Impulsively Cambodia - Itinerary, Budgeting, and Everything in Between

Wednesday, April 22, 2015

Kenapa trip ini disebut Impulsively Cambodia? Karena seperti biasa, suatu hari tiba-tiba saya dan Dea mencetuskan ide untuk piknik bareng lagi setelah euphoria pasca piknik ke Vietnam mulai meredup. Karena kami ingin khatam mengunjungi sepuluh negara di Asia Tenggara, maka Kamboja lah yang menjadi tujuan kami selanjutnya.

Lah kenapa ngga Myanmar, Filipina, Laos, atau Brunei? Ya namanya juga impulsif. Haha. Dan akhirnya kami ketambahan satu anggota impulsif lain yaitu Andara. Langsung deh nentuin tanggal lalu beli tiket. Senang punya teman sesama impulsif. Senang. Senang Senang.

Biasanya Kamboja dikunjungin barengan dengan negara-negara tetangganya : Thailand, Vietnam, dan Laos. Jadi sekalian gitu deh karena bisa lintas negara pake jalan darat. Tapiii karena fakir cuti, yaudah deh si ASEAN ini kayaknya memang harus dicicil satu per satu. Ga usah buru-buru.

Berhubung kemarin ada yang nanyain itinerary dan budget piknik ke Kamboja, mari kita bahas sama-sama. Mumpung masih hangat.

What to Visit?

Umumnya orang-orang yang piknik ke Kamboja sih mengunjungi dua kota ; Phnom Penh yang merupakan ibukota Kamboja, dan Siem Reap. Ingat Kamboja tentu ingat Angkor Wat, komplek candi megah yang sempat (atau masih? males gugling) masuk ke daftar World Seven Wonders. Nah si Angkor Wat ini terletak di kota Siem Reap yang jaraknya sekitar 7 jam perjalanan darat dari Phnom Penh. Di Siem Reap ada bandara, tapi penerbangan ke sana lebih mahal dibanding ke Phnom Penh. Untuk menyiasati biasanya sih terbang ke Phnom Penh dulu lalu naik bis ke Siem Reap.

Angkor Wat yang ternyata super megah dan besar!


Oke di Siem Reap ada Angkor Wat. Ada apa di Phnom Penh?

Monumen kemerdekaan Kamboja

Killing Fields, bekas tempat pembantaian rakyat Kamboja oleh Rouge Khmer

Royal Palace

Ada Royal Palace, monumen-monumen, pasar, dan favorit saya, Killing Fields (more on this later). Selain itu bisa juga nongkrong asik sore-sore pas matahari udah mulai hilang di Sisowath Quay, ada ruang publik terbuka di pinggir sungai Mekong gitu. Buat saya pribadi, saya kurang suka sama suasana Phnom Penh yang ramai dan agak berantakan. Sehari di sana sih udah cukup buat muter-muter. Selebihnya mending menghabiskan waktu di Siem Reap yang bersahaja dan asik.

Berikut gambaran itinerary yang saya buat

Itinerary best case, yang akhirnya banyak berubah karena ketinggalan pesawat.

Tuktuk, muat sampai 6 orang.

Oiya untuk muter-muter, transportasi yang umum digunakan di sana adalah tuktuk. Biasanya sih mereka udah nyediain tarif gitu. Misalnya untuk muter-muter Phnom Penh itu USD 15, kalau nambah sampai ke Killing Fields jadi USD 20. Untuk muter-muter Angkor Wat biasanya USD 18 dari mulai Sunrise sampe Sunset (kalo sanggup). Kuncinya sih survey harga dulu biar gak ditipu sama abang-abangnya. Dan lebih banyak orangnya lebih baik, karena bisa patungan.

What to Eat?

Karena kami anaknya hemat banget (tapi maunya banyak), dan ditambah lagi di Kamboja apa apa bayarnya pake US Dollar jadi semua berasa mahal, kami memutuskan untuk bawa ricecooker mini untuk kelangsungan hidup dan dompet. Seperti waktu di Vietnam kemarin, Dea membawa ayam goreng padeh hasil rampokan dari dapur rumahnya. Makan enak dan gratis deh jadinya. Paling sesekali lah nyobain jajanan jalanan.

Jajan mie goreng pinggir jalan deket Sisowath Quay. 1 Dollar aja.

Salah satu jajanan favorit kami adalah semacam mie goreng gerobakan pinggir jalan. Enak. Banyak ditemui di pinggir jalan baik di Phnom Penh atau Siem Reap. Namanya? Ngga tau. 

"what's the name of this food?" tanya saya ke ibu penjual
"ajdhadjakjdsbad" jawabnya antusias
"what?"
"ajdhadjakjdsbad"
"oke, mie goreng"

Totoro suka.

Trus ada dessert juga yang super manis dan bikin gigi ngilu yang kami beli di night market Phnom Penh. Isinya manisan buah-buahan dari mulai pisang, kolang kaling, dan lain lain.

Namanya juga ga tau, sebut saja sup (ke)manisan.

Phnom Penh Night Market

Di Siem Reap kami sempat mencoba makanan khas Khmer di Cambodian Moslem Restaurant. Yang kami cobain Amok Chicken dan Loh Lak. Amok Chicken rasanya kayak ayam gulai Padang tapi rempah-rempahnya lebih ringan. Enak. Loh Lak itu kayak tumis daging sapi, dipesan sama supir tuk tuk dan saya ngga terlalu suka, karena sapi.


Amok Chicken dan Cap Cay

Where to Stay?

Seperti di Hanoi, penginapan murah di Kamboja juga kebanyakan berada di kawasan kota tua. Di Phnom Penh nama daerahnya Old Market. Lokasinya enak dan strategis jadinya bisa jalan kaki ke tempat-tempat yang asik seperti Night Market, Sisowath Quay, dan Royal Palace. Untuk booking seperti biasa saya menggunakan jasa booking.com.

Untuk harga penginapan, Kamboja hitungannya murah banget. Di Phnom Penh saya menginap di Pra Tna Guesthouse and Coffee. Hostelnya sendiri biasa aja, nggak spesial. Yang penting sih murah, dekat dari mana-mana, dan ada wifi gratisan di kamar. Haha. Triple room dihargai USD20 per malamnya, dibagi buat 3 orang. Jatuhnya sekitar Rp. 90.000 perorang, permalam.

Di Siem Reap saya menginap dua malam di triple bed room dengan harga USD 32, untuk 3 orang! Jatuhnya sekitar Rp. 70.000 perorang permalam. Saya suka hostel murah tapi bagus.

Hostel bersahaja

Recommended hostel:
The Dancing Frog Hostel, Siem Reap
Yang punya pasangan dari Prancis yang super ramah dan helpful banget. Mereka menghindarkan kami dari tuktuk yang ngasih harga gak wajar buat muter-muter Angkor Wat dan akhirnya nyariin tuktuk pengganti yang harganya rasional. Dan yang penting jadi ngga repot-repot berbahasa tarzan karena mereka bahasa Inggrisnya lancar jaya.

What to Shop?

Berbagai kerajinan dari karung semen Kamboja 

Syal kotak-kotak

Barang-barangnya sih mirip-mirip dengan yang ada di Thailand dan Vietnam. Saya ngerasanya lebih beragam juga lebih murah di Vietnam, makanya kemarin ngga terlalu antusias juga berburu barang-barang unik. Yang khas dari Kamboja adalah syal motif kotak-kotak warna warni dan berbagai kreasi dari karung semen Kamboja. Saya suka heran ngeliat mereka betah banget pake syal ini padahal kan Kamboja super panassss.

Cambodia and Scam

Banyak banget orang yang ngingetin saya untuk ekstra berhati-hati selama piknik di Kamboja. Dari mulai bapak-bapak di Damri yang waktu di Siem Reap katanya kecopetan dan kehilangan uang cash USD 400 (waduh), sampai mas-mas Kamboja yang sebelahan sama Andara di pesawat. Banyak banget tukang tipu dan tukang copet di sana. Jadi berhati-hatilah!

Bahkan waktu pertama kali sampai dan naik tuktuk dari airport di Phnom Penh, si supir tuktuknya ngingetin kami untuk meluk erat tas biar nggak dijambret. Untuk jaga-jaga, saya selalu naro uang dan paspor di money-belt yang ketutupan baju, jadi kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saya masih bisa pulang.

Berhati-hati juga sama supir tuktuk yang suka ngasih harga nggak wajar dan sedikit memaksa. Banyak-banyak survey harga biar nggak ditipu, dan harus gigih menawar. Amannya sih biasanya pesen tuktuk dari hotel aja.

So, How Much Money Should I Prepare?

Yang saya nggak suka dari Kamboja, kenapa mereka pake Dollar Amerikaa?? Trus kalo bayar pake Dollar nanti kembaliannya pake Riel (mata uang asli Kamboja), trus jadi bingung deh konversinya.

Umumnya 1 Dollar dihargai 4000 Riel. Lebih baik sih bekal Dollar dari tanah air, lalu tuker ke Riel secukupnya aja di Bandara. Kemarin saya cuma nukerin USD 10 ke riel dan itu lebih dari cukup.

Kerjaan tiap malem. Berhitung sambil nyatet.

Saya berbekal uang sekitar USD 160, dan pada akhirnya cuma habis sekitar USD 100, bisa nabung deh sisanya. 
Berikut budget piknik ke Kamboja kemarin, minus oleh-oleh dan jajan yaa.



Selamat piknik!

2 comments:

  1. kak, kalo transaksi kita ngasih/nawarnya langsung pake riel mereka mau gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau kok, tapi biasanya tetep dikurs-in dari harga dollarnya.

      Delete

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS