Showing posts with label ceritera. Show all posts
Showing posts with label ceritera. Show all posts

Journey to Snowdon, Episode 1 : The Car

Episode 1: The Car

"The payment has declined", 

 said the card machine for the 20th times, I lost count, tbh.


It was our second day after we arrived in London. We were supposed to pickup the rented car that we've booked and paid in-advance, and heading Northwest to Snowdon first thing in the morning since it will be a long journey and we hoped to arrive before it gets dark. 

Breakfast in our AirBnb, and stairway to hell to the flat. I just remembered that I took this photo because Junda fell off when carrying our luggage in this narrow & steep stairs. Maybe that was the sign. Haha


All cheered up and happy when waiting for the bus. The weather was lovely.


Everything seemed smooth, we had breakfast and packed our lunch and brew our own coffee. We then rode the bus for around 1,5 hours from our Airbnb in Muswell Hill to Europcar office in Park Royale. Considering that we brought along two huge luggages, bus was the most convenient options albeit took longer than tube, but still, we managed to arrived on time at 9AM. There was no problem when we mentioned our name for the reservation, hand in our passport and driving license. The major problem revealed itself when the Europcar guy asked us to hand in our card since he needed to secure £250 deposit before giving us the key. 


We then hand in our first credit card.


"The payment has declined",
Strange, we thought. We didn't see it coming.

Living More with Less

It's been agessss since I write the last post, due to lack of any kind of happening. I'm still working for home, although me & Junda kinda let loose a lil bit more now. We sometimes eat out, visiting friends, and various other errands. Other big chunk of my activity lately is doing massive decluttering and selling things that we no longer need. 


To some of you who might be following me on other media, you might realized that for the past few weeks I'm actively selling stuff there. Me & Junda are trying to commit more to this minimalist lifestyle, not only our dwelling is small, but we also don't really need much things anyway after contemplating. Although my version of minimalist lifestyle is not at the level of Fumio Sasaki yet, who could fit all of his belongings to a small suitcase. Mine is more on reducing redundant stuff, such as multiple shoes that all has the same purpose, or books that we already own the digital version of, or utensils that only differs in color or pattern even though the function is pretty much the same.



Goodbye, 2020!

2020 trained me to look away from screens after office hours, so I just realized a few days ago that the third month of 2021 almost passes me by without me doing the annual tradition, writing yearly review. Even though it is way too late, here goes the story of my 2020.


I loathe 2020 as much as the next person, it locked us down in our home and threw away all hopes of flexing walking muscle (bye UK trip that already planned a year prior!), it is especially a hard year in which to lose loved ones, not that any year is better than others in this regards, but the feeling when you realize that someone who you just know will be there for a very long time, is suddenly nowhere to be found, is surreally common in 2020. However, few things still exists that I could be grateful for. 


Will tell our kids someday that there was a time that we go trekking with masks on

Masagi Koffee: Kucing, Rumput Hijau, Kopi, dan Croissant Enak!

Tulisan ini sudah ada di draft blog sejak jaman kapan, tapi baru kali ini punya niat dan keinginan untuk diselesaikan. Hehe. 

Masih lanjutan dari cafe-hopping di Bandung, salah satu cafe favorit saya dan Junda untuk bekerja adalah Masagi Koffee. Cafe mungil yang terletak di daerah Ciumbuleuit atas ini suasananya 'Bandung' banget. Terletak di area perumahan yang dikelilingi pepohonan rimbun, cafe ini terdiri dari satu bangunan mungil berisi cofee-bar dan kasir, serta area outdoor yang cukup luas dengan pemandangan hamparan rumput hijau. Berhubung lokasinya yang terletak di daerah atas, cuaca di sini cukup sejuk dan bahkan kadang-kadang kami bisa agak kedinginan sedikit.

Si kuning lagi tidur siang di spot favorit

PANG-KUBAN : Pagi Ngopi bareng Kucing Bandung

Sudah 2 minggu belakangan ini saya dan Junda bekerja remote dari Bandung. WFH di kantor saya yang terus diperpanjang, bahkan kabar terakhirnya akan berlangsung hingga bulan Juli 2021, membuat kami yakin harus mengungsi sebentar dari petakan kecil apartemen agar bisa terus semangat menempuh badai WFH. Tadinya sempat terpikir untuk kerja dari Bali, berhubung harga AirBnb di sana yang sangat menggiurkan karena turun drastis akibat pandemi, tapi akhirnya kami ubah haluan ke Bandung, karena pas banget ada unit apartemen tante yang sedang kosong karena penyewanya ngga melanjutkan kontrak. 


Selain karena akomodasi yang kurang lebih udah didapat, Bandung terdengar sebagai plan yang bagus karena jaraknya yang ga terlalu jauh dan cuaca yang relatif lebih sejuk dari Jakarta. Terlebih lagi, Bandung udah kayak rumah kedua buat saya, karena kalau dihitung-hitung saya lebih lama tinggal di Bandung (5 tahun) dibanding Jakarta (baru 2 tahun terakhir). Jadinya tiap ke Bandung tuh kayak lagi pulang kampung. So, Bandung it isss!

Life in the time of Corona


What a strange situation we're currently in, with the whole Covid-19 pandemic thing. Few months ago I was in my denial phase; I read and heard the news everywhere about how dangerous the virus is, yet I kept telling myself that "Meh, it's okay, it's just flu, I have healthy body". At that time, I guess I decided to keep my eyes closed as I didn't want to cancel all plans that I had.

Shirakawa-go : Buah dari Over Ekspektasi


Shirakawa-go udah lama banget ada di bucket list saya. Awalnya, saya tau Shirakawa-go waktu ngeliat foto salah satu teman saya yang sedang kuliah di Jepang. Fotonya menunjukkan suasana musim dingin di sebuah desa; hamparan rumah-rumah tradisional yang berselimut salju tebal dengan lampu temaram yang menyala hangat. Serene dan dreamy sekali. Saya langsung bertekad akan berkunjung ke sana jika suatu hari nanti kembali ke Jepang. 

Sólheimasandur Plane Wreck Mengajarkan Saya Betapa Pentingnya Riset Sebelum Jalan-Jalan


Hari ke-4 di Iceland dimulai dengan mengunjungi Jökulsárlón untuk kedua kalinya (karena arah kami yang kembali mendekati Reykjavík) dengan kabut tebal yang bikin suasana jadi mistis tapi asik, lalu hari berubah cerah ketika kami berkunjung ke Skaftafell National Park. Setelahnya, di perjalanan menuju Airbnb, saya yang menjadi navigator melihat kalau di peta ada objek wisata lain yang dekat dengan posisi kami saat itu. 

Sólheimasandur Plane Wreck namanya. 

Decade in Review

Happy new year!

I was intrigued to join the hype of posting a decade in review on twitter or instagram but then I realized why not writing a post instead? This decade is too long to be packed into an instagram or twitter post. Moreover, Junda wanted to join as well. So here it goes.

2010

Mira

I was in the third year of college, juggling within bunch of assignments and preparing for the final project. Attended my first international gig: Kings of Convenience and Jens Lekman!

With a few female classmates (engineering school - you could imagine)


20102018


So finally, last week, I got married! 

When I invited some of my friends to the wedding, they were wondering, "seriously?? you'll get married? with whom??". It might seem all of a sudden to some people, but to those who are close enough to me, it's not a big news. 

I'll tell you how the story started. But first, we need to get back to 2 years ago, when I first moved to London.

