Pendakian Gunung Papandayan

Wednesday, September 17, 2014

Pendakian ini adalah pendakian saya yang ke-dua setelah Gunung Gede, April tahun lalu. Rencana mendaki Gunung Papandayan ini sebenarnya sudah dibuat sejak lama sekali. Setelah pendakian Gunung Gede, kami semua sepakat kalau kami semua merindukan 'nanjak'. Sampai-sampai saya modal untuk beli carrier, matras, dan sleeping bag supaya nggak minjem-minjem lagi. Namun  ternyata karena satu dan lain hal, rencana tersebut terus batal dan tertunda hingga akhirnya baru direalisasikan minggu lalu.

Awal pendakian dari Camp David.

Sebenarnya apa sih yang dicari dari perjalanan-perjalanan ini?

Kadang saya sendiri suka bertanya-tanya di dalam hati. Apalagi kebanyakan perjalanan saya selalu diawali dengan bersusah-susah. Dari mulai bermacet-macetan di Jum'at sore dari Cikarang menuju meeting point (yang biasanya di Jakarta), menggotong carrier berat, harus memanfaatkan waktu tidur selama di perjalanan menuju tujuan, buang air di toilet terminal yang pesing, makan seadanya, memanjat tebing yang curam sehingga nyaris merayap demi mencapai puncak, lalu menggigil kedinginan ketika dinginnya angin malam pegunungan berhembus menusuk tulang.

"Kamu mainnya kok ke tempat-tempat bahaya sih, Nak. Ke gunung, ke laut"
Ibu saya agak sedikit protes di saluran telepon.

Jujur meskipun lumayan sering melakukan perjalanan, saya (hampir) selalu agak sedikit menyesal ketika menghadapi situasi-situasi yang disebutkan di atas. Mulai terbayang di kepala, kamar kosan dengan kasurnya yang nyaman beserta laptop dan smartphone dengan koneksi sinyal yang bagus untuk berselancar di dunia maya. Selalu saya kembali bertanya ke diri sendiri. "Ini ngapain sih? Kok mau sih susah-susahan begini".

Pada akhirnya, ketika perjalanan saya sudah berakhir dan saya sudah merebahkan kembali badan ini di kasur kamar, semuanya akan terjawab dengan sendirinya. Akan sulit sekali dideskripsikan dengan kata-kata.  But it was worth it. Semua effort yang dikeluarkan akan terbayar lunas dengan apa yang telah didapatkan selama perjalanan. Cerita dan pengalaman yang tidak ada harganya, teman dan orang baru yang ditemui di perjalanan yang tanpa sadar mengajarkan 'sesuatu' ke pada saya, sekecil apapun itu, dan juga pemahaman yang lebih dalam terhadap diri sendiri. Terlebih lagi membuat kita jadi jauh-jauh lebih bersyukur.

--

Oke, prolognya kepanjangan.

--

Gunung Papandayan yang terletak di Garut ini sangat direkomendasikan bagi pendaki pemula. Track-nya pendek dan landai. Setelah tahun lalu bersusah payah mendaki track curam Gunung Gede via Gunung Putri, rasanya track Papandayan kemarin sungguh tidak ada apa-apanya. Cuma memakan waktu 2 jam perjalanan dari titik awal pendakian di Camp David untuk menuju Pondok Saladah, tempat kami akan bermalam. Di Pondok Saladah, terdapat sumber mata air yang sudah rapih dan tak berhenti mengalir berupa pancuran-pancuran pipa dan bambu. Yang bikin cukup terkagum-kagum adalah adanya 3 buah bilik toilet bersih dan sebuah musholla. Sungguh sebuah oase di atas gunung, walaupun antriannya yang sangat panjang pada akhirnya sukses membuat saya lebih memilih buang air di 'alam bebas'.

Pemandangan yang ditawarkan oleh Papandayan cukup beragam dan memanjakan mata. Dimulai dari pemandangan kawah aktif di awal pendakian, hamparan edelweiss, hingga pohon-pohon yang meranggas akibat terkena letusan gunung. Dari Pondok Saladah, cuma perlu naik sedikit lagi sekitar 1 jam perjalanan untuk menuju padang bunga edelweiss bernama Tegal Alun. Karena di Tegal Alun para pendaki tidak boleh mendirikan tenda, padang luas berisi hamparan bunga-bunga abadi ini terlihat jauh lebih alami dibandingkan Pondok Saladah yang penuh padat.


Kawah belerang aktif di awal pendakian 

Lintasan pendakian setelah kawah, terus hingga ke atas. 


Zonk, ada motor bisa naik. Pengen numpang rasanya. 

Gaya dulu 

Kepulan asap kawah dilihat dari atas. 

Gunung Cikuray di kejauhan dilihat dari tanjakan Papandayan. 

Hutan mati dilihat dari jauh.  


Masak makan siang yang lebih mirip jadi kompetisi memasak. Pada akhirnya makan siang hari itu jadi super epic failed

Di Pondok Saladah, banyak sekali rumpun edelweiss yang sedang bermekaran. Saya baru tahu kalau ternyata edelweiss itu wangi sekali. 


Perjalanan ke Tegal Alun di sore hari yang berakhir dengan nyasar. Bertemu track super curam dan karena tidak membawa senter, kami memutuskan untuk kembali ke tenda sebelum gelap. 

Membersihkan celana penuh lumpur di pancuran air di Pondok Saladah. Foto ini bukti kalau saya sempat terperosok ke lumpur. Aduh, ga kece sekali. Haha.

 Tiga buah toilet yang jadi tempat paling most-wanted se-Papandayan.

--
Baterai kamera saya habis di malam hari, sehingga paginya saya hanya mengandalkan handphone untuk foto-foto berikut ini:

Matahari terbit dilihat dari hutan mati. 

Selamat datang di Tegal Alun. 

Edelweiss everywhere!

 Memakai 2 lapis jaket tebal dan masih saja dingin. Difoto oleh Luqman

Pohon-pohon meranggas di Hutan Mati. 


 Bukit hijau dan hamparan pohon meranggas. Kontras.

Semoga Papandayan selalu asri. Semoga bunga-bunga edelweiss di sana selalu mekar abadi.

Tabik.

14 comments:

  1. Pengen banget dari dulu ke Papandayan belum kesampean huhu. tampak seru sekali Miirr X)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru Zu kalo buat kemping hore-hore. Ayo ke sana juga! :D

      Delete
  2. suka sekali sama foto fotonya! Papandayan looks so pretty through your lens! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe thank youu.
      tapi emang di sana udah bagus dari sananya juga pemandangannya :D

      Delete
  3. Dari dulu mau kesini tapi jadi wacana terus, semoga segera terealisasi hihi. Salam kenal kak mira! :)

    ReplyDelete
  4. seru banget ka .. mau tanya dong. papandayan sampe puncak ga ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setau aku papandayan ngga punya puncak, titik tertingginya itu Tegal Alun. :D

      Delete
  5. yuk meii kesana. kebetulan w mau ngopi santai. nnti kita kepuncak bareng

    ReplyDelete

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS