Diving in Raja Ampat? Checked.

Tuesday, December 18, 2012

Selalu ada 'saat pertama' dalam melakukan sesuatu. Pertama kali naik pesawat, pertama kali menonton bioskop, pertama kali wawancara pekerjaan, atau pertama kali yang lainnya. Saya pernah membahas hal tersebut di sini. Nah, kalau saya ditanya sekarang "Mira, when was the last time you did something for the last time?", maka saya akan menjawab : "beberapa minggu yang lalu saya untuk pertama kalinya diving".

Sore itu kami sampai di Waiwo Dive Resort, tempat di mana kami akan menginap selama beberapa hari di Raja Ampat. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah 4 waktu Indonesia bagian Timur dan kami diberikan waktu bebas. Bisa dipergunakan untuk sekedar leyeh-leyeh di pantai, snorkeling atau diving di depan resort. Ya namanya saja sudah Dive Resort, jalan sedikit ke tengah pantai depan resort, kita akan menemukan karang dan ikan yang berwarna warni. Tadinya saya memutuskan untuk snorkeling saja, karena mikir udah kesorean, mahal (diving ini biayanya ngga ditanggung sama panitia acara, hiks), dan yang paling terutama : SAYA TAKUT. haha.

Oke, saya suka snorkeling. Oke, alam bawah laut itu sangat indah. Tapi ide untuk menyelam ke bawah laut dan menggantungkan hidup kepada tabung oksigen itu menurut saya mengerikan. Jika ada satu hambatan besar yang membuat saya sampai sekarang susah buat lancar berenang adalah ketakutan akan kehabisan nafas. Haha ini konyol sih emang. Tapi biasanya ketika saya berenang dari ujung ke ujung di kolam berenang, saya suka berenti di tengah-tengah gara-gara tiba-tiba muncul rasa panik takut kehabisan nafas. Padahal mah ya tinggal naik ambil nafas juga beres, toh awal-awal udah bisa. Tapi ya gitu deh.

Tapi ketika melihat teman-teman yang lain sedang akan bersiap-siap memakai perlengkapan diving, dan yang paling penting ketika rasa gengsi saya yang setinggi puncak bukit di Wayag mulai timbul, maka saya segera mengambil langkah impulsif dan memutuskan untuk ikut. Another "what are you doing, Mir?" moment. Tapi setelah diyakinkan bahwa "hey it's alright, ini di depan resort kok. bukan di open water" dan make sure bahwa ada si guide yang janjinya sih bakal selalu menemani, saya pun sedikit tenang.

Saat sedang bersiap-siap memakai ini-itu perlengkapan menyelam, hujan turun dengan derasnya. Agak sedikit panik tapi si mas-mas guidenya cuma bilang "nyantai mbak, di dalam juga ntar basah", oke fine. Perasaan saat pertama kali dipakaikan peralatan menyelam : "gilak, aku kece gini lah". Beberapa saat kemudian : "edan berat banget". Hahaha.

Sebelum menenggelamkan diri, kami diberi beberapa pengarahan standar. Kayak fungsi tombol-tombol ajaib di rompi buat ngempesin dan ngisi pelampung, aba-aba di bawah air, cara equalisasi telinga, dsb. Wah kayaknya gampang nih, pikirku. Belum tau aja nanti di dalam kayak apa.

Latihan nafas pertama, kita disuruh duduk di dasar laut. Diem gak ngapa-ngapain, cuma belajar ngambil dan buang nafas. Oke lumayan gampang nih, pikirku lagi.

Blrrbb.. Blrrrbbb..
Beberapa detik kemudian.. Nubruk (fail)
Si mas-mas yang sangat bersemangat itu mulai mengajak saya ke tempat yang lebih dalam. Satu hal yang paling krusial didalam menyelam adalah equalisasi, dan saya lupa menerapkannya dan akibatnya telinga ini sakit luar biasa karena perubahan tekanan udara yang drastis. Langsung kasih aba-aba bahaya lalu saya langsung ke atas. Ini mas-masnya kesel kayanya karena saya naik-turun terus. Haha. Dan pada akhirnya karena bosen dimarahin saya pun berjuang dan akhirnya sukses aqualisasinya. Telingaku tak sakit lagi (pasang aba-aba oke di tangan). Hore.

Kedalaman 12 meter di bawah laut.

Sebenernya sih agak kecewa sama pemandangan di dalam sana. Karena baru habis hujan, jadi airnya agak keruh. Kata mas-masnya kalo lagi jernih dan nggak mendung, kita bakal bisa liat nudibranch. Bahkan travel-mate saya yang ikutan diving sempat ketemu penyu. Walaupun kurang beruntung, tapi yang saya lihat di bawah lumayan rame kok. Tapi tetep gak serame foto-foto underwater di google jika kita googling "raja ampat". Bahkan masih bagusan pas saya snorkeling di Menjangan. Yaiyalahya, ini cuma di depan resort. Kayaknya buat dapet yang benar-benar kece dan masih natural, harus nyelam di open water. Tapi denger-denger di Raja Ampat arus bawah lautnya agak mengerikan dan harus punya license dan minimal pernah nyelam 40x baru boleh nyelam di spot open-water.

Nemonya pasti lagi geli-gelian ke anemon. Hahaha. Agak shaky nih gambarnya
Saya dan si mas-mas menyelam hingga kedalaman 12 meter menurut alat pengukur kedalaman di rompi saya. So far so good, Sampai akhirnya rasa panik itu mulai menyerang lagi. Kali ini dipersembahkan oleh tenggorokan yang kering banget gara-gara susah menelan saliva. Akhirnya saya pun memutuskan untuk naik ke permukaan.

Dan the best momentnya adalah ketika saya muncul ke permukaan dan disambut oleh kedua pemandangan ini.

Matahari terbenam di sebelah Barat.
Pelangi yang sempurna di sisi yang berlawanan. Timur berarti ya?
Wira, leha-leha sambil motret langit yang ciamik.
Terimakasih banyak buat Rina atas pinjaman kamera underwaternya yang berguna sekali. maaf dibawa ke 12 meter padahal batas maksimalnya 10 meter. Hahaha. Dan diving in Raja Ampat pun sekarang sudah resmi dicentang dari bucket list. Semoga bakal ada pengalaman kedua, ketiga dan seterusnya :D

3 comments:

  1. my heart says "unsubscribe ini blog untuk beberapa saat! ga bagus buat kesehatan!!" but my eyes keep reading it till the end.

    ihhh masih sebel ih #_# kabitaaaa pisan!

    di setiap jiwa seorang travel junkie selalu ada rasa kek gini. Iri tiap kali baca/denger cerita temennya yang udah jalan ke tempat impiannya, while dia BELOM :))

    Kabitaaaaa

    ReplyDelete
  2. itu loh aku udah upload foto aku yg jatoh di bawah air mbak, biar gak iri-iri amat. hahaha

    ReplyDelete
  3. ada pesan2 terakhir mir sebelum nyelem? ahahaha congrats ya!! ah aku nyusul ntar deh diving di wakatobi :p

    ReplyDelete

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS