Life in the time of Corona


What a strange situation we're currently in, with the whole Covid-19 pandemic thing. Few months ago I was in my denial phase; I read and heard the news everywhere about how dangerous the virus is, yet I kept telling myself that "Meh, it's okay, it's just flu, I have healthy body". At that time, I guess I decided to keep my eyes closed as I didn't want to cancel all plans that I had.

Shirakawa-go : Buah dari Over Ekspektasi


Shirakawa-go udah lama banget ada di bucket list saya. Awalnya, saya tau Shirakawa-go waktu ngeliat foto salah satu teman saya yang sedang kuliah di Jepang. Fotonya menunjukkan suasana musim dingin di sebuah desa; hamparan rumah-rumah tradisional yang berselimut salju tebal dengan lampu temaram yang menyala hangat. Serene dan dreamy sekali. Saya langsung bertekad akan berkunjung ke sana jika suatu hari nanti kembali ke Jepang. 

Singgah Setitik di Reykjavík


 

Meskipun Reykjavík adalah salah satu kota impian saya, lucunya saat ke Iceland kemarin kota ini malah cuma disinggahi sekejap saja. Soalnya, saya dan teman-teman memang pada akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di jalan mengelilingi Iceland. Terlebih lagi, di Reykjavík harga penginapannya lumayan mahal, makanya di hari pertama sampai dan di hari terakhir, kami memilih menginap di pinggiran luar kota.

Sólheimasandur Plane Wreck Mengajarkan Saya Betapa Pentingnya Riset Sebelum Jalan-Jalan


Hari ke-4 di Iceland dimulai dengan mengunjungi Jökulsárlón untuk kedua kalinya (karena arah kami yang kembali mendekati Reykjavík) dengan kabut tebal yang bikin suasana jadi mistis tapi asik, lalu hari berubah cerah ketika kami berkunjung ke Skaftafell National Park. Setelahnya, di perjalanan menuju Airbnb, saya yang menjadi navigator melihat kalau di peta ada objek wisata lain yang dekat dengan posisi kami saat itu. 

Sólheimasandur Plane Wreck namanya. 

Membuat Itinerary dengan Trello dan Google Sheets

Buat saya, salah satu bagian paling asik dari liburan adalah merencanakannya. I looooove making itineraries, suka banget hingga di level di mana saya berharap bisa punya pekerjaan tetap bikin itinerary. Style orang ketika jalan-jalan tentu beda-beda, dan saya adalah tipe orang yang senang bikin plan yang rapih dan terstruktur. Dulu saya suka bikin itinerary yang detail banget sampai ke jam dan menit, dan lumayan ambi karena banyak banget tempat yang dimasukkan di tiap harinya. Seiring berjalannya waktu, kayaknya style begitu udah ga terlalu cocok dengan style jalan-jalan saya yang udah mulai santay (karena faktor usia) hahaha. 
Saya selalu mulai dengan browsing tentang tempat tersebut, dari mulai tempat-tempat wisata terkenal, tempat yang sesuai dengan interest saya (misal: taman atau toko buku), makanan, dan lain-lainnya. Semuanya akan saya list dalam wishlist, yang kemudian akan ditelaah satu-satu sesuai dengan jangka waktu kunjungan, area (jadi rajin-rajin liat map), dan juga budget yang harus dikeluarkan.

Kalau sekarang ini, yang paling penting ditulis buat saya sih:
  • Area yang akan dieksplor di tiap harinya
  • Point of interest  tiap harinya
  • Transportasi, terutama jika akan pindah tempat / kota
  • Penginapan
  • Hitungan kasar untuk budget yang akan dikeluarkan, biar bisa bawa uang yang tidak kurang dan tidak berlebihan juga

Dulu saya selalu pakai Excel ketika bikin plan jalan-jalan, simply because I love Excel so much. Karena selain rapih, Excel juga bisa banget di-utilize untuk hitung-hitungan budget. Sekarang saya masih pakai Excel juga (baik di kerjaan atau di rumah untuk urusan pribadi), tapi udah beralih ke Google Sheets. Selain biar bisa dibuka pake laptop pribadi atau kantor atau bahkan HP kalau pas kepepet, juga karena biasanya pas bikin itinerary saya sering keroyokan sama Junda. Pakai Google Sheets ini jadi gampang tektokan dan kolaborasinya. Jadinya ga ada lagi tuh ceritanya kirim-kiriman file Excel dengan nama itineraryjepang2020-fix.xlsx atau itineraryjepang2020-fixbangetbanget.xlsx hahaha.

Trello