Showing posts with label Itinerary. Show all posts
Showing posts with label Itinerary. Show all posts

Membuat Itinerary dengan Trello dan Google Sheets

Buat saya, salah satu bagian paling asik dari liburan adalah merencanakannya. I looooove making itineraries, suka banget hingga di level di mana saya berharap bisa punya pekerjaan tetap bikin itinerary. Style orang ketika jalan-jalan tentu beda-beda, dan saya adalah tipe orang yang senang bikin plan yang rapih dan terstruktur. Dulu saya suka bikin itinerary yang detail banget sampai ke jam dan menit, dan lumayan ambi karena banyak banget tempat yang dimasukkan di tiap harinya. Seiring berjalannya waktu, kayaknya style begitu udah ga terlalu cocok dengan style jalan-jalan saya yang udah mulai santay (karena faktor usia) hahaha. 
Saya selalu mulai dengan browsing tentang tempat tersebut, dari mulai tempat-tempat wisata terkenal, tempat yang sesuai dengan interest saya (misal: taman atau toko buku), makanan, dan lain-lainnya. Semuanya akan saya list dalam wishlist, yang kemudian akan ditelaah satu-satu sesuai dengan jangka waktu kunjungan, area (jadi rajin-rajin liat map), dan juga budget yang harus dikeluarkan.

Kalau sekarang ini, yang paling penting ditulis buat saya sih:
  • Area yang akan dieksplor di tiap harinya
  • Point of interest  tiap harinya
  • Transportasi, terutama jika akan pindah tempat / kota
  • Penginapan
  • Hitungan kasar untuk budget yang akan dikeluarkan, biar bisa bawa uang yang tidak kurang dan tidak berlebihan juga

Dulu saya selalu pakai Excel ketika bikin plan jalan-jalan, simply because I love Excel so much. Karena selain rapih, Excel juga bisa banget di-utilize untuk hitung-hitungan budget. Sekarang saya masih pakai Excel juga (baik di kerjaan atau di rumah untuk urusan pribadi), tapi udah beralih ke Google Sheets. Selain biar bisa dibuka pake laptop pribadi atau kantor atau bahkan HP kalau pas kepepet, juga karena biasanya pas bikin itinerary saya sering keroyokan sama Junda. Pakai Google Sheets ini jadi gampang tektokan dan kolaborasinya. Jadinya ga ada lagi tuh ceritanya kirim-kiriman file Excel dengan nama itineraryjepang2020-fix.xlsx atau itineraryjepang2020-fixbangetbanget.xlsx hahaha.

Trello

Jepang, Kali Kedua : Itinerary!

Disclaimer : super-duper long post ahead! Brace yourself!

Saat berkunjung ke Jepang di 2014 yang silam, saya bertekad di dalam hati untuk kembali lagi ke negara ini suatu hari nanti. Pas bilang ke Junda, dia juga setuju untuk balik lagi ke Jepang. Makanya, setelah memutuskan untuk meniqa, kami jadi giat menabung uang, jatah cuti, dan mencari tiket promo ke Jepang untuk jalan-jalan berdua. Kami juga bertekad kalau perjalanan ini harus lama durasinya, memaksimalkan jatah berkunjung di visa single entry Jepang yaitu selama 15 hari. 

Long story short, di bulan Agustus, kami berhasil mengamankan tiket penerbangan langsung AirAsia Jakarta - Narita dengan harga yang murah. Wah, rencana terlihat cukup mulus. Tapi tunggu dulu. Beberapa minggu kemudian, kami mendapatkan kabar kalau rute tersebut dihilangkan oleh pihak AirAsia karena satu dan lain hal, dan kami dihadapkan dengan pilihan untuk refund uang atau mengubah rute terbang. Tentu saja kami pilih yang kedua, dengan penuh jerih payah karena customer service AirAsia sepertinya dihajar banyak komplain saat itu. Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya confirmed lah tiket Jakarta - Narita kami yang baru, via Bangkok.

Finally, Iceland!


