Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts
Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts

Mendadak Santolo

Di long weekend liburan imlek lalu, tiba-tiba saya diajak ke pantai Santolo di Garut Selatan bareng pria-pria jomblo F30. Karena memang pada saat itu saya nganggur nggak punya rencana dan pada dasarnya emang nggak bisa diem di rumah, maka tanpa pikir panjang : okay, let's go!

"lihat, lautan luas" -- mamang kapal Santolo (diperagakan oleh model)

Trekking ke Patahan Lembang

Salah satu keuntungan tinggal di Bandung, selain dari hawanya yang masih lumayan sejuk, macetnya yang nggak separah Jakarta, banyak gigs dari band kece gratisan, banyak taman yang asik, makanannya yang murah, adalah kita bisa lebih dekat dengan alam.

Ingin kabur sebentar dari suasana perkotaan? Saya cuma perlu waktu sekitar 20 menitan dari rumah untuk sampai ke salah satu tempat favorit saya di Bandung ini. Yaitu adalah... Moko! Jaman dahulu, waktu masih muda dan yang dipikirin cuma gimana caranya ngerjain tugas-tugas kuliah yang banyak itu dan makan apa nanti malam, Moko masih sepi dan jarang dijamah oleh orang-orang. Warung Daweung yang ada di puncak Moko belum "mewajibkan" pengunjungnya untuk mengorder makanan minimal 25 ribu, sampahnya belum banyak, parkirannya masih 2 ribu (sekarang 5 ribu), dan masuk hutan pinusnya masih gratis (sekarang harus bayar 12 ribu). Tapi sekarang sejak Instagram dan sosial media lain meraja, semua pun berubah.

Patahan Lembang

Yah, meskipun begitu, Moko masih tetap asik dan tetap saja ada perasaan nyaman setiap kali melihat suasana hutan pinus yang rapat. Di kunjungan yang ke sekian kali ini, kami mencoba untuk trekking ke Patahan Lembang. Menurut papan petunjuk sih jaraknya sekitar 30 menit perjalanan. Satuan yang kurang pasti untuk mengukur jarak! Haha. Tapi ternyata bener sih 30 menitan kemudian kami sudah sampai ke Patahan Lembang ini. 

Purwakarta - Cirebon

Dari dulu saya selalu suka yang namanya roadtrip -- perjalanan jauh dengan mobil. Mungkin karena dari kecil saya lumayan sering roadtrip dengan keluarga. Dari mulai yang deket-deket kayak ke Brastagi atau ke Danau Toba, sampai yang levelnya 20 jam perjalanan lebih ke Bukittinggi di Sumatera Barat sana. Suka karena banyak hal yang bisa dilihat selama perjalanan, kalau naik pesawat kan pemandangannya monoton dan akhirnya jadi lebih milih tidur atau baca. Ditambah lagi, some of best conversations happens in the car.

Di libur tahun baru Hijriyah kemarin, saya dan rekan-rekan kerja awalnya bermaksud untuk melakukan perjalanan roadtrip ke Purwakarta dengan tujuan..

...
makan sate.

The legendary Sate Maranggi, Cibungur, Purwakarta 

Pendakian Gunung Guntur

Emang dasarnya susah diam dan selalu mauan kalau diajak main, kemarin saya nimbrung acara piknik teman saya, Arif, dan geng TripHore ke Gunung Guntur di Garut.

"Eh, gunung guntur kayak apa sih trek-nya? Susah nggak?"
"Pendek kok, lebih pendek dari Papandayan. 11-12 lah paling."

Dalam hati : Oh oke, Papandayan treknya enak gak terlalu nanjak.

"Oke, ikut!"

Gunung Guntur kemudian resmi jadi saksi pendakian saya yang ke-3. Sama seperti Papandayan, gunung ini juga terletak di Garut. Tingginya 'cuma' 2.449 mdpl sementara Papandayan punya tinggi 2.665 mdpl. Makanya saya pikir pendakian ini akan jadi pendakian cantik santai yang gak perlu banyak effort.

Tapi salah. Banget.

Gunung Guntur dilihat dari SPBU

Pendakian Gunung Papandayan

Pendakian ini adalah pendakian saya yang ke-dua setelah Gunung Gede, April tahun lalu. Rencana mendaki Gunung Papandayan ini sebenarnya sudah dibuat sejak lama sekali. Setelah pendakian Gunung Gede, kami semua sepakat kalau kami semua merindukan 'nanjak'. Sampai-sampai saya modal untuk beli carrier, matras, dan sleeping bag supaya nggak minjem-minjem lagi. Namun  ternyata karena satu dan lain hal, rencana tersebut terus batal dan tertunda hingga akhirnya baru direalisasikan minggu lalu.

