Bersepeda Mengelilingi Taipei


Saat pertama kali sampai di Taipei, hal yang sangat menarik perhatian saya adalah banyaknya sepeda berwarna oranye berjejer sepanjang jalanan, mirip dengan London dengan sepeda Santander-nya. Ketika berjalan dengan Guan dan Debby, mereka menjelaskan kalau sepeda-sepeda lucu itu bernama YouBike, yang bisa disewa dan dikembalikan di tempat berbeda. Saya dan Junda yang tidak punya banyak kesempatan untuk bersepeda di Jakarta tentunya langsung semangat dan merencanakan untuk bersepeda di seputar Taipei, berhubung kotanya sendiri sangat bike-friendly.

Untuk menyewa sepeda, kita hanya perlu menghampiri kiosk terminal sepeda YouBike yang tersebar di segala penjuru Taipei. Untuk tau lokasi parkiran YouBike terdekat dari lokasimu serta melihat apakah masih ada stok sepeda di kiosk tersebut, bisa dengan mudahnya diakses lewat aplikasi YouBike yang bisa di-download di smartphone. Kan sedih ya kalo udah datengin kiosk ternyata sepedanya lagi disewa semua. Setelah datengin kiosk, tinggal pilih nomor sepeda yang ingin disewa, lalu pilih metode pembayaran; EasyCard atau credit card. EasyCard adalah semacam kartu e-money nya Taiwan yang bisa dipergunakan untuk naik transportasi umum seperti metro dan bus. Tapi untuk pembayaran dengan EasyCard, kita memerlukan nomor telepon lokal Taiwan yang terdaftar untuk jaminan. Karena saya dan Junda gak punya itu (kemarin kami sewa portable WiFi), jadi kami membayar menggunakan credit card saja. 

Rate-nya hanya NTD 10 per 30 menit, yang kalau dirupiahkan hanya sekitar Rp 5,000! Tapi untuk yang bayar dengan credit card, akan di-charge juga deposit sebesar NTD 2,000 (sekitar Rp 900,000) yang akan dikembalikan lagi jika kita sudah mengembalikan sepedanya dengan selamat.

Tutorial meminjam sepeda oleh Guan dan Debby


Henlo, preman setempat!

Hari ke-dua di Taipei, berhubung kemarinnya sudah jalan kaki lumayan banyak dengan Guan dan Debby, kami memutuskan untuk mencoba bersepeda saja. Sebelum jalan, tak lupa isi tenaga dulu dengan sarapan (agak) berat. Kami mampir di salah satu warung yang keliatannya spesial menjual sarapan di dekat AirBnb yang sudah kami incar dari kemarin. Soalnya dari luar, keliatan rame banget orang yang sarapan di sana; dari mulai mas-mas kantoran sampe adek-adek sekolahan. Trus penampakannya lumayan menggoda; ada penggorengan besar yang berisi roti mirip cane, telur mata sapi, dan ayam yang sedang dimasak.


Begitu masuk, kami disodorkan oleh menu yang besar berisi huruf cina yang tentu saja tidak kami mengerti. Daftar menunya sendiri mirip menu di Solaria yang berisi list semua menu di mana kita tinggal mengisi jumlah ordernya. Tapi bedanya, di sini lebih eco-friendly karena pengunjung ga dikasih menu fotokopian. Menunya berbentuk kertas laminating dan kita tulis jumlah ordernya pakai pensil (mirip pensil penjahit yang untuk di kain) yang bisa dihapus. Perlu ditiru! Oiya, mas-mas yang jaga ngomong bahasa Inggris level pas-pasan banget, jadinya kami cuma pesen modal tunjuk pesenan orang lain dan goyang-goyang tubuh untuk memeragakan ayam (soalnya doi ga ngerti chicken hahaha).

Let me explain the layers: roti cane (roti maryam) + telur dadar + timun + keju + roti tawar. Kombinasi yang aneh, tapi ketika digigit dan di makan, kayak ada pesta tekstur di dalam mulut.