Prolog :
Hari Minggu siang, Mira kecil sedang bermalas-malasan di depan televisi. Saat itu televisi sedang menayangkan tayangan dokumenter mengenai Northern Lights atau Aurora Borealis di Iceland. Pemandangan cahaya hijau terang yang menari-nari di langit malam yang gelap terasa dreamy dan surreal sekali. It’s otherwordly. "Bisa ga ya, aku liat itu dengan mata kepalaku sendiri?", pikirnya di dalam hati. 
Beranjak ke SMA, Mira remaja suka sekali mendengarkan band beraliran shoegaze dari Iceland, Sigur Rós. Keinginan untuk mengunjungi negara asal band tersebut makin menggebu-gebu setelah ia menyaksikan film dokumenter Sigur Rós yang berjudul Heima.

10 tahun berlalu, akhirnya Mira berhasil menginjakkan kakinya di Land of Fire and Ice :')

Sabaidee, Laos!

*) Sabaidee = hello!
Now you know how to greet people in Lao
--
Dulu sama sekali nggak tertarik untuk mengunjungi Laos. Mungkin karena namanya yang kurang populer jika dibandingkan tetangga-tetangganya seperti Thailand, Vietnam, atau bahkan Kamboja. Tapi karena kemarin lagi pengen liburan bareng house-mate (perasaan pengen liburan terus) yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya dan bingung menentukan destinasi yang belum pernah dikunjungi dengan biaya yang terjangkau, akhirnya tercetuslah Laos.

Patuxay Momument, Vientiane. 

Laos memang nggak punya pantai, tapi ternyata banyak sekali aktivitas asik yang bisa kita lakukan di sana. Setelah mengunjungi Laos, saya bisa dengan pede bilang kalau negara ini adalah negara tujuan favorit saya di Asia Tenggara sejauh ini (padahal ke Singapura dan Brunei belum pernah). Ini murni preferensi pribadi, karena Laos adalah surganya kegiatan outdoor yang  berbau alam! Meski semua negara-negara di Asia Tenggara yang pernah saya kunjungi selalu seru dan keren dengan cara yang berbeda, tapi entah kenapa perjalanan ke Laos kemarin ini rasanya paling berkesan. Salah satu faktornya mungkin karena perjalanannya ditemani teman-teman yang asik (cieee..)

Postingan ini akan membahas tentang gambaran umum perjalanan ke Laos kemarin.

Mabuhay, El Nido!


Sudah lama sekali saya ingin nyobain sensasi pergi piknik sendirian ke tempat yang jauh. Bahasa kerennya : solo trip. Tapi berhubung bakat ekstrovert di dalam diri ini cukup besar, rasanya membayangkan jalan-jalan sendirian itu kurang asik. Di dalam bayangan saya nantinya akan banyak bengong karena tidak ada teman ngobrol. Untungnya selama ini saya dikelilingi oleh banyak teman yang (biasanya) ada aja yang mau diajak piknik.

Tapi suatu hari rasa penasaran itu tidak terbendung lagi. Tiba-tiba di kepala saya terlintas Filipina, salah satu negara yang memang ingin sekali saya kunjungi dari dulu. Setelah sedikit Googling dan riset sana sini, saya menemukan tempat bernama El Nido di Filipina, yang katanya cukup aman untuk dikunjungi sendirian oleh wanita. Criminal rate di sana 0%, katanya. Daerahnya terpencil dan sepi, kotanya kecil, akses ke sana lumayan mudah, El Nido punya pantai-pantai kece, dan berhubung saya sudah lama gak ke pantai maka : oke, mari berangkat! Hari itu juga saya berhasil secara impulsif book tiket pesawat pulang pergi ke El Nido, yang untungnya bertepatan dengan promonya Cebu Pacific. Semesta mendukung!

Mingalabar, Myanmar!

Myanmar, berawal dari e-mail dari sebuah maskapai mengenai promo kursi gratis mereka bagi member setia *cie, dilanjut dengan obrolan di WhatsApp dengan Mba Olip, tiba-tiba saja tiket PP Jakarta-Yangon sudah ada di inbox e-mail. Yay for another ASEAN trip! Dari rencana pergi cuma berdua, tiba-tiba anggota jadi bertambah hingga totalnya jadi 9 orang. Namun pada realisasinya, karena suatu dan lain hal yang jadi berangkat cuma 3 orang : saya, Mba Olip dan Mba Dina.

Shwedagon Pagoda, Yangon, Myanmar

Sedih, tapi ternyata sesudah sampai di sana saya jadi gak kebayang kalau ke-9 orang tersebut beneran jadi berangkat. Pasti ribetnya tiada dua.

Jadi, gimana kesan-kesannya selama di Myanmar?

- Lucu banget awalnya liat orang-orang pakai sarung di mana-mana, termasuk petugas bandara dan kuli bangunan, sampai anak sekolah juga seragamnya sarung! Hehe. Namanya Longyi. Dan memang pakaian tradisional Myanmar, yang hebat ya, masih eksis.

Impulsively Cambodia - Itinerary, Budgeting, and Everything in Between

Kenapa trip ini disebut Impulsively Cambodia? Karena seperti biasa, suatu hari tiba-tiba saya dan Dea mencetuskan ide untuk piknik bareng lagi setelah euphoria pasca piknik ke Vietnam mulai meredup. Karena kami ingin khatam mengunjungi sepuluh negara di Asia Tenggara, maka Kamboja lah yang menjadi tujuan kami selanjutnya.

Lah kenapa ngga Myanmar, Filipina, Laos, atau Brunei? Ya namanya juga impulsif. Haha. Dan akhirnya kami ketambahan satu anggota impulsif lain yaitu Andara. Langsung deh nentuin tanggal lalu beli tiket. Senang punya teman sesama impulsif. Senang. Senang Senang.

Biasanya Kamboja dikunjungin barengan dengan negara-negara tetangganya : Thailand, Vietnam, dan Laos. Jadi sekalian gitu deh karena bisa lintas negara pake jalan darat. Tapiii karena fakir cuti, yaudah deh si ASEAN ini kayaknya memang harus dicicil satu per satu. Ga usah buru-buru.

Berhubung kemarin ada yang nanyain itinerary dan budget piknik ke Kamboja, mari kita bahas sama-sama. Mumpung masih hangat.

What to Visit?

Umumnya orang-orang yang piknik ke Kamboja sih mengunjungi dua kota ; Phnom Penh yang merupakan ibukota Kamboja, dan Siem Reap. Ingat Kamboja tentu ingat Angkor Wat, komplek candi megah yang sempat (atau masih? males gugling) masuk ke daftar World Seven Wonders. Nah si Angkor Wat ini terletak di kota Siem Reap yang jaraknya sekitar 7 jam perjalanan darat dari Phnom Penh. Di Siem Reap ada bandara, tapi penerbangan ke sana lebih mahal dibanding ke Phnom Penh. Untuk menyiasati biasanya sih terbang ke Phnom Penh dulu lalu naik bis ke Siem Reap.

Angkor Wat yang ternyata super megah dan besar!

Hanoi, Surprisingly Lovable

Trip paling menyenangkan sepanjang tahun ini karena perginya bareng teman-teman terbaik sepanjang hidup. Cie lebay. Jadi ceritanya saya punya 5 teman wanita yang akrab sejak kelas 1 SMA, which is already 10 years ago (haha, ketauan umur). Bahkan beberapa di antara mereka ada yang udah saya kenal sejak SD. Waktu berjalan dan selesai SMA kami semua berpisah. Ada yang kuliah di Bandung, Jakarta, dan ada juga yang tetap melanjutkan kuliah di Medan. Ketika sudah bekerja, kami terpisah menjadi dua kubu. Kubu Medan (3 orang) dan kubu Jakarta (3 orang). Actually, we didn't keep in touch that much. Jarang chatting, jarang juga ketemuan padahal ada 2 orang yang tinggal di Jakarta (dan sekitarnya). Tapi setiap pulang ke Medan pasti selalu mereka lah yang pertama saya cari. Dan walaupun jarang sekali bertemu, tetap saja ketika bertemu mereka tetaplah mereka yang saya kenal sejak SMA. They accept me with all my absurdity. Kami semua se-frekuensi. Haha.

Long story short, suatu hari Dea ngajakin saya main ke Vietnam, yang dengan murahannya saya iyakan. Sok kaya, padahal dompetnya sepanjang tahun ini udah jebol parah. Pengennya sih ngajak yang lain tapi kalau bikin rencana kelamaan pasti deh ujung-ujungnya gak jadi. Akhirnya setelah tiket saya dan Dea terbeli, saya lempar deh ajakan ke grup. Dan simsalabim, akhirnya semua ikutan beli tiketnya! Tips ampuh untuk merencanakan piknik yang biasanya sering berakhir sebagai wacana saja. Happy banget rasanya saat kami ber-6 bertemu di Kuala Lumpur International Airport, karena ada yang berangkat dari Medan dan Jakarta, dan pesawat ke Hanoi adanya dari Kuala Lumpur.



