Less Waste Journey : Building Up the Habit!

Senang deh sekarang-sekarang ini makin banyak yang sadar dan peduli dengan masalah sampah. Di mana-mana banyak gerakan less waste, orang-orang mulai pakai sedotan stainless (meskipun banyak yang nyinyirin ini, tapi jangan dengerin, a baby step is still a step!), beberapa tempat mulai nge-ban plastik, dan makin banyak juga bulk store yang jualan perkakas eco-friendly dan juga bahan-bahan makanan serta produk kebersihan dengan konsep bulk.

Banyak orang yang mengira kalau hidup minim sampah berarti harus beli segala perkakas baru dengan label eco-friendly; misal jadi harus beli tas belanja baru, beli produce-bag baru buat belanja sayur mayuran di supermarket atau pasar, beli kotak makan stainless, beli beeswax wrap, beli sedotan bambu, sikat gigi bambu, sampai beli silicon pouch untuk bekal jajan cilok biar ga nyampah. Padahal inti dari less-waste bukan di situ -- memakai ulang, menghargai, dan memaksimalkan barang-barang yang sudah kita punya adalah poin yang paling penting. Foto-foto flat-lay perkakas less-waste kita di instagram itu yang kurang penting.

Takayama

Setelah berjalan jauh dari Magome ke Tsumago, kami melanjutkan perjalanan menuju Takayama. Rencananya kami akan naik kereta lokal dari Nakatsugawa station, yang memakan waktu sekitar 3 jam. Menurut perkiraan, kami akan tiba di Takayama sekitar pukul 10 malam. Tapi realita berkata lain; saat itu ternyata kami ketinggalan kereta! Padahal, kami sudah ada di stasiun dan menunggu di peron yang benar. Namun ternyata, kereta ada di peron seberang. Padahal saya dan Junda sempat bercanda kenapa kereta di peron seberang itu tidak jalan-jalan. Setelah menerima kenyataan yang pahit dengan lapang dada, mau gak mau kami harus naik kereta berikutnya. Akibatnya, hampir tengah malam kami baru sampai di Takayama.

Snowy Takayama

Time Travelling to Edo Period from Magome to Tsumago


For our Japan trip, I delegated Junda for the itinerary planning, where he was fully in charge on scheduling and planning the route. As for selecting the places to go or things to do, I chipped in the idea and let him do the rest. I told him that I want to do a bit of trekking, which he agreed, since the last time we went trekking together was 2 years prior in Peak District, UK. He proposed some name of places in Japan for our trekking activities. However, as I was too lazy to do my own research, I just told him that it's entirely up to him to choose. Therefore, his choice was Nakasendo. I had no idea of what I would find there. I thought that the trekking path would be on some mountain, or forest. I was not wrong, but it was not all there is to Nakasendo.

Berburu Ayam Krispi, Tahu Busuk, dan Berbagai Makanan Lainnya di Taipei Night Market

Taiwan adalah negara yang sangat identik dengan night market. Mungkin sama kayak Jakarta dengan macetnya. Night market biasanya berupa jalan raya yang disulap menjadi pasar berisi stall makanan atau souvenir, dan beroperasi setiap hari dari mulai sore tiba hingga larut malam. Taiwan lumayan terkenal dengan streetfood-nya. Jadi, night market adalah one-stop-solution buat kamu yang mau icip-icip berbagai makanan khas Taiwan. Pokoknya intinya, do not ever ever ever go to Taiwan without visiting the night market! Gak cuma untuk turis, tapi orang lokal sendiri memang suka sekali pergi ke night market untuk makan dan hangout

Saya sebenarnya bukanlah orang yang terlalu adventurous kalau soal makanan. Apalagi makanan-makanan di luar negeri yang biasanya rasanya kurang cocok sama lidah saya yang medok Indonesia. Jadinya, pasar malam penuh makanan tidak terlalu membuat saya excited... sampai akhirnya saya ingat kalau Shihlin, ayam krispi bermicin yang terkenal di Indonesia itu adalah salah satu street food asli dari Taiwan. Dan ternyata, Shihlin sendiri diambil dari nama Shihlin Night Market, salah satu night market paling terkenal di Taipei. Selain Shihlin Night Market, ada banyak sekali night market lainnya. Sampai-sampai kita bisa saja pergi ke night market yang berbeda setiap harinya.  

Taipei: di Mana Hutan dan Kota Hidup Berdampingan


Hari itu hari Sabtu. Saya dan Junda berencana akan bertemu Guan, teman kuliah Junda saat di London, dan juga Debby (istrinya Guan) di stasiun MRT Wanfang Hospital yang dekat dengan AirBnb kami. Debby dan Guan akan mengantarkan kami berkeliling Taipei. Senang sekali rasanya jalan-jalan di kota baru dengan guide lokal asli.

Setelah pertemuan yang kurang dramatis (Junda dan Guan terakhir bertemu 2 tahunan yang lalu, so I expect some tears or hugs at least) di stasiun, bergegas lah kami ke tujuan pertama; Maokong.