Semacam roti cane juga tp lebih tipis, digulung, di dalamnya ada scrambled egg, ayam, dan keju. Subhanallah

Pas makanan datang dan di gigitan pertama, kami langsung mensyukuri keputusan untuk sarapan di sana, tapi langsung sedih juga karena kesempatan untuk sarapan di sana hanya tinggal sehari lagi - berhubung besokannya mau pindah ke Jiufen. Makanannya sederhana dan murah tapi enak banget. Kayaknya tipikal sarapannya orang Taiwan emang beginian deh, soalnya di tempat lain banyak ditemukan kios-kios serupa. 

Setelah kenyang, kami pun siap mengarungi Taipei.


Junda seperti biasa didaulat jadi navigator, berhubung saya suka salah bedain kanan dan kiri (haha, sad fact about me!). Saya sering banget bilang belok kanan, padahal yang ada di peta dan ada di otak itu adalah kiri - vice versa. Jadinya untuk menghindari konflik rumah tangga yang baru aja dibina ini, mendingan Junda aja yang jadi navigator sekaligus penentu rute kami hari itu.

Awalnya kami berencana untuk explore kota dengan metro + jalan kaki dahulu lalu bersepeda di sore harinya saja menuju ke Shihlin Night Market. Tapi ternyata, di stop pertama saja kami sudah nyasar. Tujuan awal kami adalah ke Chiang Kai Shek Memorial, yang adalah merupakan monumen nasionalnya Taiwan. Tapi Junda dan navigasinya malah membawa kami nyasar ke sebuah kampus (yang ternyata adalah kampusnya Guan). Berhubung saya jadi cranky karena pas nyasar itu mayan cape jalan kakinya, jadinya kami pun memutuskan untuk mulai naik sepeda aja. 

Totoro, kamu dibonceng aja ya berhubung ga punya kartu kredit

Kami naik sepeda menyusuri kawasan perkotaan Taipei yang minim kendaraan, trotoar lebar, udara yang segar, dan langit yang biru. Enak banget, jadi lupa kalau tadi udah cranky. Hahaha.

Mas-mas navigator yang sepertinya dipertanyakan kredibilitasnya dan Totoro yang nyaman di keranjang.


Di mana-mana ada banyak banget parkiran sepeda jadi jangan panik, tapi jangan lupa digembok dulu ya biar nanti ga nangis kalau disuruh ganti.


Akhirnya sampai juga ke Chiang Kai Shek Memorial yang.. yaudah gitu aja. Monumen ini dibangun untuk menghormati Chiang Kai Shek, yang adalah Presiden China dulunya. Saat itu cuaca tiba-tiba jadi terik banget dan ada banyak turis, jadinya kita ngga terlalu ingin berlama-lama di sana. Setelah foto-foto dikit yang menandakan kalau udah sampai ke Taipei, kami pun segera bergegas pergi karena efek sarapan tadi dirasa sudah mulai memudar.



Tujuan berikutnya adalah makan siang! Saat Googling makanan khas Taiwan, yang keluar pasti beef noodle. Setelah cari-cari, ternyata ada satu restoran halal yang menjual makanan ini, dan termasuk salah satu yang terbaik juga di Taipei, namanya Chang's Beef Nodle. Setelah ikutin location menuju Chang's di Google Maps, kita sampai di depan restoran yang bertuliskan 清真黃牛肉麵館 (hahahaha gimana bacanya nih). Berhubung ga ada yang bisa bahasa Cina, jadi kami langsung berasumsi kalau restoran yang namanya susah dibaca itu adalah Chang's Beef Noodle dan main masuk aja karena ada logo halal yang gede dan ada bapak-bapak yang sibuk meracik mie. Belakangan setelah selesai makan dan jalan lagi, terlihat kalau ternyata Chang's Beef Noodle letaknya beda sekitar dua toko sama restoran ini! Hahaha, sedih. Tapi yaudahlah, tempat yang ini juga not bad rasanya.



Karena kelaparan abis sepedaan, kami agak gelap mata saat memesan. Kami pesan dua mangkuk beef noodle, satu yang pedas dan satu yang original, dan ditambah dengan dumplings. Dikirain dumplings yang datang akan dikit gitu tapi ternyata porsinya gede bangeeet. 