Hanoi, pas Googling research jadi ngerih sendiri karena memang katanya kota satu ini terkenal dengan scam-nya. Pas laporan sama Ibu saya juga komentarnya "Ya, Allah. Ngapain? Emangnya Hanoi aman?". Itu semua bikin saya jadi takut dan super hati-hati di sana. Dikit-dikit jadi suudzon sama orang. Tapi ternyataaa, Hanoi was surprisingly lovely! Kotanya memang chaos, but somehow lovely on the other side. Penuh warna. Mungkin karena di awal banget udah nggak ekspektasi macem-macem juga sih sama liburan kali ini, jadinya every little thing can made us so happy.

So, here's a little overview of the trip.

[Japan] Planning, Getting Started, and Little Tips (Part 2)

Setelah kemarin bahas tentang overview umum merencanakan perjalanan ke Jepang, now let's focus on the details. Yaitu menyusun jadwal perjalanan alias itinerary, dan yang paling penting adalah budgeting.

Cara memulai itinerary?
Pasti bakal bingung banget pada awalnya harus memulai dari mana. Biar gampang, mulailah dengan mendaftar segala hal yang ingin dilakukan/dilihat/dirasakan/dimakan di tempat tujuan, haha. Intinya hal-hal yang masuk ke list "Kalau saya nanti ke ..., saya harus..."

Sebagai contoh, dulu list saya kira-kira begini:
- Main ke museum Ghibli
- Lihat sakura
- Foto dengan latar belakang gunung fuji
- Naik ke Tokyo Tower
- Nyobain nyebrang di Shibuya (hahaha)
- Foto di patung Hachiko
- dsb

Berangkat dari list tersebut, tinggal susun deh itinerary-nya. Jangan lupa sesuaikan dengan budget. Usahakan buat itinerary se-efektif mungkin untuk menghemat waktu. Misalnya kayak Shibuya, Shinjuku, dan Harajuku itu bisa digabung di waktu yang berdekatan karena lokasinya deketan. Cara taunya dari mana? Coba dibuka-buka lagi Google Mapsnya. Rada ribet sih emang, tapi entah kenapa saya menikmati banget browsing dan riset untuk bikin itinerary ini. Buat saya, salah satu bagian paling menarik dalam perjalanan adalah planningnya.

Setelah riset, mulai susun itinerary dalam bentuk timeline waktu. Kalau perginya ramean, ada apps kece untuk planning trip. Namanya TripIt, tersedia untuk Android dan juga IOS. Itinerary kita akan tersimpan dalam bentuk timeline dan bisa di-share dan diedit beramai-ramai. Otomatis meng-import segala macam booking-an pesawat terbang dan juga penginapan dari email kita. Dan ada reminder flight biar ga ketinggalan pesawat. Kece lah pokoknya #BrandAmbassadorTripIt

Tampilan TripIt


Dari itinerary yang sudah saya susun, ada satu-dua yang melenceng sih dikarenakan cuaca yang nggak nyangka bakal sedingin itu di musim semi (apalagi pas hujan) sehingga kami lebih nyaman dan betah main di mall yang hangat (please blame the 100 yen shop!)- hahaha. Dan beberapa yang tidak terpenuhi gara-gara nyasar pas belum nyewa WiFi. Actual itinerary kami kemarin sebagai berikut:

Click to enlarge
Yang gak kesampean : Imperial Palace, Ueno & Yoyogi Park (yang tergantikan impas dengan Shinjuku Gyoen National Garden), Ginza. Ini tandanya kudu balik lagi suatu hari!

Note :
Boleh sih nyusun itinerary yang padat, tapi kenali stamina tubuhmu! It happened to me yang memforsir banget jalan kaki ke sana kemari dan di hari-hari terakhir kaki rasanya sakit sekali seperti habis dilindas truk.

