang bikin saya sukses senyum-senyum keenakan.

Hotstar, the most famous but tastes so so.

Keesokan harinya, saya dan Junda bersepeda mengitari Taipei dan mengakhiri perjalanan kami di Shihlin Night Market. Saat itu, tujuan utama kami tetap berburu Ji Pai, tapi kali ini incaran kami berdua adalah Hotstar, one of the most famous brand di Taiwan.

Begitu sampai di Shihlin Night Market, kami langsung dengan mudah menemukan gerai Hotstar. It's really hard to miss, with its crowd and the long queues. Melihat antrian yang mengular, ekspektasi saya langsung naik ke langit. "Wah, pasti enak banget nih sampai antri begini," batin saya, mengingat kemarin di Devil Evolution tidak ada antrian sama sekali.

Junda sigap bergabung dengan antrian, sementara saya sibuk foto-foto. Ji Pai di sini lebih mirip dengan Shihlin yang di Indonesia, dari segi tepungnya yang lebih bertekstur dan warnanya yang lebih pucat. Tapi untuk micin yang ditaburkan tetap tidak seroyal versi Indonesia. Sepertinya generasi micin Indonesia memang benar adanya. Ukuran Ji Pai-nya mirip dengan Devil Evolution, dan juga disajikan as it is, tidak digunting-gunting.

Tidak beberapa lama, tibalah Ji Pai yang panas di tangan kami.



First bite... MEH!
Ekspektasi saya yang tadinya setinggi langit langsung jatuh ke tanah. Rasanya plain banget! Tepungnya oke krispinya, tapi rasa plain-nya gak tertolong. Masih jauh lebih enak Shihlin di Indonesia. 

Kami langsung sedih dan langsung kangen dengan Devil Evolution. Untungnya mestakung, semesta mendukung, gak jauh dari situ ternyata ada gerai Devil Evolution juga. Tanpa pikir panjang, saya dan Junda langsung beli Ji Pai lagi di sana. Dengan lahap kami langsung mengeksekusinya di depan stand, sampai-sampai ada orang yang nyamperin buat nanya di mana kami beli Ji Pai nya. Tampaknya saya dan Junda udah cocok jadi bintang iklan Devil Evolution :))

Mohon maaf nih, Hotstar. Kamu B aja.

Stinky Tofu, don't judge the food from its smell.

Dari awal Googling soal kuliner Taiwan, stinky tofu pasti masuk ke dalam list. Seperti yang udah disebutkan di atas, berhubung saya bukanlah orang yang adventurous urusan makanan, ditambah lagi hidung saya suka sensitif sama bebauan aneh, udah pasti deh si makanan ini saya blacklist.

Stinky tofu ini konon berbau busuk karena melalui proses fermentasi yang unik yang saya sendiri tidak terlalu paham. Waktu di Raohe St. Night Market, Debby dan Guan ngajakin kami untuk nemenin mereka makan stinky tofu, dan Junda langsung tertarik untuk ikutan nyobain. Saat lewat di depan gerai penjualnya, memang tercium bau kurang enak yang mirip dengan bau kentut, tapi sebenarnya baunya bukan yang bau-bau banget juga. Kita bisa pilih yang versi rebus dan goreng. Saat itu, Junda dan Guan pilih yang rebus.

Stinky tofu rebus

Nah ternyata, saat stinky tofu ini hadir di hadapan kita, baunya gak seburuk saat tercium dari kejauhan. Bahkan nyaris gak berbau sama sekali. Junda menyeruput suapan pertamanya, dan matanya terlihat berbinar. 

"Enak!", katanya.

Saya nggak percaya, tentu saja, dan tetap ogah untuk nyobain. Tapi berhubung Junda dan Guan terlihat lahap, akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba. Rasanya ternyata tidak seburuk yang saya kira. Baunya nyaris tidak berasa, dan rasanya yaa kayak rasa tahu, tapi agak sedikit berbeda.

Kerumunan orang yang makan stinky tofu dengan lahap.

Fried Milk -  yes, you read it right.

Di Shihlin Night Market, saya dan Junda sama-sama penasaran melihat tulisan 'Frying Milk' di salah satu gerobak yang dijaga oleh seorang mba-mba yang ramah dan ceria. Kami memutuskan untuk membeli satu agar tidak penasaran terbawa mimpi. Harganya hanya 20NTD, atau sekitar 9 ribu rupiah.



Ternyata, frying milk ini adalah susu yang sudah diproses sedemikian rupa hingga bentuknya mirip tahu, lalu digoreng dengan tepung. Rasanya unik dan lezat karena luarannya krispi namun dalamnya lumer di lidah. Enak sekali. 

Sebelum digoreng

Setelah digigit

Telur Gulung Melayang

Telur gulung ini sedikit berbeda dari telur gulung mamang-mamang yang biasanya mangkal di depan SD. Meskipun sama-sama berbahan dasar telur (well, you don't sayyyy), telur gulung Taiwan ini menggunakan berbagai macam isian fancy macam gurita atau ayam dan juga menggunakan impelementasi ilmu fisika yang cihuy. Hingga saat ini, saya belum berhasil menemukan penjelasan ilmiah tentang bagaimana cara membuat telur gulung ini melayang.