London Cooking Diary

Kemarin pas lagi liat galeri foto di HP, saya jadi takjub sendiri melihat foto-foto masakan waktu lagi kuliah di London. Dikarenakan alasan penghematan, saya hampir setiap hari masak! Ditambah lagi, kalau pun beli makanan biasanya rasanya juga kurang sesuai dengan lidah Indonesia saya yang udah akrab dengan bumbu yang kuat dan bermecin. Meskipun ada restoran yang menjual makanan Indonesia, tapi tetep aja sayang rasanya beli nasi padang seharga 10 pounds (sekitar 180ribu rupiah) yang duitnya bisa dipakai untuk belanja groceries untuk seminggu kalau saya mau meluangkan waktu sedikit untuk memasak.

Dulu rasanya seneng banget masak, karena saya menganggap kegiatan di dapur ini jadi semacam pelarian dari tugas-tugas kuliah yang bikin mumet. Saat itu pergi ke supermarket buat beli sayuran aja ku sudah senang #mure. Trus dulu kegiatan ngumpul-ngumpul bareng temen-temen Indonesia juga biasanya melibatkan kegiatan masak-masak atau minimal potluck (piknik tapi bawa makanan masing-masing untuk berbagi). 

Berikut saya menghimpun 10 masakan yang sempat saya dokumentasikan. 

1. Mie Ayam Jamur



Berjalan Berkeliling Lisbon


Kami semua bangun lebih pagi karena hari itu agendanya adalah jalan-jalan muter di kawasan old-town Lisbon dan berhubung searah, kami nebeng ibunya Rita yang akan berangkat ke kantor. Meskipun pagi itu rasanya lelah banget karena sisa-sisa mendaki dan jalan jauh di Sintra kemarin masih terasa, tapi kami tetap semangat karena dari kemarin memang belum main-main di pusat kotanya Lisbon.

Sebulan di London!

Gak kerasa, tanggal 14 Oktober kemarin saya sudah tepat sebulan menjadi warga London. Waktu memang berjalan cepat sekali. Terlepas dari absennya kehadiran orang-orang terkasih seperti keluarga dan sahabat, London rasanya akrab sekali dengan saya. Bahkan teman-teman saya yang dari Bandung juga bilang kalau rasanya mereka seperti nggak pindah kota. Soalnya somehow London memang Bandung banget sih, mendungnya. Meskipun ademnya sekarang udah nyampe 3x lipatnya Bandung. Haha.


Ditambah lagi, London itu kota yang multikultural banget. Kalau lagi jalan pasti akan dengar banyak orang yang ngobrol dengan bahasa yang berbeda. Jadinya kita nggak akan merasa asing sendirian di sini.

Oke, jadi apa aja update sebulan ini?

11 Random Questions

Being challenged by Ozu (psst, she just published her second book!) to answer 11 random questions. I found the questions are interesting so why not?

1. What are 5 little things that make you happy?

Books, cute and colourful stuffs (perintilan-perintilan unyu), cats, music, random conversation.

2. If it's possible to live your live like a movie, which movie would you choose? 

Luna Lovegood. source : here

BooksActually


Sebagai orang yang sering nggak tau diri kalau beli buku (sebagian besar ditimbun, bacanya nanti-nanti kalau pas lagi mood), salah satu tempat favorit saya adalah toko buku. Pokoknya bikin saya senang itu gampang banget lah. Ajak aja masuk ke toko buku, trus tinggalin sampai saya (akhirnya) capek berdiri melototin cover buku atau baca sinopsisnya satu-satu dan galau mikir harus beli yang mana. Makanya setiap ada kesempatan berkunjung ke negara lain, saya hampir selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku.

Kemarin pas lagi ada urusan ke Singapore, saya langsung semangat pengen berkunjung ke BooksActually. Toko buku yang satu ini memang udah dari lama saya kepoin di instagram, soalnya toko ini ngejual buku-buku penulis indie dari Singapore gitu deh. Sebagian buku-bukunya mereka terbitkan sendiri di bawah label Math Paper Press. Saya penasaran banget Singaporean literature (sing-lit) itu kayak apa. Akhirnya dibelain deh ke sini pagi-pagi, padahal tempatnya agak nyempil gitu di kawasan pemukiman. Stasiun MRT terdekat itu Tiong Bahru. Dari sana tinggal jalan kaki sekitar 800 meteran gitu lah. Pas saya nyampe, pas banget tokonya baru dibuka.

