Showing posts with label Iceland. Show all posts
Showing posts with label Iceland. Show all posts

Singgah Setitik di Reykjavík


 

Meskipun Reykjavík adalah salah satu kota impian saya, lucunya saat ke Iceland kemarin kota ini malah cuma disinggahi sekejap saja. Soalnya, saya dan teman-teman memang pada akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di jalan mengelilingi Iceland. Terlebih lagi, di Reykjavík harga penginapannya lumayan mahal, makanya di hari pertama sampai dan di hari terakhir, kami memilih menginap di pinggiran luar kota.

Sólheimasandur Plane Wreck Mengajarkan Saya Betapa Pentingnya Riset Sebelum Jalan-Jalan


Hari ke-4 di Iceland dimulai dengan mengunjungi Jökulsárlón untuk kedua kalinya (karena arah kami yang kembali mendekati Reykjavík) dengan kabut tebal yang bikin suasana jadi mistis tapi asik, lalu hari berubah cerah ketika kami berkunjung ke Skaftafell National Park. Setelahnya, di perjalanan menuju Airbnb, saya yang menjadi navigator melihat kalau di peta ada objek wisata lain yang dekat dengan posisi kami saat itu. 

Sólheimasandur Plane Wreck namanya. 

Skaftafell National Park


Sebenarnya, tempat ini tidak ada di dalam rencana perjalanan selama di Iceland. Akan tetapi, di perjalanan pulang menuju Reykjavik dari Djúpivogur, kami semua mendadak ingin berkunjung lebih dekat ke gunung glacier yang terlihat dari kejauhan. Setelah melihat peta, ternyata ada Skaftafell National Park di mana kita bisa melihat glacier dari dekat, bahkan berjalan di atasnya.

Iceland : Black Sand Beach & Glacier!

Melanjutkan perjalanan menulusuri jalur Selatan Iceland, setelah Seljalandsfoss dan Skógafoss kita akan menemui sebuah pantai unik berpasir hitam bernama Reynisfjara. 

Reynifsjara: Black Sand Beach.

Biasanya, pantai selalu mempunyai aura yang cerah dan ceria; musim panas, pasir putih, air dan langit yang biru, hangat. Ketika sampai di Reynifsjara, mood yang diciptakan benar-benar terbalik 180 derajat; langit suram kelabu, pasir hitam, dan orang-orang yang mengancing winter-coat hingga ke pangkal leher, rapat-rapat. Moody, and somehow otherworldly. Saya langsung terbayang scene ketika Dumbledore mencoba untuk menghancurkan salah satu Horcrux-nya Voldermort.


Iceland: Land of Waterfalls


Kembali lagi ke catatan perjalanan Iceland, yang rasanya suliiiit banget untuk diteruskan, berhubung menyortir ribuan foto bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi daripada semakin malas dan semakin lupa, saya bertekad untuk menyelesaikan cerita Iceland sebelum menulis yang lain-lainnya. *kencengin iket kepala.

Ada banyak banget yang nanya, "apakah di Iceland banyak es?". Ya berhubung arti dari Iceland secara harafiah adalah tanah es.
Jawabannya: dibandingkan dengan es, saya lebih banyak menemukan air terjun dan pelangi.

Golden Circle Iceland

Foto-foto dan tulisan ini rasanya udah basi banget deh, berhubung ke Iceland-nya udah setahun yang lalu. Hehe. Selain karena memang lumayan sibuk, effort untuk nulis tentang Iceland di blog itu rasanya besar banget. Karena fotonya sendiri aja ada ratusan! Ngebayangin harus pilih-pilih foto itu yang selalu bikin saya tiba-tiba males dan jadi malah mengerjakan hal lain, misalnya nonton Netflix. Haha.


But, here I am now! Sukses melawan rasa malas untuk nulis-nulis di blog lagi.

Setelah landing di Reykjavik di malam menuju dini hari, keesokan harinya kami bersiap untuk memulai petualangan pertama di Iceland; menyusuri Golden Circle. Ini adalah rute wisata paling populer yang terletak di bagian Selatan di Iceland. Rute ini paling hits di antara para turis mungkin karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari Reykjavik, ibu kotanya Iceland. Rute ini dibagi menjadi tiga wilayah, Þingvellir National Park (baca: Thingvellir), Geysir Geothermal Area, dan Gullfoss Waterfall.

Finally, Iceland!


Prolog :
Hari Minggu siang, Mira kecil sedang bermalas-malasan di depan televisi. Saat itu televisi sedang menayangkan tayangan dokumenter mengenai Northern Lights atau Aurora Borealis di Iceland. Pemandangan cahaya hijau terang yang menari-nari di langit malam yang gelap terasa dreamy dan surreal sekali. It’s otherwordly. "Bisa ga ya, aku liat itu dengan mata kepalaku sendiri?", pikirnya di dalam hati. 
Beranjak ke SMA, Mira remaja suka sekali mendengarkan band beraliran shoegaze dari Iceland, Sigur Rós. Keinginan untuk mengunjungi negara asal band tersebut makin menggebu-gebu setelah ia menyaksikan film dokumenter Sigur Rós yang berjudul Heima.

10 tahun berlalu, akhirnya Mira berhasil menginjakkan kakinya di Land of Fire and Ice :')