Berburu Kopi 10 Ribu Rupiah di Bandung

Di postingan yang sebelumnya, saya sempat bercerita kalau di Bandung sedang ada program bernama PANG Bandung (Pagi Ngopi Bandung), di mana kita bisa menikmati segelas kopi hangat pagi-pagi di kafe-kafe tertentu cukup dengan membayar 10 ribu rupiah. Seperti yang udah saya bahas di postingan sebelumnya, tempat PANG favorit saya dan Junda sejauh ini masih Bijikopling - dinilai dari aspek lokasi, rasa, tempat, cemilan, dan kucingnya (nilai plus 1000 untuk ini!). Namun, kami masih sempat mencoba PANG di beberapa tempat lainnya untuk memperkaya khazanah perkafean Bandung. 

Bijikopling. Brownies x Latte = jodoh 

Note: keikutsertaan kafe dan jam promo PANG bisa saja akan berubah sewaktu-waktu. Silakan di-crosscheck langsung ke kafe masing-masing yaa.

PANG-KUBAN : Pagi Ngopi bareng Kucing Bandung

Sudah 2 minggu belakangan ini saya dan Junda bekerja remote dari Bandung. WFH di kantor saya yang terus diperpanjang, bahkan kabar terakhirnya akan berlangsung hingga bulan Juli 2021, membuat kami yakin harus mengungsi sebentar dari petakan kecil apartemen agar bisa terus semangat menempuh badai WFH. Tadinya sempat terpikir untuk kerja dari Bali, berhubung harga AirBnb di sana yang sangat menggiurkan karena turun drastis akibat pandemi, tapi akhirnya kami ubah haluan ke Bandung, karena pas banget ada unit apartemen tante yang sedang kosong karena penyewanya ngga melanjutkan kontrak. 


Selain karena akomodasi yang kurang lebih udah didapat, Bandung terdengar sebagai plan yang bagus karena jaraknya yang ga terlalu jauh dan cuaca yang relatif lebih sejuk dari Jakarta. Terlebih lagi, Bandung udah kayak rumah kedua buat saya, karena kalau dihitung-hitung saya lebih lama tinggal di Bandung (5 tahun) dibanding Jakarta (baru 2 tahun terakhir). Jadinya tiap ke Bandung tuh kayak lagi pulang kampung. So, Bandung it isss!

Bukit Lawang : Tumbal Darah untuk Bertemu Orangutan


Beberapa waktu lalu, akhirnya saya liburan dan melihat yang hijau-hijau kembali!

Setelah diam di apartemen kotakan kecil selama 6 bulan, saya keluar kandang juga. Ga tanggung-tanggung keluarnya, sung saya terbang ke Medan! Tujuannya tentu bukan untuk berlibur, tapi untuk 'pulang' dan menjenguk Papa di rumah, berhubung adik saya si Pojan dan istrinya, Sarah, juga sedang cuti dan bisa keluar kandang dari Papua sana. Alhamdulillahnya saya dan Junda masih boleh WFH sampai batas waktu yang belum ditentukan, jadinya kami bisa boyongan ke Medan dan bekerja dari sana. 

Dari awal rencana pulang, Pojan udah ngajakin saya untuk liburan tipis-tipis. Saya dan Junda lumayan insecure karena masih pandemi, jadi kami lumayan picky dalam memilih tempat berlibur. Dari berbagai rencana, akhirnya yang kami approve adalah trekking di Bukit Lawang.

Mengenal Alan Turing Lebih Dekat di Bletchley Park

Postingan ini akan bercerita tentang kunjungan saya ke salah satu museum bernama Bletchley Park di tahun 2016 lalu (haha basi banget ya). Saya sebenernya ga terlalu suka ke museum, gak kayak Junda yang hobinya ke Natural History Museum atau British Museum saban weekend. Hanya museum-museum dengan tema tertentu yang bisa bikin saya tertarik untuk berkunjung. Waktu Junda cerita tentang Bletchley Park - museum yang berisi cerita tentang Alan Turing dan perannya di Perang Dunia ke-II, saya langsung tertarik banget untuk berkunjung. Yah, sekali-kali jalan-jalannya faedah biar keliatan kayak anak Computer Science beneran :)) Saya pergi ke Bletchley bersama Rumeysa, sahabat saya di kampus.



Pernah mikir ga sih, segala kenyamanan teknologi smartphone dan komputer yang kita nikmati sekarang itu hasil jerih payahnya siapa? Jauh jauh sebelum Sergey Brin dan Larry Page bikin Google, sebelum Steve Jobs bikin Apple, ada Alan Turing yang berjasa menciptakan 'neneknya' komputer. Sebagai mantan mahasiswi Teknik Informatika, nama Pak Turing (haha akrab) memang gak begitu asing karena sering banget disebut, terutama di mata kuliah Teknik Komputasi. Di mata kuliah itu saya belajar Turing Machine, sebuah konsep komputasi yang jadi cikal bakal komputer modern yang kita pakai dengan nyaman saat ini. 

Emangnya ga bosen di rumah?

Waw ga kerasa udah pertengahan bulan Juni, dan terakhir kali saya menulis di blog adalah bulan April, yang berarti sudah hampir 2 bulan saya menghilang. 

Kenapa kamu ga pernah nulis-nulis di blog lagi?, tanya Justin suatu hari di WhatsApp. 
Kalau dia ngga tanya begitu mungkin saya sendiri udah lupa kalau punya blog ini. Hehe