Budgeting.
Di sini nih yang rada deg-degan dan tricky. Tantangannya buat saya : gimana cara menikmati semuanya dengan biaya seminim mungkin?

Cara menyusun perkiraan biaya adalah, coba break-down itinerary kita menjadi lebih detail dan list semua biaya yang harus dikeluarkan dari list tersebut. Website www.japan-guide.com sangat berguna sekali di sini untuk tau biaya masuk objek-objek wisata. List juga semua ongkos kereta yang diperlukan per-harinya, bisa dicek di Hyperdia. Walaupun realitanya nanti yang digunakan adalah kartu sakti bernama PASMO dan bikin cenderung cuek sama ongkos kereta, hal ini akan berguna banget buat tau berapa biaya akhir total yang harus dikeluarkan.

Break-down sampai kira-kira sedetail ini:

Budget plan
Note:
- Ingin berhemat? Banyak banget tourist attraction yang gratis seperti taman, kuil, atau museum. Manfaatkan.
- Ingin lebih berhemat? Budget untuk makanan sebenarnya bisa dipush banget. Beli onigiri di Lawson seharga 100 yen dan makan dengan lauk abon atau kering tempe bekal dari Indonesia. Makan dua biji juga udah kenyang kok :D
- Manfaatkan one day pass kalau ternyata setelah dihitung2 jatuhnya jauh lebih murah. Misalnya ketika mau muter-muter di Odaiba, mendingan beli one day pass seharga 820 yen yang bisa dipakai sepuasnya.
- Yang ingin berpindah kota menggunakan Shinkansen, beli JR Pass untuk menghemat. Jatuhnya bakal super untung banget.

Dan berikut kira-kira budget yang kemarin saya keluarkan. Tentunyaa minus jajan dan belanjaan oleh-oleh.

Japan's real budget
Intinya, In Shaa Allah ngga mahal kalau mau menabung. Anggap aja ini investasi untuk kesehatan rohanimu. Jalan-jalan ke tempat dengan suasana baru terbukti jitu banget untuk membuka pikiran. At least it worked for me.

Cukup sekian pendahuluan tentang Jepang, semoga bermanfaat :)

PS: Kurs 1 Yen saat itu adalah sekitar 112 Rupiah

[Japan] Planning, Getting Started, and Little Tips (Part 1)

Alhamdulillah, trip ke Jepang yang udah direncanain setahun lamanya berjalan lancar. Dulu saya dan beberapa teman sekelas di kampus yang emang hobinya ngebolang pernah mikir kayak gini.
"Nanti kalau udah pada kerja, ngumpul buat pergi jalan-jalannya bukan di kampus lagi, tapi langsung di airport"
Dan Alhamdulillah beneran kesampean :)

Arrived Savely @ Haneda Airport

Dimulai dari angan-angan saya dan Nindy yang pengen banget ke Tokyo berdua, tiket promo, dan akhirnya jadi ngajak beberapa teman yang lain. Sayangnya ada sedikit drama yang bikin Nindy akhirnya jadi batal ikut. Ini sedih sungguhan deh sebenernya. Tapi mungkin lain kali kita memang harus jalan berdua ya Nin, ga boleh ajak yang lain haha. Tapi gak boleh berkelanjutan sedihnya karena ini Tokyo di musim semi! Bunga sakura dan banyak bunga-bunga lain sedang bermekaran bikin Tokyo jadi cantik dan fotogenik sekali.

Oke cukup sudah intronya. Kali ini saya mau nyeritain gimana planning trip ke Jepang. Menyangkut tiket pesawat, mungkin sedikit tips untuk apply visa, plan itinerary, dan juga budgeting. So it's gonna be super duper mega ultra long post! Karena kemarin lumayan banyak yang nanyain detail trip saya, jadi biar ringkas dan semuanya bisa baca, why not making it as a blog-post? Anggaplah ini sedikit tips untuk berlibur (agak murah) ke Jepang.


When to Go?

