Showing posts with label South East Asia. Show all posts
Showing posts with label South East Asia. Show all posts

Hey, Singapore!


Believe it or not, saya belum pernah ke Singapura! Seenggaknya sampai beberapa waktu yang lalu. Pernah sih transit di Changi, tapi gak bisa diitung ke Singapura juga soalnya cuma di bandara doang muter-muter nunggu jadwal terbang berikutnya. Entah kenapa saya kayak nggak pernah punya motivasi gitu untuk ke negara dengan lambang makhluk mutan kombinasi singa dan duyung ini. Karena yang tertanam di kepala saya dari cerita banyak orang, Singapura itu isinya cuma belanja barang branded dan Universal Studio. Haha. Karena saya nggak terlalu suka belanja barang branded (karena ngga ada duitnya) dan bukan penggemar amusement park, makanya Singapura selalu di-skip tiap menentukan tujuan liburan.

BooksActually


Sebagai orang yang sering nggak tau diri kalau beli buku (sebagian besar ditimbun, bacanya nanti-nanti kalau pas lagi mood), salah satu tempat favorit saya adalah toko buku. Pokoknya bikin saya senang itu gampang banget lah. Ajak aja masuk ke toko buku, trus tinggalin sampai saya (akhirnya) capek berdiri melototin cover buku atau baca sinopsisnya satu-satu dan galau mikir harus beli yang mana. Makanya setiap ada kesempatan berkunjung ke negara lain, saya hampir selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku.

Kemarin pas lagi ada urusan ke Singapore, saya langsung semangat pengen berkunjung ke BooksActually. Toko buku yang satu ini memang udah dari lama saya kepoin di instagram, soalnya toko ini ngejual buku-buku penulis indie dari Singapore gitu deh. Sebagian buku-bukunya mereka terbitkan sendiri di bawah label Math Paper Press. Saya penasaran banget Singaporean literature (sing-lit) itu kayak apa. Akhirnya dibelain deh ke sini pagi-pagi, padahal tempatnya agak nyempil gitu di kawasan pemukiman. Stasiun MRT terdekat itu Tiong Bahru. Dari sana tinggal jalan kaki sekitar 800 meteran gitu lah. Pas saya nyampe, pas banget tokonya baru dibuka.

Suatu Hari yang Mendung di Hoa Lu dan Tam Coc

Karena kunjungan kami yang super duper singkat di Hanoi, hanya 2 malam 1 hari, maka kami hanya punya 1 hari efektif yang bisa dipakai untuk berjalan-jalan. Banyak banget pilihan day-trip dari Hanoi. Ada yang ke Ha Long Bay, Hoa Lu - Tam Coc, Parfume Pagoda, wah banyak lah pokoknya. Kebanyakan turis hampir pasti akan memilih Ha Long Bay tanpa keraguan karena kayaknya "belum ke Hanoi kalo belum ke Ha Long Bay".


Tapi kalau cuma punya 1 hari dan harus memilih antara Ha Long Bay dan Hoa Lu - Tam Coc, jelas saya akan memilih Hoa Lu - Tam Coc. Kenapa? 

Pertemuan Kedua dengan Hanoi


Setelah bertualang sekitar 5 harian di Laos dari Vientiane di Selatan hingga Luang Prabang di Utara, perjalanan kami lanjutkan ke Hanoi, ibukota Vietnam, yang letaknya bertetanggaan dengan Laos. Hanoi ditambahkan ke rangkaian perjalanan kali ini karena waktu ngeliat peta, Luang Prabang dan Hanoi tampak sudah dekat, dan biar sekali mendayung dapet 2 negara gitu maksudnya. Awalnya kami pikir karena dekat, Luang Prabang dan Hanoi bisa ditempuh via jalur darat. Well, pada kenyataannya memang bisa sih, tapi waktu tempuhnya konon bisa sampai 30 jam dengan kondisi bus dan jalanan yang sangat nggak asik. Beberapa review malah bilang kalau bus Luang Prabang - Hanoi itu adalah "bus ride from hell" atau "nightmare journey of over 38 hours". Waduh.

10 Hal yang Bisa Kita Lakukan di Luang Prabang

*Warning : bandwith killer! Too much photos!

Jika berkunjung ke Laos, saya sangat merekomendasikan untuk menghabiskan waktu lebih di Luang Prabang. Karena kota yang letaknya agak di Utara ini merupakan tempat ter-favorit saya selama di sana. Sisihkan waktu setidaknya 2 hingga 3 hari untuk menjelajahi kota ini. 

Memangnya bisa ngapain aja sih di Luang Prabang?

Berikut 10 hal yang bisa dilakukan di Luang Prabang versi Mira Afianti.

Selalu ambil peta di resepsionis dan pinta mereka untuk menunjukkan tempat-tempat menarik di kota tersebut.

Alms Giving Ceremony, Luang Prabang


Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Buddha, salah satu hal yang menjadi daya tarik Laos adalah upacara pemberian sedekah (biasanya berupa makanan atau hadiah dalam bentuk lainnya) kepada biksu. Upacara ini sering disebut dengan Alms Giving Ceremony. Umumnya berlangsung di pagi buta, di saat-saat menuju terbitnya matahari. 

Di Vang Vieng, 2 hari berturut-turut kami melewatkan upacara ini dikarenakan susahnya untuk bangun pagi melawan gravitasi kasur yang lumayan posesif. Saat tiba di Luang Prabang kami langsung membulatkan tekad untuk bangun pagi demi menyaksikan tradisi yang sudah ada sejak dahulu kala ini.

Vang Vieng

Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, kami terpaksa turun dari van yang ternyata telah sampai di perhentian terakhirnya. Saya mengedarkan pandangan ke sekitar, ada lapangan luas dengan beberapa balon udara yang hendak bersiap-siap terbang. Di kejauhan kelihatan siluet bukit-bukit karst yang tampak seperti lukisan. Setelah perjalanan sejauh 158 km yang ditempuh dengan waktu 3 jam dari Vientiane, melewati jalanan yang rusak di sana sini dengan pemandangan desa-desa yang diselimuti debu, akhirnya kami tiba di Vang Vieng.

Singgah Super Kilat di Vientiane


Seperti yang sudah diceritakan secara singkat di postingan sebelumnya, kunjungan kami di ibukota Laos ini hanya sebentar saja. Penyebabnya saat browsing sebelum berangkat, objek wisata di seputar Vientiane tampak tidak terlalu menarik untuk kami. Kebanyakan kuil dan monumen-monumen gitu deh. Karena kami anaknya NakAl (nak alam) banget, bawaannya emang males ke kuil dan udah pengen cepet-cepet main air di Vang Vieng. Jadilah kami memutuskan untuk tidak menginap dan langsung berangkat ke Vang Vieng begitu sampai di Vientiane.

Sabaidee, Laos!

*) Sabaidee = hello!
Now you know how to greet people in Lao
--
Dulu sama sekali nggak tertarik untuk mengunjungi Laos. Mungkin karena namanya yang kurang populer jika dibandingkan tetangga-tetangganya seperti Thailand, Vietnam, atau bahkan Kamboja. Tapi karena kemarin lagi pengen liburan bareng house-mate (perasaan pengen liburan terus) yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya dan bingung menentukan destinasi yang belum pernah dikunjungi dengan biaya yang terjangkau, akhirnya tercetuslah Laos.

Patuxay Momument, Vientiane. 

Laos memang nggak punya pantai, tapi ternyata banyak sekali aktivitas asik yang bisa kita lakukan di sana. Setelah mengunjungi Laos, saya bisa dengan pede bilang kalau negara ini adalah negara tujuan favorit saya di Asia Tenggara sejauh ini (padahal ke Singapura dan Brunei belum pernah). Ini murni preferensi pribadi, karena Laos adalah surganya kegiatan outdoor yang  berbau alam! Meski semua negara-negara di Asia Tenggara yang pernah saya kunjungi selalu seru dan keren dengan cara yang berbeda, tapi entah kenapa perjalanan ke Laos kemarin ini rasanya paling berkesan. Salah satu faktornya mungkin karena perjalanannya ditemani teman-teman yang asik (cieee..)