Bukan sulap bukan sihir!

Telur dikocok lalu dimasukkan ke dalam sebuah cetakan bersama dengan isian-isiannya. Lalu gak lama kemudian, telurnya muncul perlahan-lahan seperti melayang. Mejik! Meskipun sebenarnya rasanya ya biasa-biasa aja.


Winter Melon Milk Tea



Saya sudah pernah bahas ini di postingan berisi list boba drink yang kami coba di Taiwan. Meskipun minuman ini tidak ada bobanya, rasanya tetap membekas di hati. Rasanya manis dengan aroma yang khas. Ukuran gelasnya sedikit tidak lazim, karena (lagi-lagi) hampir sebesar kepala. Cukup banget untuk minum berdua sambil dibawa muter-muter Night Market sebagai penghilang dahaga setelah icip ini itu.

Belakangan ini, saya baru tahu kalau winter melon tea juga dijual di Indonesia dengan nama teh buah kundur. Bisa didapatkan di toko Teh 63 atau di e-commerce kesayangan kita semua. Saya dan Junda lagi suka banget bikin ini di rumah.


Pancake Kearifan Lokal Isi Custard Cream

Junda speaking here.

Kalau di Jepang, makanan ini namanya Obanyaki, tapi saya lupa nama Taiwan-nya. Karena Mira engga terlalu suka makanan manis, awalnya dia engga mau beli. Perlu berantem dulu untuk meyakinkan Mira untuk beli pancake ini. Setelah coba, sesuai dugaan saya rasanya enak. Mira akhirnya coba juga segigit, tapi dia tetap engga suka. Kalau kalian penggemar makanan manis seperti saya, sangat saya rekomendasikan mencoba pancake ini. Filling-nya bisa pilih antara custard cream atau red bean, saya sendiri coba yang custard. tekstur luarnya agak crunchy, tapi dalamnya lembut, enak banget.

Mau yang red-bean..

...atau custard cream?

Pancake ini saya cobanya ketika kami sedang di Jiufen, tapi harusnya di Night Market-nya Taipei juga ada ya. Atau kalau kalian lagi main-main ke Jepang, bisa coba juga di sana.

Junda out.


Dan banyak makanan yang lainnya~


Semacam cincau dengan sari jeruk nipis. Segar meskipun plain karena selain gak manis, rasa jeruknya juga tidak terlalu berasa.

Ibu-ibu yang jualan cincau

So pretty~ Makanan gak tau apaan yang ada di display.

Rebus-rebusan yang mirip dengan odeng

Grilled chicken with mozzarella, sudah tentu enaa~

Lupa, ini kepiting atau roti ya?

Grilled octopus, juga dengan mozzarella


Salah satu stall yang masuk ke Michelin guide.

Kayak bihun kuah gitu, tapi gak beli karena kelihatannya sih ada babinya

Daging ayam gulung (?)

Teh pare! Parenya gendut-gendut begituu.

Salah satu stall Ji Pai di Shihlin Night Market yang antriannya juga panjang banget, bahkan lebih panjang dari antrian Hotstar. Sepertinya ini Ji Pai yang sudah digoreng lalu dibakar lagi sambil dioles bumbu-bumbuan. Berhubung udah kenyang bego dan lelah, kami memutuskan untuk gak icip. Malas antrinya.

Sekarang ini, salah satu hal yang paling saya dan Junda kangenin dari Taiwan ya Night Market-nya. Seru aja ngelihat suasananya yang hidup, orang-orang yang ngobrol, dan aroma makanan di mana-mana.

PS: Big thanks to Bagas, yang udah dengan baik hati meminjamkan kamera dengan lensanya yang ciamik :D

4 comments

  1. Sungguh beruntung kau kisanaq punya suami yang bisa ikutan nulis di blog dengan baik, bahkan ada post yang Junda tulis sendiri kan? Mas Gepeng harus ketemu lah, biar terinspirasi hahaha. Aku kok gengges sama cincau jeruk nipis ya, kenapa jeruk nipisnya gak dibelah? Atau memang udah ada yg diperas bareng air cincaunya? Terus Mira bikin teh buah kundur di rumah pake susu? Gimandoseee bikin teh susu enaq ajarin aku!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, tp kalau Junda ikutan nulis, tulisannya jd lama beresnya. Si teh buah kundur itu jatohnya kayak gula merah yg harus dicairin gitu sih bentuknya. Trus nanti jadi kayak sirup. Bisa pake susu, bisa pake air aja. Aku di rumah sih biasanya kalau kundur sih jarang pake susu, karena susu biasanya diminumnya bareng kopi atau teh earl grey ajaa.

      Delete
  2. Ya ampun salah nih malem-malem sebelum tidur baca postingan ini. Dulu waktu ke Taipei memang sempet nyobain makanan yang enak-enak sih, tapi gak sempet eksplor night marketnya terlalu banyak. Next time ke sana wajib nyobain ji painya Devil Evolution nih kayaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajib! Hahaha, kemarin saya dan suami akhirnya makan Devil Evolution tiap hari saking enaknya :))

      Delete