Awal pendakian dari Camp David.

Sebenarnya apa sih yang dicari dari perjalanan-perjalanan ini?

Hello Again, Bandung!

 

Bandung adalah long lost friend buat saya. Seorang teman lama yang sudah lama sekali tidak ditemui, tidak tahu kabar beritanya karena jarang sekali berkomunikasi. Teman tersebut kamu rindukan, tapi ketika tiba kesempatan untuk bertemu, kamu akan kehabisan ide hendak membicarakan topik apa. Karena sepertinya membicarakan kenangan masa lalu bersama Bandung itu lama kelamaan terasa sangat membosankan. Sehingga pada akhirnya kamu memilih untuk berbasa basi saja dengannya.

Tapi bagaimanapun juga melihat langit Bandung yang mendung dan juga udaranya yang Bandung banget, mau gak mau bikin saya kangen sekali. Ingin rasanya tinggal berlama-lama. Sekedar tidur dan ngulet-ngulet di kasur pakai selimut tebal dan kaus kaki (yang mustahil sekali dilakukan di Cikarang, haha), membaca buku sambil minum teh hangat, kehujanan naik motor tak tentu arah, atau sekedar bengong di kosan. Haha. Tapi waktu tidak mungkin diulang kembali, jadi nikmatilah Cikarang yang penuh polusi dan kubikel kantormu, Mir.



Postingan yang dibuat karena malas sekali bekerja di H min beberapa hari menuju liburan.

My First Summit : Mt. Gede

Baru juga beberapa jam perjalanan menuju Alun-alun Surya Kencana, tempat kami akan mendirikan tenda dan bermalam, tetapi rasanya saya sudah merasa sangat lelah dan menyesal telah mengiyakan ajakan untuk menghabiskan akhir pekan dengan mendaki Gunung Gede. What was I even thinking? Latihan fisik saja baru rutin saya laksanakan 2 minggu terakhir. Itu juga cuma lari pagi seputaran komplek sebelum berangkat bekerja, minus hari-hari di mana saya bangun kesiangan tentunya, ditambah badminton, renang dan yoga sekali seminggu. Dengan tingkat stamina seperti itu, mendaki sebuah gunung tentu adalah pekerjaan yang berat. Gunung Gede adalah gunung pertama yang saya daki. Gunung Puntang yang saya daki semasa kuliah dulu gak bisa dihitung kayanya, soalnya cuma sampai Curug Siliwangi saja, gak sampai ke puncak. Padahal itu juga lelahnya gak ada dua. Hahaha.

Ini semua dimulai dari ajakan Kincu, anak gunung sejati yang jadi junior saya di kantor. Merasa iri oleh display picture Whatsapp-nya Kincu di puncak Gunung Gede dengan latar Puncak Pangrango, saya pun langsung mengiyakan ajakannya saat itu. Padahal peralatan juga gak lengkap. Namun pada hari H, secara ajaib semuanya terkumpul lengkap. Saya dan 9 orang lainnya pun siap mendaki.

Dear kaki, kamu kok hebat sih.
Ternyataa.. Cape banget sodara-sodara. Belum apa-apa jalurnya sudah menanjak curam. Dari awal nanya-nanya ke Wira sih emang doi bilang kalau jalur naik via Gunung Putri itu lebih parah nanjaknya. Jalan 10 menit, kita istirahat 5 menit. Hahahaha. Selama perjalanan, kabut tebal terlihat menutupi hutan. Saya cuma bisa berdoa dalam hati semoga ga turun hujan. Yang Alhamdulillah ternyata emang engga, cuma gerimis-gerimis lucu aja. Pendakian kemarin cukup ramai. Dan saya cukup terkaget-kaget melihat ada yang jualan gorengan, nasi uduk, kopi, dan semacamnya di pos pemberhentian. Agak miris juga lihat sampah dimana-mana. Heran yaa ngakunya cinta alam, naik gunung sana sini, tapi ngebawa bungkus permen di dalam tas kok susah banget.

Puncak Gede dari Surya Kencana. Pretty near, huh?
 Naik dari jam 7 pagi, jam 3 sore kami baru sampai di Alun-alun Surya Kencana (2750 mdpl). Semuanya terbayar dengan padang savana hijau yang luaaas sekali, bunga Edelweis di sana sini, dan sebuah sungai dari mata air kecil yang mengalir menjadi sumber air bagi kami, para pendaki. Udaranya super dingin. Rasanya pengen cepet-cepet masuk tenda dan bergelung di sleeping bag.

Alun-alun Surya Kencana di pagi hari

Jam 8 pagi keesokan harinya, kami semua beres-beres dan bersiap untuk summit attack. Ini agak fail, soalnya yang namanya summit attack kan biasanya pagi buta biar bisa liat sunrise diatas puncak. Tapi nyatanya kami semua baru terbangun jam 5 pagi gara-gara bapak-bapak penjual nasi uduk yang sibuk wara wiri di dekat tenda *failed. Tapi gapapalah, yang penting tenaga terisi penuh kembali demi perjalanan turun ke Cibodas. Maklum newbie :D

Masak apapun di gunung pasti enak. Mie, sosis, makanan wajib. Masih ada sarden, sandwich, tempe saus tiram, juga pancake dan pudding (yang gegayaan dibawa tapi batal dimasak gara-gara kecapean)

Full team sebelum summit attack

Cuma memakan waktu sejam dari Surya Kencana ke Puncak Gunung Gede (2950 mdpl). Agak gak percaya dan takjub pas menjejakkan kaki di atas. Oh jadi gini yang namanya puncak gunung. Sayang sekali saat itu sedang berkabut lumayan tebal, jadinya puncak Pangrango tidak terlihat. Batal total mau bales dendam bikin foto kayak Kincu. Di atas ternyata sudah ramai oleh para pendaki dan pedagang tentu saja. Karena hari itu bertepatan sama hari Kartini (dan ulang taun Mas Coki), jadi banyak yang niat bawa kebaya buat foto di atas. Niat pisan, kita sih cuma modal pinjem spanduk orang buat foto di atas :P

Modal pinjem :P
Tiga cewe kece. Rina padahal lagi keseleo loh.
Jam 12 kita beranjak pulang. Agak seram mendengar cerita tanjakan setan yang katanya harus dilewati (tapi kata Wira lebih serem pas turun dari bukit di Wayag), namun ternyata ada jalur alternatif yang lebih aman. Karena tanjakan setan yang ngantri rame (turunnya satu-satu pake tali), jadi kami lebih memilih jalan memutar yang ternyata dekat. Batal deh lewat tanjakan fenomenal. Selain tanjakan setan, jalur yang agak hardcore yang harus dilewati adalah air terjun panas yang kirinya adalah jurang tinggi. Lumayan gemetar, tapi Alhamdulillah amaan.

Jam 6 sore akhirnya saya sampai di pos terakhir dengan selamat. Sempat ngerasa putus asa pada jam setengah 6 karena hari sudah gelap dan hujan tak kunjung berhenti sedari siang. Tapi teman saya menyemangati "setengah jam lagi mir, itung-itung lari pagi di pavilion". Dan sayapun sampai dengan selamat. Mendaki Gunung? Checked. Dan sekarang saya merasa tidak menyesal sedikitpun, malah berterimakasih kepada Kincu, sang ketua genk, yang telah mengajak saya mendaki gunung. What a journey! Walaupun ketika saya nulis ini, kaki saya pincang dan susah naik turun tangga. Haha.

Pesan sponsor:
- Pliss, yang suka naik gunung, kalau habis pipis mbok ya tissuenya diambil, dimasukin di kantong sampah di tas. Jangan buang ditempat pipisnya.
- Pliss, yang suka naik gunung, sampahnya dibawa turun, kasian gunungnya.
- Pliss, yang suka naik gunung, jangan buang hajat di deket mata air. Merugikan orang banyak. Sungguh.

Pesan klasik:
Don't take anything but picture, Don't leave anything but footprints, Don't kill anything but time.

Alun-alun Surya Kencana dari atas

Tabik! *ala-ala blogger pencinta alam :D

All photos taken by Tommy. Kamera saya tidak sekalipun dikeluarkan dari tas. Too lazy, and too tired (ngeles padahal pengennya dipotoin)

Another Trip to Pangalengan.

Situ Cileunca
Saya dan beberapa teman sepermainan di kantor sudah menargetkan acara jalan-jalan yang setidaknya sekali dalam sebulan untuk menyelaraskan kehidupan perkantoran dan perhura-huraan. Maka setelah trip snorkeling ke Pulau Harapan bulan lalu, kami pun merencanakan acara 'bermain adrenalin' dengan rafting di Pangalengan. Pangalengan selain punya danau Situ Cileunca juga punya sungai Palayangan yang sering menjadi spot rafting.