Another Pre-Wedding for Friend


Got (another) chance to do pre-wedding shot for my friend. The lucky couple are Riwe and Haris. The session was actually done months ago, and they're married already. But it's never too late to share the experience here. They wanted to take the photos at Moko, one of our favourite spot in Bandung that located near our house. We did this session early in the morning on weekday to avoid the crowd.

#DibuangSayang : Akhir Pekan Yang Panjang

Bulan Mei memang (hampir selalu) menjadi surganya tanggal merah. Di longweekend kali ini saya melakukan (yah, katakan saja) solo trip ke Jogja, kota yang memang selalu memanggil untuk kembali. Awalnya ke sana dengan maksud menghadiri pernikahan salah seorang teman, dan iming-iming perjalanan piknik ke Solo dengan beberapa teman. Tapi karena ternyata jadwalnya bertabrakan dengan jadwal sprint-meeting wajib di kantor, sebagai karyawan yang baik mau tidak mau saya harus ngantor virtual. One of the perks of working in a start-up, you can work anywhere!

Numpang meeting virtual di Blanco Books & Coffee, sekitaran Tugu. Tempatnya asik juga.

Drama itu Berjudul Deportasi

Singkat cerita, saya dan 3 orang teman (Riwe, Whe, dan Bongo) rencananya akan melakukan perjalanan 7 hari Laos - Vietnam. Semua berjalan lancar, dari mulai booking tiket pesawat, penginapan, susun itinerary, sampai pada akhirnya di H-2 keberangkatan drama dimulai saat saya hendak melakukan web check-in di situs Air Asia.

Setelah memasukkan nomer paspor dan masa berlaku, saya, Riwe, dan Bongo sukses mendapatkan boarding pass. Tapi ada sebuah notifikasi dengan background merah yang mengatakan kalau Whe tidak bisa melakukan web-checkin dan harus melapor ke check-in counter. Setelah ditelusuri, barulah kami sadar kalau paspornya Whe mempunyai masa berlaku yang kurang dari 6 bulan. Kami berangkat pertengahan Maret, sementara paspor Whe akan kadaluarsa di awal September. Masalahnya cukup sepele ya. Setelah Googling sih banyak success story di imigrasi Indonesia dan Malaysia, asalkan kita punya tiket pulang. Tapi bagaimana dengan Laos dan Vietnam? Wallahualam. 

Kami sudah mencoba berbagai alternatif, dari mulai mencoba mencari calo paspor canggih di imigrasi Soekarno-Hatta yang bisa memperpanjang paspor kurang dari 1x24 jam -- yang ternyata nggak ada, sampai menyusun berbagai skenario drama. Dari mulai mau jenguk istri yang lagi melahirkan di sana lah, sampai daftar seminar random di eventbrite just in case ditanyain mau ngapain di sana. Hahaha.

Akhirnya diputuskan, Whe akan gambling. Di tiap imigrasi yang akan dilaluinya. Because we'll never know until we tried. 

Checkpoint #1 : Imigrasi Indonesia
Waktu di check-in counter Air Asia, cuma diperingatkan aja kalau paspornya mau habis. Tapi saat nunjukin tiket pulang, aman. Di imigrasi Indonesia juga masih aman, paspor Whe sukses dicap dan kami jalan dengan happy ke waiting room. Sempet selfie-selfie dulu untuk selebrasi.

Mission #1, accomplished!

Checkpoint #2 : Imigrasi Kedatangan Malaysia
Aman. Ga ditanya apa pun. Kami rayakan dengan makan nasi lemak dan bobok di musholla.