Cherry Blossom @ Shinjuku Gyoen National Garden

Pertama-tama sekali, tentukan ingin ke Jepang di musim apa. Musim semi ketika Sakura bermekaran? Musim panas yang banyak festival? Musim gugur yang serba merah? Atau musim dingin? Setelah menentukan musim, ada baiknya research tanggal-tanggal terbaik untuk mengunjungi Jepang di musimnya. Misal ingin lihat full-bloom Sakura, googling dulu tanggal mekarnya. Ini yang sempat terlewatkan oleh saya. Haha. Dikirain Sakura bakal tumbuh sepanjang musim Semi, tapi ternyata mekarnya hanya 10 hari saja, dari akhir Maret hingga awal April. Beruntung sekali di pertengahan april kemarin masih sempat lihat beberapa pohon yang mekar di Fuji dan Shinjuku Gyoen. Jadi sekali lagi, riset awal itu sangat penting!

Plane Ticket.
Setelah riset, saatnya beli tiket! Berburu tiket promo adalah solusi untuk terbang murah ke Jepang. Subscribe ke beberapa newsletter maskapai yang buka penerbangan ke Jepang agar selalu update soal promo ini. Yang paling sering ngasih promo sih tentu saja AirAsia. Tapi biasanya jangka waktunya jauh sekali, bisa sampai setahun sebelumnya seperti saya yang beli tiket di tanggal 1 April 2013 untuk penerbangan April 2014. Dan tiket promo ini sistemnya nggak bisa di-refund. Jadi, sebelum berburu pastikan dulu ya jadwal yang benar-benar aman. Aman cutinya, uangnya, perizinan dari orangtua/pacar/suami/istri (ini serius lho), dan juga jangan lupa cocokkan dengan musim apa di Jepang sana. Selain AirAsia, kadang-kadang Garuda Indonesia juga ngasih best-deal buat ke Jepang lho.

Notes :
  • Travel light tanpa bagasi untuk menghemat pengeluaran.
  • Kalau pergi rombongan, bisa beli 1 bagasi extra untuk pulangnya saja untuk space oleh-oleh yang kemudian bisa di-share
  • Flight add-ons seperti bagasi, meals (kalau naik AirAsia) sebaiknya dibeli belakangan saat visa udah approved.
  • Perkiraan harga di kisaran IDR 3 - 4 juta (PP).

Visa.
Udah banyak banget yang bahas proses dapet visa Jepang jadi rasanya ngga perlu berpanjang-panjang di sini. Prosesnya mudah banget kok. Asal semua dokumen yang diminta lengkap, itinerary jelas dan masuk akal dengan uang yang ada di tabungan kita, pasti deh approved. Masuk akal di sini maksudnya nggak ngoyo, misal uang cuma 5 juta tapi itinerary keliling jepang dr Hokkaido sampe Kyoto, ya nggak masuk akal kan. Memang sih, uang di rekening nggak ada aturannya harus berapa. Cuma kata kebanyakan orang rumus amannya begini:

 (jumlah hari di jepang x 1 juta) + harga tiket pulang normal tanpa promo

Jadi misal kayak kemarin saya 5 hari, uang 'aman' yang ada di rekening adalah minimal:
 (5 * 1) + 5 = 10 juta

Notes:
  • Perhatikan daerah yurisdiksi (wilayah kerja) pembuatan visa, sesuai dengan daerah asal KTP kita (selengkapnya lihat di sini). Karena KTP saya Medan, jadi saya harus mengurus visa di konsulat Jepang di Medan. Sempet pusing gimana ngurusnya, tapi ternyata bisa diwakilin sama keluarga kok. Cukup bawa KK aja.
  • Rumornya sih dalam waktu dekat Indonesia bakal bebas visa ke Jepang. We'll see :)

Where to Stay?
Karena perjalanan ini benar-benar diusahakan sehemat mungkin, jadi pilihan menginap nggak jauh-jauh dari Hostel berformat dorm. Pilihannya banyak banget di www.hostelworld.com atau www.booking.com.

Hostel tempat saya menginap dan mungkin bisa dijadikan referensi adalah Khaosan World Asakusa. Letaknya hanya 2 menit berjalan kaki dari Asakusa Station (Tsukuba Subway) dan dekat sekali ke Sensouji Temple. Akses ke convenience store seperti Lawson atau SevenEleven, 100 Yen shop, toserba Don Quijote, sampai penyewaan sepeda juga dekat. Saya jatuh cinta banget dengan hostel ini. Mungkin nanti bakal dibikin satu postingan khusus. Rate-nya JPY 2000 / malam untuk 10-bed mixed dorm.