Selepas subuh berangkatlah saya, Riwe, Tommy (3 orang tim inti - haha), Acung (sponsor platinum), Icus, Uming, Ricky, dan Rina menuju Pangalengan. Sekitar jam setengah 10 kami sampai di sana dan langsung mulai briefing sebelum rafting yang berisi cara memakai pelampung, helm, do's and dont's, dan dilanjutkan dengan latihan mendayung di danau Situ Cileunca. Pada saat briefing, rafting terlihat agak menyeramkan. And I was like, 'what am I doing here?' hahaha agak takut sebenarnya. Dan setelah berjalan kaki menuju sungai, terlihat sungai yang deras dengan air yang menderu berisik. And I was like, 'what the hell am I doing here??'. Tapi ketakutan itu harus diatasi, saya pun nekad naik ke perahu itu.

Full Team: Uming, Ricky, Tommy, Riwe, Rina, Acung, Icus, Saya.      



Menuju Palayangan
Start Point Rafting Palayangan


Beberapa meter perahu berjalan, muncul jeram pertama. Dan saya mulai menikmati sensasi yang didapatkan ketika perahu melewati jeram. Rasa takut langsung hilang, dan yang jelas langsung ketagihan. Total ada 18 jeram yang ada di sungai Palayangan dengan waktu tempuh yang cuma 1 jam. Jadi ketika sampai di finish pasti akan mengeluh karena acara rafting sudah berakhir dan pengen ngulang dari awal lagi. Sungai Palayangan yang mempunyai grade III - IV ini memang tidak terlalu lebar, dan agak cupu mungkin di kancah per-rafting-an. Akan tetapi pemandangan sepanjang perjalanan bagus sekali. Hutan pinus di kanan dan kiri sungai, dan juga perkebunan teh serta sinar matahari yang masuk dari sela-sela rimbun pepohonan. Benar-benar penyegaran sekali dari layar monitor yang dipandangi setiap hari.

Jeram Domba (kalo ga salah)
Setelah rafting berakhir, saya dan teman-teman langsung bertekad ingin rafting lagi di sungai yang lebih hardcore dengan waktu tempuh yang lebih lama. Dari Situ Cileunca kami melanjutkan perjalanan ke perkebunan teh malabar yang berada di daerah Pangalengan juga.

Perfect Weather

Perkebunan teh Malabar
Dan saya akan mengakhiri postingan ini dengan foto (sok) candid di bawah ini. Adios! :D

Saya dan Riwe.

random journey to yosemite park.

salah satu kegemaran saya yang sudah sangat lama tidak dijalankan lagi adalah perjalanan random. random disini maksudnya adalah tidak tentu arah, biarkan kaki membawa kita ke suatu tempat tanpa rencana dan penuh spontanitas. setelah ditelan dengan begitu banyaknya kesibukan di pengujung perkuliahan, akhirnya saya kembali melakukan kegemaran saya ini.

saya bersama dua orang teman seperjalanan - luqman dan ibun, mempunyai niat awal yaitu berjalan kaki sambil memotret human interest. percakapan virtual di malam sebelumnya kira-kira begini

"kemana nih besok?"
"jalan kaki aja ke kiara condong sambil motret-motret. ntar di kiara condong kita naik kereta kemana saja"

dari percakapan di atas bayangan saya perjalanan hanya seputar dari stasiun ke stasiun dan memotret. tapi realita berkata lain. selepas subuh saya dan 2 orang teman saya itu mulai berjalan kaki ke kiara condong. perjalanan belum terasa berat karena udara yang masih sejuk dan kondisi badan yang lumayan fresh. perjalanan dihabiskan dengan memotret sana sini, ngobrol dan juga jajan. tak terasa dua jam kemudian tibalah kami di stasiun kiara condong.

ibun-saya-luqman

terdapat beberapa pilihan tujuan,setelah berembuk akhirnya kami pun memutuskan untuk menuju stasiun padalarang dengan kereta ekonomi lokal. saya pun mengandalkan mesin pencari google untuk mencari objek wisata yang ada di padalarang. opsi yang keluar diantaranya situ ciburuy, gua pawon, dan taman yosemite. situ ciburuy tidak terlalu  terdengar menarik, selain karena sering dilewati juga berita yang muncul di google kebanyakan bernada negatif. akhirnya pilihan jatuh ke taman yosemite yang konon katanya mempunyai pemandangan tak jauh dengan yosemite park di california. wah semangat semakin menggebu-gebu jadinya.

