Showing posts with label Laos. Show all posts
Showing posts with label Laos. Show all posts

10 Hal yang Bisa Kita Lakukan di Luang Prabang

*Warning : bandwith killer! Too much photos!

Jika berkunjung ke Laos, saya sangat merekomendasikan untuk menghabiskan waktu lebih di Luang Prabang. Karena kota yang letaknya agak di Utara ini merupakan tempat ter-favorit saya selama di sana. Sisihkan waktu setidaknya 2 hingga 3 hari untuk menjelajahi kota ini. 

Memangnya bisa ngapain aja sih di Luang Prabang?

Berikut 10 hal yang bisa dilakukan di Luang Prabang versi Mira Afianti.

Selalu ambil peta di resepsionis dan pinta mereka untuk menunjukkan tempat-tempat menarik di kota tersebut.

Alms Giving Ceremony, Luang Prabang


Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Buddha, salah satu hal yang menjadi daya tarik Laos adalah upacara pemberian sedekah (biasanya berupa makanan atau hadiah dalam bentuk lainnya) kepada biksu. Upacara ini sering disebut dengan Alms Giving Ceremony. Umumnya berlangsung di pagi buta, di saat-saat menuju terbitnya matahari. 

Di Vang Vieng, 2 hari berturut-turut kami melewatkan upacara ini dikarenakan susahnya untuk bangun pagi melawan gravitasi kasur yang lumayan posesif. Saat tiba di Luang Prabang kami langsung membulatkan tekad untuk bangun pagi demi menyaksikan tradisi yang sudah ada sejak dahulu kala ini.

Vang Vieng

Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, kami terpaksa turun dari van yang ternyata telah sampai di perhentian terakhirnya. Saya mengedarkan pandangan ke sekitar, ada lapangan luas dengan beberapa balon udara yang hendak bersiap-siap terbang. Di kejauhan kelihatan siluet bukit-bukit karst yang tampak seperti lukisan. Setelah perjalanan sejauh 158 km yang ditempuh dengan waktu 3 jam dari Vientiane, melewati jalanan yang rusak di sana sini dengan pemandangan desa-desa yang diselimuti debu, akhirnya kami tiba di Vang Vieng.

Singgah Super Kilat di Vientiane


Seperti yang sudah diceritakan secara singkat di postingan sebelumnya, kunjungan kami di ibukota Laos ini hanya sebentar saja. Penyebabnya saat browsing sebelum berangkat, objek wisata di seputar Vientiane tampak tidak terlalu menarik untuk kami. Kebanyakan kuil dan monumen-monumen gitu deh. Karena kami anaknya NakAl (nak alam) banget, bawaannya emang males ke kuil dan udah pengen cepet-cepet main air di Vang Vieng. Jadilah kami memutuskan untuk tidak menginap dan langsung berangkat ke Vang Vieng begitu sampai di Vientiane.

Sabaidee, Laos!

*) Sabaidee = hello!
Now you know how to greet people in Lao
--
Dulu sama sekali nggak tertarik untuk mengunjungi Laos. Mungkin karena namanya yang kurang populer jika dibandingkan tetangga-tetangganya seperti Thailand, Vietnam, atau bahkan Kamboja. Tapi karena kemarin lagi pengen liburan bareng house-mate (perasaan pengen liburan terus) yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya dan bingung menentukan destinasi yang belum pernah dikunjungi dengan biaya yang terjangkau, akhirnya tercetuslah Laos.

Patuxay Momument, Vientiane. 

Laos memang nggak punya pantai, tapi ternyata banyak sekali aktivitas asik yang bisa kita lakukan di sana. Setelah mengunjungi Laos, saya bisa dengan pede bilang kalau negara ini adalah negara tujuan favorit saya di Asia Tenggara sejauh ini (padahal ke Singapura dan Brunei belum pernah). Ini murni preferensi pribadi, karena Laos adalah surganya kegiatan outdoor yang  berbau alam! Meski semua negara-negara di Asia Tenggara yang pernah saya kunjungi selalu seru dan keren dengan cara yang berbeda, tapi entah kenapa perjalanan ke Laos kemarin ini rasanya paling berkesan. Salah satu faktornya mungkin karena perjalanannya ditemani teman-teman yang asik (cieee..)

Postingan ini akan membahas tentang gambaran umum perjalanan ke Laos kemarin.

Drama itu Berjudul Deportasi

Singkat cerita, saya dan 3 orang teman (Riwe, Whe, dan Bongo) rencananya akan melakukan perjalanan 7 hari Laos - Vietnam. Semua berjalan lancar, dari mulai booking tiket pesawat, penginapan, susun itinerary, sampai pada akhirnya di H-2 keberangkatan drama dimulai saat saya hendak melakukan web check-in di situs Air Asia.

Setelah memasukkan nomer paspor dan masa berlaku, saya, Riwe, dan Bongo sukses mendapatkan boarding pass. Tapi ada sebuah notifikasi dengan background merah yang mengatakan kalau Whe tidak bisa melakukan web-checkin dan harus melapor ke check-in counter. Setelah ditelusuri, barulah kami sadar kalau paspornya Whe mempunyai masa berlaku yang kurang dari 6 bulan. Kami berangkat pertengahan Maret, sementara paspor Whe akan kadaluarsa di awal September. Masalahnya cukup sepele ya. Setelah Googling sih banyak success story di imigrasi Indonesia dan Malaysia, asalkan kita punya tiket pulang. Tapi bagaimana dengan Laos dan Vietnam? Wallahualam. 

Kami sudah mencoba berbagai alternatif, dari mulai mencoba mencari calo paspor canggih di imigrasi Soekarno-Hatta yang bisa memperpanjang paspor kurang dari 1x24 jam -- yang ternyata nggak ada, sampai menyusun berbagai skenario drama. Dari mulai mau jenguk istri yang lagi melahirkan di sana lah, sampai daftar seminar random di eventbrite just in case ditanyain mau ngapain di sana. Hahaha.

Akhirnya diputuskan, Whe akan gambling. Di tiap imigrasi yang akan dilaluinya. Because we'll never know until we tried. 

Checkpoint #1 : Imigrasi Indonesia
Waktu di check-in counter Air Asia, cuma diperingatkan aja kalau paspornya mau habis. Tapi saat nunjukin tiket pulang, aman. Di imigrasi Indonesia juga masih aman, paspor Whe sukses dicap dan kami jalan dengan happy ke waiting room. Sempet selfie-selfie dulu untuk selebrasi.

Mission #1, accomplished!

Checkpoint #2 : Imigrasi Kedatangan Malaysia
Aman. Ga ditanya apa pun. Kami rayakan dengan makan nasi lemak dan bobok di musholla.