Postingan ini akan membahas tentang gambaran umum perjalanan ke Laos kemarin.

Drama itu Berjudul Deportasi

Singkat cerita, saya dan 3 orang teman (Riwe, Whe, dan Bongo) rencananya akan melakukan perjalanan 7 hari Laos - Vietnam. Semua berjalan lancar, dari mulai booking tiket pesawat, penginapan, susun itinerary, sampai pada akhirnya di H-2 keberangkatan drama dimulai saat saya hendak melakukan web check-in di situs Air Asia.

Setelah memasukkan nomer paspor dan masa berlaku, saya, Riwe, dan Bongo sukses mendapatkan boarding pass. Tapi ada sebuah notifikasi dengan background merah yang mengatakan kalau Whe tidak bisa melakukan web-checkin dan harus melapor ke check-in counter. Setelah ditelusuri, barulah kami sadar kalau paspornya Whe mempunyai masa berlaku yang kurang dari 6 bulan. Kami berangkat pertengahan Maret, sementara paspor Whe akan kadaluarsa di awal September. Masalahnya cukup sepele ya. Setelah Googling sih banyak success story di imigrasi Indonesia dan Malaysia, asalkan kita punya tiket pulang. Tapi bagaimana dengan Laos dan Vietnam? Wallahualam. 

Kami sudah mencoba berbagai alternatif, dari mulai mencoba mencari calo paspor canggih di imigrasi Soekarno-Hatta yang bisa memperpanjang paspor kurang dari 1x24 jam -- yang ternyata nggak ada, sampai menyusun berbagai skenario drama. Dari mulai mau jenguk istri yang lagi melahirkan di sana lah, sampai daftar seminar random di eventbrite just in case ditanyain mau ngapain di sana. Hahaha.

Akhirnya diputuskan, Whe akan gambling. Di tiap imigrasi yang akan dilaluinya. Because we'll never know until we tried. 

Checkpoint #1 : Imigrasi Indonesia
Waktu di check-in counter Air Asia, cuma diperingatkan aja kalau paspornya mau habis. Tapi saat nunjukin tiket pulang, aman. Di imigrasi Indonesia juga masih aman, paspor Whe sukses dicap dan kami jalan dengan happy ke waiting room. Sempet selfie-selfie dulu untuk selebrasi.

Mission #1, accomplished!

Checkpoint #2 : Imigrasi Kedatangan Malaysia
Aman. Ga ditanya apa pun. Kami rayakan dengan makan nasi lemak dan bobok di musholla.

Piknik ke Kuburan di Manila

Sepulang dari El Nido, saya sempat singgah satu malam di Manila sebelum kembali ke Indonesia. Pada awalnya sih saya tidak terlalu tertarik untuk berjalan-jalan di Manila karena konon katanya kondisi kotanya masih mirip dengan Jakarta. Tapi sewaktu blog-walking ke blog Bang Ari dan ngobrol-ngobrol via WhatsApp, saya jadi tahu kalau ada satu tujuan menarik di Manila yang bikin saya penasaran banget untuk ke sana. Yaitu adalah.... kuburan.

 Apahh? Apa enaknya sih main-main di kuburan? Kan Serem.

Eits tunggu dulu, kuburan ini bukan kuburan biasa. Kompleks pemakaman Manila American Cemetery and Memorial ini adalah tempat dimakamnya para tentara-tentara Amerika yang meninggal di saat perang. Yang bikin tempat pemakaman ini tidak biasa adalah karena bentuknya berupa padang rumput hijau luas di tengah gedung-gedung pencakar langit di distrik bisnis sibuk Filipina, Bonifacio Global City. Ngebayangin pemandangan padang rumput hijau dengan salib-salib putih yang berbaris rapi dengan latar belakang gedung-gedung tinggi, rasanya pasti bakal dreamy sekali, seperti di film-film.