Beef noodle-nya sendiri buat saya gak terlalu spesial, agak mirip nuansa Pho di Vietnam, tapi tanpa aroma daun ketumbar. Rasanya agak terlalu ringan buat saya yang suka banget soto Medan dan Betawi. Tapi dumplings-nya, Allahu Akbar.

Best best dumplings that I've ever eaten.

Kulitnya kenyal dan daging di dalamnya juicy enak gitu. Walau dimakan as it is tanpa cocolan, dia tetap niqmat dengan segala kesederhanaannya.


Di restoran ini kami juga sekalian numpang sholat dzuhur dan duduk sebentar karena kenyangnya agak berlebihan.

Setelah recover tenaga, kami jalan kaki dulu ke arah Taipei Main Station untuk membantu melancarkan pencernaan. Sepanjang jalan ramai sekali karena saat itu ada semacam gay parade untuk merayakan pengesahan gay marriage di Taiwan, jadinya ada bendera pelangi di mana-mana. Di tengah keramaian itu, ada mba-mba berparas Asia Tenggara yang nyetop kita dan nanya "Mba, kalau mau nyetop taksi di mana ya?" dengan bahasa Indonesia. Waw, sahabat setanah air ternyata.


Semakin dekat ke arah Taipei Main Station, saya merasa kayak sedikit berhalusinasi karena terdengar sayup-sayup suara musik dangdut. Saya jadi mikir, apakah lagu Taiwan mirip dangdut? Tapi ternyata di depan stasiun memang ada panggung dangdut! Random yha. Ternyata setiap hari Minggu, para WNI sering berkumpul di daerah Taipei Main Station dan kadang suka ada panggung pertunjukannya juga. Hamdalah, kirain saya halu karena kenyang bego makan dumplings dan mie.

Taipei Main Station

Dari Main Station, kami naik bus sekitar 30 menit ke Dazhi MRT untuk sepedaan lagi. Junda bikin jalur seperti itu karena tidak jauh dari Dazhi MRT ada jalur sepeda yang menyusuri pinggiran Keelung River yang ternyata bagus BANGET. Waktu Googling, ternyata ini memang salah satu jalur sepeda yang paling indah di Taipei. Di sini bebas kendaraan, karena jalurnya memang khusus buat sepeda atau jogging aja.

Karena salah navigasi, Junda harus bertanggung jawab dengan menggotong sepeda ketika lewat tangga.


Di sepanjang jalur itu kami ngelewatin banyak taman, lapangan bola, lapangan baseball, serta banyak lapangan olah raga lainnya. Rata-rata lapangan ini ada aja yang sedang bermain, dan kebanyakan dedek-dedek usia sekolah gitu, wah kayaknya kalo sekolah di Taipei pasti seneng banget! Lokasi untuk main di luarnya ada banyak, jalur sepedanya bagus, bobanya enak-enak. Saya dan Junda langsung ingin ngobrol serius lagi untuk merencanakan pindah ke Taipei.

Bersepeda menyusuri Keelung river

Sering sekali berpapasan sama keluarga bahagia kayak gini :')

Di tengah jalan, kami mampir dulu beli coco untuk menyegarkan diri.

Baca juga dong : Taiwan, Bubble Drink Madness!


Kami sepedahan sekitar 12 KM dari Dazhi MRT ke Shihlin Nigh Market, tapi tidak terasa cape karena jalurnya bagus. Kayaknya kami pasti balik lagi deh ke Taipei untuk cobain jalur-jalur sepeda lain.

2 comments

  1. Haiii Mira & Junda,

    Kayaknya orang Taipei dan Cina sama sama jago bikin dumpling yaa, di Cina kemarin kami makan dumpling endeus-endeus banget! Mienya dibuat sendiri gak sama bapaknya? Btw, di trotoar gak ada jalur khusus sepeda kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai2 justinindyo, iya mie-nya dibikin sendiri sama bapanya. di beberapa tempat ada dedicated lane untuk sepeda di jalan raya.. tapi kalo ga ada, kita boleh pake trotoarnya~

      Delete