Bagan, Myanmar - Part 1

Wednesday, September 30, 2015

Hello, Bagan!

Dari Taunggyi perjalanan dilanjutkan ke Bagan (yayyy!), tujuan terakhir dan yang paling dinanti dari trip ke Myanmar ini. Kami naik bis Bagan Min Thar dengan rute Nyaung Shwe (Inle Lake) - Bagan. Waktu beli tiket di website Myanmar Bus Ticket sih cuma bis ini satu-satunya yang melayani rute tersebut. Dan tiketnya murah banget, cuma sekitar 11 USD. Tapi ternyata bisnya jelek dan ga enak banget, kayaknya masih bagusan juga bis Primajasa yang ke Bandung. Dengan bis yang kayak gitu, kami harus menempuh jarak 350-an kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan. Ditambah 2 malam sebelumnya sudah 'mobile' nggak tidur di kasur, perjalanan jadi berasa neraka banget.

Sekitar jam setengah 3 pagi bis akhirnya sampai di Bagan. Di terminal masih gelap (yaiyalahya) dan dengan keadaan setengah ga sadar karena baru bangun, kami harus menghadapi puluhan supir taksi yang mengerumuni. Trik yang bagus, karena ngantuk, malas nawar, dan pengen cepet-cepet sampai ke hotel, kami setuju untuk naik taksi dengan harga 11.000 Kyat. Tarif aslinya cuma 6.000 - 7.000 Kyat. Yaudahlahya, pagi buta begitu cuma bisa pasrah. Oiya turis asing juga harus bayar tiket masuk ke Bagan dengan harga 20 USD per-orang. Tapi, nggak kayak di Angkor Wat yang setiap masuk candi selalu diminta tunjukin tiket, selama di Bagan tiket ini nggak pernah dicek ternyata. Mungkin bisa dicoba ga usah beli tiket kapan-kapan #sesat

Sampai di Yun Myo Thu Hotel di daerah New Bagan, ternyata resepsionis hotelnya baik banget ngebolehin kita early check-in tanpa tambahan bayar. Alhamdulillah akhirnya ketemu kasur setelah beberapa hari absen ketemuan. Setelah goler-goler dikit, kami pun segera berangkat ke Shwe San Daw Pagoda buat ngeliat sunrise. Pilihannya bisa naik e-bike (sepeda listrik) atau sepeda biasa. Bisa juga sih kayanya nyewa mobil atau kereta kuda gitu. Cuma kayaknya sih paling enak ya naik e-bike. Sewanya cuma 6.000 Kyat seharian dan nggak perlu gowes. Rute muter-muter Bagan juga bisa disesuaikan dengan keinginan.

Setelah nyewa e-bike di hotel, kami berangkat! Naik e-bike di kawasan Bagan pagi buta seru-seru serem ternyata. Jalanannya gelap banget nyaris nggak ada lampu, tapi bikin excited karena di kanan-kiri keliatan bayangan dari candi-candi. Jadi penasaran nanti pas terang pemandangannya kayak apa.

Shwe San Daw Pagoda

Ini pagoda yang paling tinggi dan katanya salah satu best-spot buat ngeliat matahari terbit. Sampai di sana udah rame turis-turis. Beberapa niat banget bawa-bawa tripod gitu. Tapi emang dasarnya saya jarang jodoh sama yang namanya sunrise-sunrise-an, kali itu seperti biasa langit pun mendung. Dan ternyata kami baru tau kalau bulan Agustus di Myanmar adalah musim penghujan yang berarti : gak ada balon udara yang terbang. Batal sudah impian liat pemandangan balon-balon di atas candi. Kuciwa dikit tapi ternyata Bagan tanpa balon pun sudah asik kok.


Pemandangan dari Shwe San Daw Pagoda, sejauh mata memandang : candi!

Pemandangannya kece banget dari atas karena ada ribuan candi di sejauh mata memandang. Sayangnya mendung. Setelah puas foto-foto kami pun memutuskan kembali ke hotel untuk tidur sejenak. Jalanan yang tadi pagi buta masih gelap ternyata awesome! Kanan-kiri banyak candi fotogenik yang bikin kami bentar-bentar berhenti buat foto-foto.

Taken with tas-pod. Haha

Akhirnya bisa bobo cantik di hotel. Photo : Mba Olip

7 Sisters dan Tea Leaf Salad

Pulang dari liat sunrise di Shwe San Daw, kami semua tewas di kasur. Pas bangun udah nyaris jam makan siang. Kami pun makan di restoran 7 Sisters di dekat hotel. Awalnya tau restoran ini dari hasil browsing di TripAdvisor. Bingung mau pesen apa yang aman dan halal, akhirnya kami pesen vegetable tempura dan tea leaf salad plus nasi putih 2 porsi. FYI, porsi nasi di Myanmar lumayan gede jadinya cukup pesen 2 porsi dibagi 3. Sekalian menghemat juga.