Notes:
  • Know your budget. Hostel paling murah sejauh saya lihat sih berkisar di JPY 1900 - 2000 an. Yang lebih mahal banyak. Tapi sesuaikan dengan budget. Kalau buat saya sih karena Hostel cuma dikunjungi saat mau tidur dan mandi aja, rasanya gak perlu yang bermewah-mewah deh.
  • Untuk cewe-cewe yang risih harus tidur di mixed-dorm, ada pilihan female-dorm tapi biasanya lebih mahal harganya. Karena kemarin saya berangkatnya sama teman cowok semua, jadi ngerasa save banyak yang ngejagain. Eh ada bonusnya lho bisa lihat bule-bule sixpack lagi bobok ganteng (tapi endingnya doi ngedipin mata ke Amoy -__- #GayDetected)
  • Know the location. Coba buka-buka map dulu sebelum booking hostel. Jangan pilih hostel cuma karena murah tapi jaraknya jauh banget dari mana-mana. Amannya sih cari yang sekitaran Asakusa. Di sana banyak banget hostel yang affordable dan mudah akses kemana2nya.

Transportation.
Nggak perlu khawatir soal ini. Transportasi di Jepang itu nyamannnn banget! Semuanya rapih dan teratur. Nggak perlu takut nyasar karena nggak bisa baca kanji karena pasti ada terjemahan huruf latinnya. Untuk ongkos itungannya sih lumayan mahal. Naik kereta yang jarak dekat aja dengan jeda 1-2 stasiun bisa mencapai JPY 300an. Tapi saya rasa kebayar impas sama ketepatan waktu dan kenyamanannya.

Petunjuk super jelas kayak gini harus jeli diperhatikan biar nggak nyasar
Shinjuku Station

Line kereta di jepang ada banyak sekali dan dikelola oleh beberapa perusahaan berbeda. Ada JR Line, Ginza Line, Yurikamome, dll. Jadi bukan cuma KAI doang lah istilahnya kalau di Indonesia. Awal-awal rada ruwet sih saat harus pindah-pindah dari satu line ke line lain, tapi kalau memperhatikan petunjuk yang super lengkap di stasiun sih niscaya nggak akan nyasar.

Notes:
  • Untuk yang berencana berpindah-pindah kota, misal dari Tokyo ke Kyoto, disarankan membeli JR Pass dulu di Indonesia. Dengan JR Pass ini kita bisa naik semua kereta JR secara cuma-cuma sepuasnya, termasuk Shinkansen! Karena kemarin memang nggak berencana berpindah kota dari Tokyo, jadi opsi ini tidak saya gunakan.
  • Untuk menghemat waktu agar tidak antri membeli tiket setiap bepergian, gunakan kartu prabayar seperti PASMO atau Suica. Harganya JPY 1000 termasuk deposit JPY 500. Bisa dibeli di bandara dan bisa diisi ulang di stasiun manapun. Cukup tap di mesin tiket stasiun dan tinggal melenggang ke dalam kereta :D Selain untuk kereta, PASMO ini bisa digunakan di convenience store (Lawson, Family Mart, Seven Eleven), vending machine, dan sampai untuk berbelanja di store besar seperti Uniqlo! Haha. Cukup praktis kalau nggak pengen repot ngantongin kembalian receh.
  • Oiya FYI uang kertas di Jepang hanya untuk nominal 10.000, 5.000, dan 1.000, sisanya adalah koin. Makanya recehan di Jepang sangat berharga. Kehilangan koin 500 yen sama saja dengan kehilangan uang sekitar 50.000 rupiah. Duh.
  • Hemat waktu dengan menghindari nyasar. Gunakan apps kece bernama Hyperdia (available for Android and IOS) juga Google Maps untuk mencari rute kereta lengkap dengan menit-menit keberangkatan juga harganya. Selain riset stasiun pemberhentian, jangan lupa riset tentang pintu keluar stasiunnya. Ini penting banget karena kalau salah keluar nanti bisa-bisa jadi lebih jauh ke tujuan kita.
  • Contoh : kalau mau ke patung Hachiko, the nearest way adalah ke Shibuya station dan keluar di Hachiko Exit.

What to Eat?
Mahal. Itu jelas kerasa banget. Kalau budget terbatas sih ngga usah maksain untuk masuk restoran karena sekali makan bisa mencapai JPY 800an. Trus makan apa dong? Onigiri dan bento di convenience store sih jadi andalan kami selama di sana. Beli Onigiri seharga JPY 110 lalu makan bersama abon sapi bekal dari tanah air :D Kalau mau lebih enak sedikit bisa beli bento box berisi sushi atau mie goreng di kisaran JPY 300-400. Yah sekali-kali bolehlah makan ramen (insya Allah halal) seharga JPY 1000 (more on that later).

Onigiri andalan. Hati-hati juga ada yang isinya babi
Makanan andalan kedua. Nasi yang dibalut tahu dan juga sushi. Makan beginian kenyangnya awet!

Notes:
  • Untuk yang Muslim, phrase "Sore-wa butani-ku?" (Apakah itu babi?) terbukti handal banget buat mastiin apakah ada babi atau enggak di makanan kita. Kalau dijawab "Haik" ya jangan dimakan yaa walaupun memang terlihat sangat menggiurkan. Haha. Amannya sih cari yang seafood atau telur.
  • Di hostel bisa memasak. Jadi memasak sarapan di pagi hari akan menghemat sekali. Menunya sih ga jauh-jauh dari Indomie (seleraku) atau sandwich. Tinggal beli telur di convenience store terdekat :D
  • Abon sapi dan boncabe sangat-sangat membantu sekali untuk makanan Jepang yang biasanya rada plain di lidah :D
  • Untuk minum, untungnya semua air keran di Jepang bisa diminum langsung. Daripada beli air mineral kemasan, bawa botol sendiri dan isi ulang sepuasnya di manapun :D

Where to Shop?
Lagi-lagi mahal! Haha. Untuk mengakalinya, bisa beli oleh-oleh di 100 Yen shop atau di 3 Coins Shop yang semua harganya 300 Yen. 100 Yen shop ini sih favorit kami semua. Bisa banget berlama-lama di sini dan berakhir beli barang2 nggak guna cuma karena murah. Haha. Ga usah belanja di Uniqlo karena harganya sama aja dengan di Indonesia. Kalau mau oleh-oleh yang Jepang banget, Nakamise street di dekat Sensouji Temple Asakusa kayanya yang paling komplit. Cuma ya siap-siap merogoh duit lebih aja. Dan entah kenapa penjual di sini jutek-jutek abis, ga kayak di tempat-tempat lain di Jepang -_-

Nakamise street

Note:
Tapi kalo beruntung, bisa nemu barang-barang random murah kok. Contohnya Amoy yang dapet jaket kece seharga JPY 1000 atau Ibun yang dapet kemeja flanel kece seharga JPY 100 saja!

Barang-barang cute ini semuanya berharga JPY 300 di 3 Coins Shop. Gimana nggak kalap?

Internet Connection.
Sebagai anak gaul di era informatika, kebutuhan internet tentunya penting banget dong ya. Ketemu tempat oke jangan lupa check-in dulu di Path. Ada objek yang instagram-able, kudu langsung post. Haha! Tapi di Jepang akses internet berguna banget untuk menghindari nyasar. It will save your time, energy, and your leg!
Untuk beli simcard kayaknya rada susah. Tapi jangan khawatir, banyak banget portable WiFi yang disewakan di mana2. Di bandara kalo ga salah ada juga deh. Tapi kemarin biar praktis, kami menyewa di hostel dengan harga yang lebih murah dibandingkan bandara. Harganya cuma JPY 500/ hari. Tapi kita harus deposit JPY 10.000 untuk jaminan yang nantinya akan dikembalikan lagi. Agak kaget waktu nerima devicenya ternyata Galaxy Note II (yaeyalah di kereta aja HPnya Iphone semua haha). Jadi Note II itu dipake buat tethering rame2. Kecepatannya ngga usah ditanya lah yaa, nggak ada yang namanya lelet kayak di Indonesia. Eksis di socmed dan menghubungi sanak saudara via Skype pun tak ada hambatan.

Fiuuuhh~ Karena postingan ini sudah panjang sekali, untuk itinerary dan budgeting kayaknya dilanjut di part 2 saja ya :)

PS: Kurs 1 Yen saat itu adalah sekitar 112 Rupiah