El Nido Tour C : Menjelajah Pantai-Pantai Rahasia

Setelah sebelumnya puas menjelajah laguna-laguna di tour A, kali ini saya ikut tour C dengan tema menjelajah pantai-pantai rahasia di sekitar Matinloc Island. Letak spot-spotnya di Matinloc Island memang lumayan jauh dibandingkan dengan tour A yang masih di sekitar Miniloc Island, makanya harga tour ini pun lebih mahal yaitu 1400 Peso (tour A hanya 1200 Peso). Semua paket tour sudah termasuk makan siang prasmanan dan berlangsung dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.

Helicopter Island.

Perhentian hari itu adalah Helicopter Island, Matinloc Shrine, Hidden Beach, Secret Beach, dan Talisay Beach.

El Nido Tour A : It's All About Lagoons!

Belum ke El Nido kalau belum ikut tour island hopping-nya. Karena spot yang kece memang bukan terletak di El Nido, tapi di gugusan pulau-pulau di sekitarnya yang bisa dicapai dengan naik kapal kecil. Tinggal dateng aja ke agen-agen yang menjual paket tour yang tersebar di sepanjang jalan utama El Nido. Kalau mau praktis sih bisa booking online dulu di www.elnidoparadise.com. Pilihan tour island hopping ada 4 : tour A, B, C, dan D dengan kisaran harga dari 1200 - 1400 Peso. Yang paling favorit adalah tour A dan C. Tour A mengunjungi banyak laguna sementara spot di tour C kebanyakan adalah pantai "rahasia".

Small lagoon, salah satu spot di tour A

Di beberapa agen ada juga yang menjual paket kombinasi, misalnya kombinasi tour A dan C, jadinya dalam satu hari bisa mengunjungi spot-spot dari dua tour tersebut. Pada awalnya dengan alasan hemat waktu, saya booking kombinasi tour A dan C dengan harga 2000 Peso. Tapi sayangnya di hari H, mereka bilang kalau jumlah orangnya kurang jadi tour itu nggak bisa jalan. Saya ditawari untuk ikut tour A hari itu, dan tour C di hari berikutnya. Dan untungnya tanpa tambahan biaya. Tour A harganya 1200 Peso dan tour C 1400 Peso. Dengan membayar 2000 Peso saya dapat 2 tour yang kalau ditotal seharga 2600 Peso. Rejeki anak sholeh. 

Kapal hari itu diisi oleh sekitar 18 orang, saya satu-satunya orang Indonesia (yang tentu saja awalnya pakai acara diajak ngomong Tagalog dulu sama mamang kapalnya). Perjalanan dimulai jam 9 pagi diiringi dengan cuaca yang sedikit berawan, tapi lama kelamaan cerah dan malah terik sekali. Siap-siap pakai baju renang karena pasti akan basah, bawa dry bag dan kamera waterproof, let's go sailing!

Mabuhay, El Nido!


Sudah lama sekali saya ingin nyobain sensasi pergi piknik sendirian ke tempat yang jauh. Bahasa kerennya : solo trip. Tapi berhubung bakat ekstrovert di dalam diri ini cukup besar, rasanya membayangkan jalan-jalan sendirian itu kurang asik. Di dalam bayangan saya nantinya akan banyak bengong karena tidak ada teman ngobrol. Untungnya selama ini saya dikelilingi oleh banyak teman yang (biasanya) ada aja yang mau diajak piknik.

