Berburu Ayam Krispi, Tahu Busuk, dan Berbagai Makanan Lainnya di Taipei Night Market

Taiwan adalah negara yang sangat identik dengan night market. Mungkin sama kayak Jakarta dengan macetnya. Night market biasanya berupa jalan raya yang disulap menjadi pasar berisi stall makanan atau souvenir, dan beroperasi setiap hari dari mulai sore tiba hingga larut malam. Taiwan lumayan terkenal dengan streetfood-nya. Jadi, night market adalah one-stop-solution buat kamu yang mau icip-icip berbagai makanan khas Taiwan. Pokoknya intinya, do not ever ever ever go to Taiwan without visiting the night market! Gak cuma untuk turis, tapi orang lokal sendiri memang suka sekali pergi ke night market untuk makan dan hangout

Saya sebenarnya bukanlah orang yang terlalu adventurous kalau soal makanan. Apalagi makanan-makanan di luar negeri yang biasanya rasanya kurang cocok sama lidah saya yang medok Indonesia. Jadinya, pasar malam penuh makanan tidak terlalu membuat saya excited... sampai akhirnya saya ingat kalau Shihlin, ayam krispi bermicin yang terkenal di Indonesia itu adalah salah satu street food asli dari Taiwan. Dan ternyata, Shihlin sendiri diambil dari nama Shihlin Night Market, salah satu night market paling terkenal di Taipei. Selain Shihlin Night Market, ada banyak sekali night market lainnya. Sampai-sampai kita bisa saja pergi ke night market yang berbeda setiap harinya.  

Taipei: di Mana Hutan dan Kota Hidup Berdampingan


Hari itu hari Sabtu. Saya dan Junda berencana akan bertemu Guan, teman kuliah Junda saat di London, dan juga Debby (istrinya Guan) di stasiun MRT Wanfang Hospital yang dekat dengan AirBnb kami. Debby dan Guan akan mengantarkan kami berkeliling Taipei. Senang sekali rasanya jalan-jalan di kota baru dengan guide lokal asli.

Setelah pertemuan yang kurang dramatis (Junda dan Guan terakhir bertemu 2 tahunan yang lalu, so I expect some tears or hugs at least) di stasiun, bergegas lah kami ke tujuan pertama; Maokong.

Jepang, Kali Kedua : Itinerary!

Disclaimer : super-duper long post ahead! Brace yourself!

Saat berkunjung ke Jepang di 2014 yang silam, saya bertekad di dalam hati untuk kembali lagi ke negara ini suatu hari nanti. Pas bilang ke Junda, dia juga setuju untuk balik lagi ke Jepang. Makanya, setelah memutuskan untuk meniqa, kami jadi giat menabung uang, jatah cuti, dan mencari tiket promo ke Jepang untuk jalan-jalan berdua. Kami juga bertekad kalau perjalanan ini harus lama durasinya, memaksimalkan jatah berkunjung di visa single entry Jepang yaitu selama 15 hari. 

Long story short, di bulan Agustus, kami berhasil mengamankan tiket penerbangan langsung AirAsia Jakarta - Narita dengan harga yang murah. Wah, rencana terlihat cukup mulus. Tapi tunggu dulu. Beberapa minggu kemudian, kami mendapatkan kabar kalau rute tersebut dihilangkan oleh pihak AirAsia karena satu dan lain hal, dan kami dihadapkan dengan pilihan untuk refund uang atau mengubah rute terbang. Tentu saja kami pilih yang kedua, dengan penuh jerih payah karena customer service AirAsia sepertinya dihajar banyak komplain saat itu. Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya confirmed lah tiket Jakarta - Narita kami yang baru, via Bangkok.

Magical Jiufen


Setelah puas hujan-hujanan menguntit kucing-kucing di Houtong Cat Village, saya dan Junda melanjutkan perjalanan ke Jiufen, tempat di mana kami akan bermalam. Dari Houtong, kami naik kereta menuju Ruifeng, lalu lanjut naik bus hingga ke Jiufen. Halte bus cukup ramai sore itu, untung saja semua orang bisa terangkut di dalam bus, walaupun harus berdiri berdesak-desakan. Sialnya, rute dari Ruifeng menuju Jiufen adalah jalan menanjak penuh tikungan, karena posisi Jiufen yang ada di atas gunung. Ditambah lagi dengan kecepatan mengemudi sang supir yang kayaknya tidak terlalu takut akan maut, kami semua sukses terombang-ambing di dalam bus.