 sesampai di padalarang, semua orang yang kami tanyai tidak ada yang pernah mendengar perihal taman yosemite ini. tidak putus asa, kami pun naik angkot menuju citatah karena katanya taman yosemite berlokasi di sana. sesampai di citatah, tetap tidak ada penduduk setempat yang mengetahui keberadaan taman misterius tersebut. agak kecewa, akhirnya kami memutuskan untuk ke gua pawon yang lokasinya ada di sekitar sana.

 jalan menuju gua pawon

untuk menuju gua pawon dari jalan raya, tidak terdapat angkutan umum. yang ada hanya ojek yang harganya lumayan mahal. karena memang niatnya bertualang, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki dan menurut orang sana letaknya tidak terlalu jauh. kenyataannya perjalanan ke gua pawon itu sangat jauh dan melelahkan karena jalan yang naik turun dan udara yang terik.


 ekspresi girang melihat plang 'gua pawon 500 meter lagi'
bebatuan gua pawon

gua pawon

setelah puas berfoto dan beristirahat sedikit, kami segera melangkahkan kaki pulang. tepat pada saat itu tak disangka ada seorang anak kecil yang menghampiri kami dan bertanya, "teh ga ke taman batu?". ah ini dia mungkin taman yosemite yang dimaksud. setelah bertanya diketahui bahwa taman batu berada di puncak bukit diatas gua pawon. melihat ke atas bukit tersebut lumayan tinggi dan hanya ada jalan setapak yang lumayan terjal. setelah berpikir agak lama dan sudah tanggung nyampe disana, akhirnya kami pun setuju untuk mendaki ke taman batu walaupun agak salah kostum (terutama alas kaki). dipandu oleh tarna, utusan taman yosemite yang mungkin dikirimkan Tuhan untuk memandu kami kesana. hahaha

bukit yang paling tinggi itu yang akan kami tuju!

bersama tarna, bocah yosemite. istirahat bentar di tengah perjalanan

pendakian lumayan melelahkan karena jalanan yang sangat terjal ditambah kami memang jarang berolahraga. sekitar setengah jam mendaki akhirnya tiba juga di taman yosemite itu. mirip ngga dengan yang di california? jawabannya adalah berbeda jauh! akan tetapi pemandangannya tetap bagus dan keren. dari atas sana dapat terlihat pemandangan waduk cirata.

ilalang di puncak bukit
finally, yosemite!

ini adalah salah satu perjalanan random saya yang paling random. dan tentu menyenangkan sekali.
PS: foto-foto sebagian besar diambil dari ibun. terimakasih bun, tripodnya sangat berguna ternyata.

HELARFEST


Hari minggu kemarin saya diajakin ke closing HELARFEST bareng temen-temen dari photoST. Acaranya sendiri itu katanya bakalan ada parade kostum gitu. Startnya mulai dari Aquarius dago sampai di jalan cikapundung yang disebelah gedung merdeka. Berhubung kami males ikutan parade, jadinya kami nunggu aja di jl.cikapundung itu. Sampai disana masih sepi. Cuma ada beberapa anak yang lagi lomba melipat origami raksasa jadi perahu. Eh pas jalan-jalan ke Braga, ternyata ramenya malah disitu. Ada komunitas-komunitas bikers yang lagi pameran. Dan gak lama paradenya nyampe juga di Braga. Ajaib-ajaib deh kostumnya berwarna warni. Saya suka sekalii.


yang ini anak-anak dari UPI




yang ini perkusi dari Univ. Pasundan.


ember man.


si kakek ajaib yang suka nongol di acara-acara serupa

Segitu aja sih. Karena mendung kami memutuskan untuk pulang dan ditengah jalan hujan pun turun dengan derasnya.

Oiya, buat para alien, jangan kelamaan dong menculik si babi. Saya rindu bermain di gua dan kabur ke awan bersamanya. :(

after mid-test holiday!