Enak banget

Tea leaf saladnya idola, campuran dari daun teh, tomat, kacang kedelai, dan cabe rawit. Mirip oseng-oseng gitu. Cocok dimakan bareng vegetable tempura. Sangking enaknya besoknya kami balik lagi ke 7 Sisters dan pesen menu yang sama. Pelayannya sampai hapal.

Setelah tidur enak dan makan siang enak, kami siap berkeliling Bagan!


Jalur sepedaannya enak dan bikin mata seger.




Suku Longneck di Bagan, menjual tenunan di salah satu Pagoda. Difoto pake HP doang karena takut ketauan dan disuruh bayar. Haha.

Pagoda yang lupa namanya sangking banyaknya.

Tourist Trap di Shwezigon Pagoda

Shwezigon Pagoda adalah salah satu dari banyak pagoda yang harus dikunjungi di Bagan. Sayangnya ternyata di sana banyak tourist-trap alias penipu gitu :(

Dimulai dari pas dateng, kami dibaik-baikin gitu sama penjual souvenir di sana. Ditanyain namanya siapa, dari negara mana, nice to meet you, gitu-gitu lah. Terus mereka ngasih bros kupu-kupu dari kertas dan langsung disematin ke baju. Katanya hadiah, tanda perkenalan. Hmm.. Mulai curiga. Trus karena memang tiap masuk pagoda harus lepas alas kaki, kita lepas sendal deh. Trus mereka bilang "simpen di sini aja sendalnya.. aman kok". Okay, curiga lagi.




Masuk ke pagoda, tiba-tiba tangan kami ditarik sama dua ibu-ibu lalu dia ngasih bunga. Si ibu ngoceh pake bahasa Burma dan kayak nginstruksiin buat ngeletakin bunganya di salah satu patung Buddha di sana. Trus di akhir tiba-tiba dia ngomong bahasa Inggris terbata-bata intinya minta duit gitu deh. Katanya bunganya nggak gratis. Bzz siapa juga yang minta. Mintanya 5.000 Kyat per-bunga (sekitar 50.000 rupiah gitu). Edan, mendingan beli Longyi deh duit segitu. Trus kita bilang aja kita kere trus kita kasih 1.000 Kyat trus ngacir. Ibunya ngomel-ngomel lagi pake bahasa Burma -___-

Penderitaan nggak berhenti di sana. Abis muter-muter Shwezigon dengan mood yang jelek, pas kami keluar ternyata sendal kami udah parkir di depan kios souvenir. Lalu kami dipaksa beli souvenir di sana. Harganya nggak rasional banget, satu gelang dihargain 10.000 Kyat! Ngawur banget, padahal di Bandara cuma 1.000-an. Kesaaaaaaal! Saya bilang saya ga punya duit. Akhirnya dia setuju nurunin harganya dari 10.000 ke 1.000. Huvt. 

Sepedaan sore-sore trus banyak kambing dan sapi. Sempat bikin panik karena jalur sepedanya sempit berpasir dan tiba-tiba mereka udah rame di belakang.

Ananda Temple

Arsitekturnya agak beda sama yang lain karena warna dominannya putih. Luas dan ada pohon rindang di tengahnya buat duduk leyeh-leyeh.





Bu Phaya Pagoda


Petualangan hari itu diakhiri dengan pemandangan matahari terbenam dari Bu Phaya Pagoda, di pinggir sungai Ayeyarwady.



Karena postingan ini sudah semakin panjang sementara masih banyak cerita dan foto-foto dari Bagan, bersambung ke part-2 ya!

Notes:
- Kalau ke Bagan, mendingan pakai sendal jepit karena di tiap pagoda harus lepas alas kaki (kaos kaki juga harus dilepas). Bakal repot kalau pake sepatu.

4 comments:

  1. Jadi kalo ke Shwezigon Pagoda mending bawa plastik kresek sendiri untuk nyimpen alas kaki ya? Dan mendingan tolak apapun yang orang kasih ke kita? Terus taunya mana petugas karcis yang asli dari mana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ide bagus sih, bawa plastik kresek. Untuk karcis sih ga ada, masuk semua pagoda di Bagan gratis karena udah bayar admission fee di awal (20 USD). Mungkin harus pasang tampang jutek dan cuek gitu di sana. Kalau udah mulai aneh-aneh langsung ditinggalin aja.

      Delete
    2. Well noted. Akhir Oktober ini rencananya mau ke Bagan soalnya, jadi mesti siap pasang tampang jutek. :) Thanks!

      Delete
    3. Wah ditunggu cerita serunya nanti ya! Have a nice trip! :D

      Delete

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS