Odawara & Hakone

Lake Ashi

Karena belum ada hilal bisa jalan-jalan lagi, saya pun iseng buka-buka foto lama dan teringat bahwa masih banyak banget cerita yang belum ditulis di sini dari perjalanan ke Jepang tahun 2019 kemarin. Supaya tidak lupa, saya pun jadi berniat untuk mencicil nulisnya, mudah-mudahan ga wacana ya wkwk, aamiin! 

Hari keempat di Jepang, sebenarnya kami berencana untuk main ke Kamakura, namun dari malam sebelumnya saat bertemu dengan teman saya, si Martin, dia berkata bahwa prakiraan cuaca menunjukkan bahwa esok harinya akan hujan seharian. Pantai dan hujan sepertinya bukan kombinasi yang baik, sarannya. 


Ternyata benar, hari itu hujan turun dengan deras sedari pagi. Tanpa pikir panjang, kami pun langsung mengalihkan tujuan ke Odawara, yang masih sejalan dengan tempat kami akan menginap malamnya di daerah Hakone. Beruntungnya pagi itu Masaru-san, host Airbnb kami, berbaik hati mengantarkan kami ke stasiun.


Saya sebetulnya clueless banget ada apa di Odawara, berhubung seluruh riset tentang itinerary dilakukan oleh Junda. Tapi tampaknya dia excited banget hari itu karena Odawara udah lama ada di bucket list-nya.  Sesampai di stasiun Tsurukawa, kami selfie bentar dengan Masaru-san lalu bergegas naik kereta ke Odawara.  Hanya perlu satu jam, kami pun sudah sampai di Odawara. Setelah mengarungi hiruk pikuk Tokyo di hari sebelumnya, sesampai di Odawara nuansa santai dan lambat khas kota kecil langsung membuat kami merasa lebih nyaman.


Sukiya cintaqu, apakabar?

Sebenernya saat itu jamnya agak tanggung karena ada di antara sarapan dan makan siang. Tapi berhubung pagi tadi kami belum sarapan yang layak (baca : belum disentuh karbohidrat, wkwk), kami pun langsung memutuskan untuk brunch aja karena perut yang sudah mulai krucukan dan mood yang mulai mengarah ke hangry. Saat itu kami baru saja sampai di kota yang baru dan ga terlalu punya waktu untuk cari-cari dan googling, jadinya when in doubt, we always opt for Sukiya karena murah dan udah pasti enakk. Sukiya ini chain seperti Yoshinoya yang menjual gyudon dan makanan-makanan lain, but make it better (and cheaper!). Hujan-hujan makan gyudon anget ngebul langsung bikin perut kami nyaman. Junda pesen yang triple cheese sementara saya pesan menu set lengkap dengan miso soup dan salad.  Yum!



Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan mencari payung karena hujannya semakin deras. Kalau udah gini, tentu andalan kami adalah toko 100 yen. Selain Daiso, ada Can-Do dan juga Seria. Kami beli payung transparan khas jepang seharga 100 yen, lalu lanjut jalan kaki menuju ke Odawara Castle.

Sepanjang perjalanan, saya mendapatkan kuliah singkat mengenai sejarah Odawara castle oleh Junda, yang tentu saja masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Wkwk. Nanti kalau Junda mood untuk menulis, dia akan tulis kisah singkat tentang Odawara Castle di sini ya, sekarang orangnya lagi sibuk ngoding dan terlihat ga bisa diganggu. Haha.

Beberapa pohon Sakura sudah terlihat bermekaran di halaman kastil.



Karena saya ngga terlalu tertarik, jadi kami ngga masuk ke dalam kastil dan cuma main di sekitar halamannya saja. Jatah masuk ke kastil kami simpan untuk ke Osaka castle nantinya. Setelah lelah muter-muter di sekitar situ, menuju sore kami bergegas ke terminal bus untuk menuju Hakone, sebelumnya tak lupa membeli perbekalan makan malam terlebih dahulu di konbini karena kelihatannya tempat kami menginap terletak di antah berantah. 



Bus yang kami naiki melaju dan suasana di luar jendela berubah dari mulai perkotaan Odawara, desa-desa, hingga tiba-tiba bus mulai menanjak naik ke pegunungan. 

Ketika sampai di halte tujuan, ternyata letaknya beneran di atas gunung di antah berantah. Untungnya, tempat kami menginap ada tepat di sebelah halte busnya. Walaupun kami booking dari AirBnb, ternyata akomodasi kami malam itu adalah sebuah hotel kecil modern tapi tetap mengusung style tradisional (?). Kamar kami malam itu bernuansa ryokan dengan tatami dan fuuton, tapi dengan sentuhan modern. 

Sebenarnya ketika memilih untuk menginap di sini, ekspektasi kami dibikin serendah mungkin karena harganya yang relatif murah dibanding penginapan lainnya. Jadi rasanya hepi bukan main karena ternyata di sini ada onsennyaaa! Akhirnya bisa nyobain rendeman di onsen, dengan harga yang masuk di kantong turis frugal macam kami hahaha. Di sini onsennya syariah (dipisah ikhwan & akhwat) jadi ga usah khawatir. Serunya lagi ada onsen yang letaknya semi outdoor dengan pemandangan hutan gitu. Selama menginap kami 3x berendam di onsen (haha maaf kemaruk) dan untungnya ga pernah ketemu tamu-tamu yang lain. Suasananya sepi dan tenang banget, apalagi malam itu seharian hujan turun dengan derasnya.

Our ryokan-style room

Fuuton, DIY atur-atur sendiri pas mau bobo


Yuhuu~ siap tidur ala Nobita



Sebenarnya kami agak khawatir karena hari itu hujan turun deras, khawatir acara jalan-jalan kami di Hakone esok harinya terganggu dan jadi ga bisa liat Gunung Fuji, namun ternyata besok harinya cerah sekali. Namun walau begitu, tetap saja chance untuk lihat gunung fuji ga terlalu tinggi karena agar supaya gunungnya keliatan, harus cerah di dua tempat berbeda; di tempat kita melihat gunung + di gunungnya sendiri. Tapi berhubung di trip pertama ke Jepang saya sudah sempat lihat gunung Fuji, jadinya ngga terlalu sedih-sedih amat kayanya kalau pun ga bisa lihat gunungnya.

Ternyata pagi itu cerah sekali! Kami bergegas packing dan memutuskan untuk jalan kaki menuju Lake Ashi yang letaknya gak terlalu jauh dari penginapan. 

Di depan penginapan

Danau yang terlihat di ujung jalan


Henlo! Tadinya kami mau sarapan di restoran ini tapi sayangnya masih tutup..

Walau terlihat dekat, ternyata lumayan juga rasanya jalan kaki dengan membawa gembolan. Untungnya kami disuguhi pemandangan yang indah; villa-villa besar yang bikin halu pengen KPR di Hakone, rumah-rumah tua, dan hutan-hutan. Akhirnya kami sampai juga di pinggir danau, ditandai dengan kapal pesiar style bajak laut yang akan kami naiki menuju ke Hakone.

The Pirate ship

Sebenernya ada banyak banget aktifitas yang dilakukan dan objek wisata untuk dikunjungi di Hakone, kita bisa ke kawah belerang, naik cable car, ke museum-museum, dan lain-lain. Namun karena ga terlalu tertarik, jadinya kami cuma naik pirate ship untuk mengarungi danau aja. Kami naik kapal dari Togendai port menuju ke Motohakone port. Jika cerah, sebenarnya dalam perjalanan ini kita bisa lihat Hakone Jinjya Heiwa-no-Torii dengan latar belakang gunung Fuji, kurang lebih seperti ini:





Sepanjang perjalanan udara dingin banget walaupun cerah, angin menampar menusuk-nusuk. Cruise-nya sendiri cuma sejam kurang lebih, tapi rasanya tersiksa banget menahan dingin, tapi ditahan-tahan karena kalau masuk ke dalam bagian dalam kapal jadi sayang karena ga bisa lihat pemandangan dengan jelas. Jadinya ya bentar-bentar masuk ke dalam buat ngangetin badan, trus keluar lagi, gitu aja terus sampai akhirnya kapal merapat. Gunung Fuji saat itu tertutup awan yang tebal, jadinya pupus sudah harapan kami untuk melihat Fuji dari Lake Ashi, tapi tak mengapa, karena pemandangan yang lainnya juga udah cukup menyegarkan mata.



Setelah kapal merapat di pelabuhan Motohakone, kami lanjut berjalan kaki menuju ke Hakone Shrine, untuk melihat Torii yang terlihat di pinggir danau. Sampai di sana, ternyata sudah ada antrian sosial media karena ada banyak orang yang ingin selfie dengan si torii :), saya yang cuma pengen motret gate-nya juga terpaksa ikut ngantri dan agak rada awkward waktu dapet giliran dan berujung cuma motret kilat dan kabur wkwkwk.

Social media queue

Junda yang disuruh motret muda mudi

Setelahnya kami langsung nyari tempat makan karena udah lapar berattt. Selama di kapal tadi kami udah riset kilat dan memutuskan untuk makan di salah satu warung di pinggir danau. Review di Google Maps terlihat menjanjikan dan harganya juga terlihat affordable jika dibandingkan dengan warung-warung sekitar karena ada di daerah turis.


The sad-looking teddy bear in front of the shop :(

Dari luar, penampakan warungnya tampak tidak terlalu atraktif, persis seperti warung-warung yang dikunjungi oleh Suda di serial Road to Restaurant List di Netflix. Warung tua yang sudah berdiri sejak lama, dan dikelola turun-temurun oleh keluarga. Ketika masuk, saya dan Junda adalah satu-satunya pengunjung. Nuansa warung terlihat tua namun nyaman, dan kami langsung disambut oleh pemilik warung, seorang ibu yang sudah tua.

Kami memilih udon, karena semangkuk udon hangat di cuaca yang dingin terlihat seperti ide yang brilian sekali. Junda pesan raw-egg udon dan saya pesan vegetables udon yang menggunakan edible wild plants.

Harganya lumayan affordable untuk ukuran tempat yang rame turis

Vegetable udon

Raw-egg udon

Ngebul~

Hati senang makan udon hangat dengan mie yang gendut-gendut, kami pun melanjutkan perjalanan ke terminal bus untuk menuju kembali ke Odawara lalu lanjut naik bus malam ke Nagoya.

To be continued...

3 comments

  1. Miraaa, sehati banget kita, belakangan jg ku pengen nulis cerita jalan - jalan yang blm sempat dipost karena kangen banget traveling tapi blm ada hilal-nya juga X)

    btw, nice post mir! berhasil bikin kabita makan udon dan gyudon! hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. horee, buruan zu tulis biar ada bacaan. hehe. mudah2an bisa cepet jalan2 lagi yaa zuuu, aamiin!

      Delete
  2. Saya juga sekarang cuma bisa nulis cerita dari waktu traveling BC (before Covid), sama paling nulis dari traveling tipis-tipis ke beberapa tempat di Jawa. Lihat foto-foto penginapannya yang ala ryokan bikin mata adem. Jadi inget waktu ke Kyoto, nginep di tempat yang proses check in dsbnya high tech banget, tapi pas udah masuk suasanya kayak ryokan gitu, jadi bikin pengen leyeh-leyeh seharian. :D

    ReplyDelete