Sólheimasandur Plane Wreck Mengajarkan Saya Betapa Pentingnya Riset Sebelum Jalan-Jalan


Hari ke-4 di Iceland dimulai dengan mengunjungi Jökulsárlón untuk kedua kalinya (karena arah kami yang kembali mendekati Reykjavík) dengan kabut tebal yang bikin suasana jadi mistis tapi asik, lalu hari berubah cerah ketika kami berkunjung ke Skaftafell National Park. Setelahnya, di perjalanan menuju Airbnb, saya yang menjadi navigator melihat kalau di peta ada objek wisata lain yang dekat dengan posisi kami saat itu. 

Sólheimasandur Plane Wreck namanya. 
Berdasarkan gambar di Google, Sólheimasandur Plane Wreck sesuai dengan namanya adalah bangkai pesawat US Navy yang jatuh di tahun 1973. Yang membuat dia 'agak' spesial adalah keberadaannya yang ada di.. Iceland, dengan pemandangan padang pasir hitam dan Aurora Borealis (jika kamu beruntung dan ingin menunggu). Terdengar tidak terlalu spesial sih sebenarnya, dan ditambah lagi saat itu hari sudah menjelang petang dan terlihat kalau gelap akan segera datang. Tapi berhubung di peta terlihat kalau lokasinya dekat, then what could go wrong? Palingan kami hanya akan parkir sebentar, foto-foto trus langsung cabut lagi menuju AirBnb sebelum hari gelap, begitu pikir kami. 

"Dia di pinggir jalan banget kok tempatnya..", ujar saya meyakinkan sambil memperlihatkan peta

Rute kami hari itu, Sólheimasandur Plane Wreck ada di pinggir jalan banget gitu, masa iya ga mampir?

Yang terjadi berikutnya, adalah salah satu hal paling zonk yang pernah saya alami selama hidup ini.

Dari parkiran, hanya terlihat hamparan pasir hitam yang luas tanpa ujung. Hanya ada jalan setapak berkerikil dan orang-orang tampak berjalan ke sana. 

"Oh palingan jalan agak ke sana jadi pesawatnya ga langsung kelihatan", pikir saya saat itu

Saya terus berjalan, sedikit terpisah dengan yang lain. Brata dan Vivi tertinggal jauh di belakang karena foto-foto dulu, sementara Dharma terpisah beberapa meter di belakang saya.

5 menit.. 10 menit.. 15 menit.. tidak ada tanda-tanda keberadaan bangkai pesawat. Saya melihat ke belakang dan parkiran tempat mobil kami parkir tadi terlihat jadi sangat kecil nun jauh di sana. Di depan hanya ada jalan setapak lurus selurus-lurusnya.

Parkiran terlihat nun jauh bagai titik di sana

30 menit berlalu.. Oh ini kah rasanya berjalan di padang mahsyar? Seperti tiada ujungnya. Udara sangat dingin menusuk dan perjalanan ini jadi terasa begitu membosankan. Ingin balik ke mobil tapi rasanya nanggung karena jalannya udah jauh, ingin maju tapi tidak tahu harus berapa lama lagi jalan kakinya. Berasa seperti terperangkap di antara dua pilihan yang sama-sama tidak asik. Saya dan Dharma mulai jalan bersama sambil ngedumel dan merutuki keputusan kami untuk mampir ke sini. Kalau saja tadi langsung jalan ke AirBnb, pasti kami sudah mandi air hangat dan selimutan sambil minum teh hangat :")

Sejauh mata memandang..

Saya langsung males deh ngebayangin nanti jalan baliknya gimana. Apalagi hari sudah semakin gelap dan gak ada lampu di sana :")

Mobilnya makin keciiiil

Sekitar 40 menitan kemudian, akhirnya saya dan Dharma mulai mendengar sayup-sayup suara orang ramai, yang sepertinya menandakan kalau kami sudah mau sampai. Tak lama kemudian, akhirnya, terlihatlah bangkai pesawat yang teronggok di antah berantah. 


Saya dan Dharma be like, "Udah nih gini aja??"


Segala macam umpatan dan kata sumpah serapah rasanya ingin keluar dari mulut ini (udah keluar sih, haha). Pesawatnya ya udah gitu aja, sedikit lebih kecil dari perkiraan. Oiya, ga jauh dari pesawat ada pantai. Buat saya sih ga ada yang spesial, terlebih lagi mengingat perjalanan menuju ke lokasinya dan memikirkan jalanan yang harus ditempuh untuk kembali ke mobil - rasanya tidak setimpal sama sekali. It's not worth it kalau kata anak-anak jaman sekarang.

