Living More with Less

It's been agessss since I write the last post, due to lack of any kind of happening. I'm still working for home, although me & Junda kinda let loose a lil bit more now. We sometimes eat out, visiting friends, and various other errands. Other big chunk of my activity lately is doing massive decluttering and selling things that we no longer need. 


To some of you who might be following me on other media, you might realized that for the past few weeks I'm actively selling stuff there. Me & Junda are trying to commit more to this minimalist lifestyle, not only our dwelling is small, but we also don't really need much things anyway after contemplating. Although my version of minimalist lifestyle is not at the level of Fumio Sasaki yet, who could fit all of his belongings to a small suitcase. Mine is more on reducing redundant stuff, such as multiple shoes that all has the same purpose, or books that we already own the digital version of, or utensils that only differs in color or pattern even though the function is pretty much the same.



Goodbye, 2020!

2020 trained me to look away from screens after office hours, so I just realized a few days ago that the third month of 2021 almost passes me by without me doing the annual tradition, writing yearly review. Even though it is way too late, here goes the story of my 2020.


I loathe 2020 as much as the next person, it locked us down in our home and threw away all hopes of flexing walking muscle (bye UK trip that already planned a year prior!), it is especially a hard year in which to lose loved ones, not that any year is better than others in this regards, but the feeling when you realize that someone who you just know will be there for a very long time, is suddenly nowhere to be found, is surreally common in 2020. However, few things still exists that I could be grateful for. 


Will tell our kids someday that there was a time that we go trekking with masks on

Masagi Koffee: Kucing, Rumput Hijau, Kopi, dan Croissant Enak!

Tulisan ini sudah ada di draft blog sejak jaman kapan, tapi baru kali ini punya niat dan keinginan untuk diselesaikan. Hehe. 

Masih lanjutan dari cafe-hopping di Bandung, salah satu cafe favorit saya dan Junda untuk bekerja adalah Masagi Koffee. Cafe mungil yang terletak di daerah Ciumbuleuit atas ini suasananya 'Bandung' banget. Terletak di area perumahan yang dikelilingi pepohonan rimbun, cafe ini terdiri dari satu bangunan mungil berisi cofee-bar dan kasir, serta area outdoor yang cukup luas dengan pemandangan hamparan rumput hijau. Berhubung lokasinya yang terletak di daerah atas, cuaca di sini cukup sejuk dan bahkan kadang-kadang kami bisa agak kedinginan sedikit.

Si kuning lagi tidur siang di spot favorit

Berburu Kopi 10 Ribu Rupiah di Bandung

Di postingan yang sebelumnya, saya sempat bercerita kalau di Bandung sedang ada program bernama PANG Bandung (Pagi Ngopi Bandung), di mana kita bisa menikmati segelas kopi hangat pagi-pagi di kafe-kafe tertentu cukup dengan membayar 10 ribu rupiah. Seperti yang udah saya bahas di postingan sebelumnya, tempat PANG favorit saya dan Junda sejauh ini masih Bijikopling - dinilai dari aspek lokasi, rasa, tempat, cemilan, dan kucingnya (nilai plus 1000 untuk ini!). Namun, kami masih sempat mencoba PANG di beberapa tempat lainnya untuk memperkaya khazanah perkafean Bandung. 

Bijikopling. Brownies x Latte = jodoh 

Note: keikutsertaan kafe dan jam promo PANG bisa saja akan berubah sewaktu-waktu. Silakan di-crosscheck langsung ke kafe masing-masing yaa.

PANG-KUBAN : Pagi Ngopi bareng Kucing Bandung

Sudah 2 minggu belakangan ini saya dan Junda bekerja remote dari Bandung. WFH di kantor saya yang terus diperpanjang, bahkan kabar terakhirnya akan berlangsung hingga bulan Juli 2021, membuat kami yakin harus mengungsi sebentar dari petakan kecil apartemen agar bisa terus semangat menempuh badai WFH. Tadinya sempat terpikir untuk kerja dari Bali, berhubung harga AirBnb di sana yang sangat menggiurkan karena turun drastis akibat pandemi, tapi akhirnya kami ubah haluan ke Bandung, karena pas banget ada unit apartemen tante yang sedang kosong karena penyewanya ngga melanjutkan kontrak. 


Selain karena akomodasi yang kurang lebih udah didapat, Bandung terdengar sebagai plan yang bagus karena jaraknya yang ga terlalu jauh dan cuaca yang relatif lebih sejuk dari Jakarta. Terlebih lagi, Bandung udah kayak rumah kedua buat saya, karena kalau dihitung-hitung saya lebih lama tinggal di Bandung (5 tahun) dibanding Jakarta (baru 2 tahun terakhir). Jadinya tiap ke Bandung tuh kayak lagi pulang kampung. So, Bandung it isss!