Ujian tengah semester telah menghantui saya seminggu lamanya, membuat tidur saya tidak pernah nyenyak, membuat kamar saya berantakan, dan membuat pikiran saya kacaauu. Namun akhirnya seminggu itu berlalu juga. Saya pun bersorak-sorai bergembira merayakan liburan selama seminggu penuh. Ada untungnya juga ternyata di bantai di minggu pertama. Saya dan teman-teman sekelas pun berencana untuk pergi berlibur ke Pangandaran dan sekitarnya. Kita ber-16 (wow ramai sekali) pun pergi hari senin malam mengendarai APV Arena dan si Kijang yang kita sewa dengan harga yang lumayan murah.

Pangandaran.


Kami tiba di Pangandaran saat adzan subuh berkumandang. Setelah sholat subuh di Mesjid Agung Pangandaran, kami pun segera menuju ke pantai sementara supir-supir yang baik hati, amoy dan ray, beristirahat di mobil setelah berjuang semalaman. Pangandaran tidak begitu bagus sih pantainya menurut saya, mengingat saya sudah pernah ke Ujung Genteng dan Santolo, Pangandaran sungguh cupuu. hahahaha. Tapi cukup senang lah saya melihat pantai kembali.

Citumang.



Ketika supir-supir pulih kembali, kami pun segera menuju ke tujuan selanjutnya yaitu Citumang yang terletak di desa Parigi, tidak begitu jauh dari Pangandaran. Disana ada mata air yang jernih sekali di tengah-tengah hutan. Luar biasa deh indahnya. Kita langsung nyebur ke air melihat air yang jernih ituu.



Green Canyon.



Dari Citumang, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Green Canyon, tidak terlalu jauh dari Citumang. Sekitar jam 11 siang kita sampai di Green Canyon setelah sebelumnya makan siang dulu di warung pinggir jalan yang aneh rasanya. -___-
Ada apa di Green Canyon? Disana ada sungai trus ada semacam tebing2 di pinggirnya dan ada stalaktit (bener ga sih) pokoknya dari atas itu netes2 deh airnya. Untuk sampai kesana harus naik kapal motor. Nah berhubung katanya ga afdhol kalau belum berenang di Green Canyon dan berhubung kapal motor hanya bisa mengantarkan kita sampai suatu tempat dan untuk melanjutkan perjalanan dan melihat pemandangan yang lebih indah lagi kita harus berenang, jadilah saya (yang notabene tidak bisa berenang) memberanikan diri untuk berenang juga.


sesaat sebelum adrenalin saya terpacu!

Awalnya saya pikir berenang itu kaya kita biasa berenang di kolam yang airnya tenang. Tapi KENYATANNYA TIDAK SAMA SEKALI! Gilaaaaa arusnya deras sederas-derasnyaa, jadi awalnya kita merambat di tali melawan arus, lanjut berenang melawan arus, lalu merayap di tebing-tebing yang ada di pinggir, menjat tebing. Seru lah pokoknya menantang adrenalin dan maut juga. Terimakasih sekali saya ucapkan untuk teman-teman semua yang membantu saya berenang dan terimakasih untuk bapak-bapak pemandu yang baikkkk sekaliiii menjaga saya selaluu. Kami ber-10 yang ikut berenang, cuma saya yang paling cupu, karena saya ga ikut menyebrangi arus yang paling seram, dan saya juga ga ikut melompat dari tebing setinggi lebih dari 5m. Sempat seram ngeliat pelampung Ray yang kurang kencang dan lepass! Saya hanya terdiam diatas batu melihat teman-teman saya melakukan aksi yang menantang itu! hahahaha. Sayang sekali tidak boleh bawa kamera karena arusnya deras sekali.

Batu Karas





Dari Green Canyon, lanjut ke Batu Karas. Sekitar jam 4 sore kita sampai di sana, bermain-main di pantai sekalian mencari penginapan. Nah Batu Karas agak mendingan deh dibandingkan dengan pangandaran. Lebih sepi dan lebih terawat.



Disana saya sempat melihat sunrise yang walaupun awal-awalnya ketutupan awan tapi keliatan juga lama-lama. Paginya saya dan teman-teman bermain di pantai. Pantainya asik ga terlalu dalam dan ombaknya juga asik. Banyak orang surfing disana. Sehabis dzuhur kita pun kembali ke Bandungg melewati perjalanan 200km yang membuat saya jadi hapal lagu-lagu RAN karena cuma CD itu yang dibawa oleh Dona. Hahahaha. Benar-benar liburan yang luar biasaaa!


penginapan yang keliatannya oke walaupun atapnya miring2.

foto-foto oleh Luqman Hakiim dan saya.
foto2 yang lainn ada dii: sini dan di sini