 Dharma seemed not impressed at all :))

Tanpa pikir panjang kami langsung balik badan sambil tetap ngedumel, ga lama kemudian kami berpapasan dengan Brata yang tampaknya terpisah dengan Vivi. Brata masih penasaran untuk lanjut ke pesawat meskipun sudah diperingatkan wkwk, ya nanggung juga sih ya udah jalan jauh gitu ga liat apa-apa. Saya dan Dharma langsung minta kunci mobil karena mau menghangatkan diri begitu sampai duluan.

Heading back 

Perjalanan pulang ternyata lebih berat. Awalnya kami masih sedikit terhibur dengan senja yang lumayan cantik tapi beberapa saat kemudian jadi bete lagi karena hari jadi gelap segelap gelapnya. Bayangin aja di antah berantah tanpa lampu gitu. Rasanya kayak jalan sambil merem tanpa tau ujungnya :") Sumber penerangan hanya akan ada ketika ada mobil yang nyala dan pergi meninggalkan parkiran. Akhirnya saya dan Dharma bergantian memakai senter dari HP yang sebetulnya juga kurang membantu.

Sepanjang jalan gelap dengan angin dingin berhembus menusuk tulang, saya jadi banyak merenung dan berdzikir hahaha. What am I doing here? What is life? 

Ga lama, kami sampai di mobil dan disusul oleh Brata beberapa menit kemudian. Pertanyaannya, di manakah Vivi??

Brata berkata udah ga ketemu Vivi lagi sejak dia papasan dengan saya dan Dharma, padahal kami juga gak melihat Vivi sama sekali di perjalanan pulang. Padahal jalanannya yaudah cuma yang lurus itu aja - kecuali jika Vivi ga ngikutin trek yang udah ditentukan, which she apparently did wkwk. Setelah hampir sejam berlalu dengan usaha menelpon Vivi (yang tentu saja susah karena di antah berantah begini ga ada tower BTS), doa komat kamit, dan mengamati wajah setiap orang yang datang ke parkiran, akhirnya Vivi kembali dengan selamat sampai mobil dengan muka yang merah kedinginan dan raut muka yang sedikit terguncang. Tampaknya perjalanan jalan kaki gelap-gelap tadi lumayan memberikan efek trauma ke banyak orang.


Setelah melihat peta, ternyata jalan yang kami tempuh dengan berjalan kaki adalah... 4 Kilometer.. satu arah. HAHAHAHA, jadi silakan dikalikan 2 :)

Pesan moral yang bisa dipetik para pembaca (kalo ada yang baca):
Do your research! Waktu itu saya memang ga terlalu bikin itinerary yang detail ketika di Iceland. Saya hanya bikin rute roadtrip dan ngelist daftar tourist attraction yang ada di sepanjang rute tanpa riset lebih lanjut. Jangan impulsif mampir-mampir hanya karena semua orang mampir dan foto di sana. Karena ternyata setelah baca komen-komen di Google Review, semua orang mengeluhkan hal yang sama. Hahaha



Langsung nulis review ini begitu sampai di parkiran hahaha

4 comments

  1. Lumayan juga jalan 8 km di tengah udara dingin dan menjelang gelap di antah berantah. Untungnya Iceland ya, jadi gak mungkin ada apa-apa juga, gak ada binatang buas juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di setengah perjalanan terakhir malah udah pitch black beneran.. Tapi ga ada apa-apanya itu yang bikin was-was, kayak ada perasaan yg ga enak karena seperti ga ada ujungnya

      Delete
  2. Duuuh bete banget itu pasti rasanya, buat saya 8 km itu lumayan juga jauhnya mba :"D mana ternyata hasilnya nggak sesuai yang mba bayangkan, jadi double bete ahahaha. Kasihan juga teman mba (Vivi) harus jalan sendirian di kegelapan, pasti trauma :<

    Tapi kalau kata simbah saya, selalu ada untung dibalik setiap kesialan, mungkin untungnya mba jadi bisa olahraga sejenak jalan kaki 8 km jauhnyaa :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya nih, padahal biasanya kalo lari 5km ga berasa. Sebenernya yg bikin berasa banget karena selama 8km itu ga ada apa-apanya sih.. kemonotonannya itu yg bikin sebel. Beda dengan naik gunung. Bener banget, jadi olahraga! hehe.

      Delete