Tapi suatu hari rasa penasaran itu tidak terbendung lagi. Tiba-tiba di kepala saya terlintas Filipina, salah satu negara yang memang ingin sekali saya kunjungi dari dulu. Setelah sedikit Googling dan riset sana sini, saya menemukan tempat bernama El Nido di Filipina, yang katanya cukup aman untuk dikunjungi sendirian oleh wanita. Criminal rate di sana 0%, katanya. Daerahnya terpencil dan sepi, kotanya kecil, akses ke sana lumayan mudah, El Nido punya pantai-pantai kece, dan berhubung saya sudah lama gak ke pantai maka : oke, mari berangkat! Hari itu juga saya berhasil secara impulsif book tiket pesawat pulang pergi ke El Nido, yang untungnya bertepatan dengan promonya Cebu Pacific. Semesta mendukung!

Bagan, Myanmar - Part 2

Mount Popa dari kejauhan

Hari kedua di Bagan.

Kami ikut half-day tour ke Mount Popa yang letaknya tidak jauh dari Bagan. Karena angkutan umum menuju ke Mount Popa cukup sulit, biasanya turis-turis menyewa mobil untuk ke sana. Waktu browsing di TripAdvisor, katanya sih harga sewanya sekitar 50.000 Kyat. Lumayan mahal, apa lagi di hari-hari terakhir piknik uang saku sudah semakin menipis. Kami bertanya di beberapa tempat ternyata harganya memang segitu. Di hotel 50.000 Kyat, sedangkan di money changer dekat hotel harganya malah 60.000 Kyat. Karena kami bokek, jadinya pasrah dan gak mau booking dulu. Siapa tau dapet mukjizat sewa mobil murah pas waktunya udah mepet.

Bagan, Myanmar - Part 1

Hello, Bagan!

Dari Taunggyi perjalanan dilanjutkan ke Bagan (yayyy!), tujuan terakhir dan yang paling dinanti dari trip ke Myanmar ini. Kami naik bis Bagan Min Thar dengan rute Nyaung Shwe (Inle Lake) - Bagan. Waktu beli tiket di website Myanmar Bus Ticket sih cuma bis ini satu-satunya yang melayani rute tersebut. Dan tiketnya murah banget, cuma sekitar 11 USD. Tapi ternyata bisnya jelek dan ga enak banget, kayaknya masih bagusan juga bis Primajasa yang ke Bandung. Dengan bis yang kayak gitu, kami harus menempuh jarak 350-an kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan. Ditambah 2 malam sebelumnya sudah 'mobile' nggak tidur di kasur, perjalanan jadi berasa neraka banget.

Kunjungan Singkat ke Taunggyi, Myanmar

Dari Yangon, perjalanan kami dilanjutkan ke sebuah daerah yang letaknya di utara Yangon; Inle Lake.

Sama seperti Bagan, Inle Lake juga merupakan tujuan turis-turis yang piknik ke Myanmar. Jarak Inle Lake dari Yangon sekitar 600an km yang ditempuh selama hampir 11 jam.

Ngapain sih jauh-jauh ke Inle Lake?

Mau liat ini....

Kakku Stupa Forest

Mingalabar, Myanmar!

Myanmar, berawal dari e-mail dari sebuah maskapai mengenai promo kursi gratis mereka bagi member setia *cie, dilanjut dengan obrolan di WhatsApp dengan Mba Olip, tiba-tiba saja tiket PP Jakarta-Yangon sudah ada di inbox e-mail. Yay for another ASEAN trip! Dari rencana pergi cuma berdua, tiba-tiba anggota jadi bertambah hingga totalnya jadi 9 orang. Namun pada realisasinya, karena suatu dan lain hal yang jadi berangkat cuma 3 orang : saya, Mba Olip dan Mba Dina.

Shwedagon Pagoda, Yangon, Myanmar

Sedih, tapi ternyata sesudah sampai di sana saya jadi gak kebayang kalau ke-9 orang tersebut beneran jadi berangkat. Pasti ribetnya tiada dua.

Jadi, gimana kesan-kesannya selama di Myanmar?

- Lucu banget awalnya liat orang-orang pakai sarung di mana-mana, termasuk petugas bandara dan kuli bangunan, sampai anak sekolah juga seragamnya sarung! Hehe. Namanya Longyi. Dan memang pakaian tradisional Myanmar, yang hebat ya, masih eksis.