Mengenal Alan Turing Lebih Dekat di Bletchley Park

Postingan ini akan bercerita tentang kunjungan saya ke salah satu museum bernama Bletchley Park di tahun 2016 lalu (haha basi banget ya). Saya sebenernya ga terlalu suka ke museum, gak kayak Junda yang hobinya ke Natural History Museum atau British Museum saban weekend. Hanya museum-museum dengan tema tertentu yang bisa bikin saya tertarik untuk berkunjung. Waktu Junda cerita tentang Bletchley Park - museum yang berisi cerita tentang Alan Turing dan perannya di Perang Dunia ke-II, saya langsung tertarik banget untuk berkunjung. Yah, sekali-kali jalan-jalannya faedah biar keliatan kayak anak Computer Science beneran :)) Saya pergi ke Bletchley bersama Rumeysa, sahabat saya di kampus.



Pernah mikir ga sih, segala kenyamanan teknologi smartphone dan komputer yang kita nikmati sekarang itu hasil jerih payahnya siapa? Jauh jauh sebelum Sergey Brin dan Larry Page bikin Google, sebelum Steve Jobs bikin Apple, ada Alan Turing yang berjasa menciptakan 'neneknya' komputer. Sebagai mantan mahasiswi Teknik Informatika, nama Pak Turing (haha akrab) memang gak begitu asing karena sering banget disebut, terutama di mata kuliah Teknik Komputasi. Di mata kuliah itu saya belajar Turing Machine, sebuah konsep komputasi yang jadi cikal bakal komputer modern yang kita pakai dengan nyaman saat ini. 

Emangnya ga bosen di rumah?

Waw ga kerasa udah pertengahan bulan Juni, dan terakhir kali saya menulis di blog adalah bulan April, yang berarti sudah hampir 2 bulan saya menghilang. 

Kenapa kamu ga pernah nulis-nulis di blog lagi?, tanya Justin suatu hari di WhatsApp. 
Kalau dia ngga tanya begitu mungkin saya sendiri udah lupa kalau punya blog ini. Hehe

Life in the time of Corona


What a strange situation we're currently in, with the whole Covid-19 pandemic thing. Few months ago I was in my denial phase; I read and heard the news everywhere about how dangerous the virus is, yet I kept telling myself that "Meh, it's okay, it's just flu, I have healthy body". At that time, I guess I decided to keep my eyes closed as I didn't want to cancel all plans that I had.

Shirakawa-go : Buah dari Over Ekspektasi


Shirakawa-go udah lama banget ada di bucket list saya. Awalnya, saya tau Shirakawa-go waktu ngeliat foto salah satu teman saya yang sedang kuliah di Jepang. Fotonya menunjukkan suasana musim dingin di sebuah desa; hamparan rumah-rumah tradisional yang berselimut salju tebal dengan lampu temaram yang menyala hangat. Serene dan dreamy sekali. Saya langsung bertekad akan berkunjung ke sana jika suatu hari nanti kembali ke Jepang. 

Singgah Setitik di Reykjavík


 

Meskipun Reykjavík adalah salah satu kota impian saya, lucunya saat ke Iceland kemarin kota ini malah cuma disinggahi sekejap saja. Soalnya, saya dan teman-teman memang pada akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di jalan mengelilingi Iceland. Terlebih lagi, di Reykjavík harga penginapannya lumayan mahal, makanya di hari pertama sampai dan di hari terakhir, kami memilih menginap di pinggiran luar kota.