Bukit Lawang : Tumbal Darah untuk Bertemu Orangutan


Beberapa waktu lalu, akhirnya saya liburan dan melihat yang hijau-hijau kembali!

Setelah diam di apartemen kotakan kecil selama 6 bulan, saya keluar kandang juga. Ga tanggung-tanggung keluarnya, sung saya terbang ke Medan! Tujuannya tentu bukan untuk berlibur, tapi untuk 'pulang' dan menjenguk Papa di rumah, berhubung adik saya si Pojan dan istrinya, Sarah, juga sedang cuti dan bisa keluar kandang dari Papua sana. Alhamdulillahnya saya dan Junda masih boleh WFH sampai batas waktu yang belum ditentukan, jadinya kami bisa boyongan ke Medan dan bekerja dari sana. 

Dari awal rencana pulang, Pojan udah ngajakin saya untuk liburan tipis-tipis. Saya dan Junda lumayan insecure karena masih pandemi, jadi kami lumayan picky dalam memilih tempat berlibur. Dari berbagai rencana, akhirnya yang kami approve adalah trekking di Bukit Lawang.

Nama Bukit Lawang mungkin udah ga asing lagi buat warga Medan dan sekitarnya. Bukit Lawang adalah salah satu gerbang menuju Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang merupakan Taman Nasional terbesar se-Asia Tenggara! Hutan ini terbentang luas dari Aceh hingga ke Sumatera Utara dan menjadi rumahnya orangutan, gajah, harimau, dan badak Sumatera. Dulu waktu kecil saya ingatnya orang-orang sering piknik ke Bukit Lawang untuk main di sungai yang jernih dan berbatu. Sampai sekarang pun turis-turis lokal masih sering ke sini untuk main di sungai dan bikin sungai jadi terlihat kumuh dengan tenda-tenda di pinggirannya. Padahal, Bukit Lawang ternyata mendunia karena di sini kita bisa trekking di hutan hujan tropis dan melihat orangutan di habitat aslinya.

Dua tahun lalu, Pojan sempat trekking di Bukit Lawang dan menginap di dalam hutan. Dia cerita gimana serunya melihat orangutan, minum air sungai yang jernih, dan makan buah segar di dalam hutan. Berhubung saya penasaran karena setiap pulang ke Medan selalu gak ada kesempatan untuk ke sana, akhirnya saya dan Junda setuju dengan ajakan Pojan untuk trekking di Bukit Lawang. Opsi liburan ini terlihat sedikit lebih aman karena lokasinya yang cukup dekat dari Medan dan bisa dicapai dengan mobil pribadi, penginapannya yang menerapkan protokol kesehatan yang cukup strict (nanti saya akan bikin tulisan terpisah tentang Ecolodge Bukit Lawang), dan aktivitas trekking yang ada di alam terbuka.

Tanjakan awal


Kami menginap satu malam di Ecolodge Bukit Lawang agar bisa trekking dengan kondisi badan yang lebih prima berhubung trekking akan dimulai jam 7 pagi. Setelah sarapan mie goreng full carbs di restoran Ecolodge (awalnya agak nyesel tapi ternyata karbo sangat dibutuhkan untuk naik turun hutan), kami pun mulai masuk ke hutan ditemani oleh Bang Idris dan Bang Aris yang merupakan penduduk asli Bukit Lawang (bukan, bukan sodaranya Orangutan ya)


Untuk masuk ke TNGL harus pakai guide karena hutannya masih sehutan-hutannya hutan - agar tidak nyasar dan tidak panik ketika ada hewan-hewan liar yang menghampiri. Nyari guide-nya juga jangan yang abal-abal ya karena sempat ada beberapa kasus turis nyasar di dalam hutan karena guide yang tidak terlalu hapal jalan di hutan. Ada beberapa paket yang bisa kita pilih, dari mulai half-day, full-day, sampe 7 hari di hutan pun ada! Kami tentu tau diri dan memilih half-day trek saja, dan agar bisa langsung pulang ke Medan setelahnya. 


Baru masuk ke hutan, kami udah disambut dengan tanjakan lucu. Karena dulu pas naik Gunung Gede via Gunung Putri tanjakannya lutut ketemu kepala plus gendong carrier segede kulkas, tanjakan lucu ini jadi ga ada apa-apanya. Belum lagi langkah saya ringan sekali karena semua perbekalan kayak air minum dan snack udah dibawain sama Bang Idris dan Bang Aris.


"ih enak ya naik gunung ga bawa apa-apa", ujar saya jumawa

"oh ini belom ada apa-apanya kak", kata Bang Aris mengingatkan saya untuk stay humble


Baru sepuluh menit jalan, udah ketemu jalur rapat kayak gini


Jalanan setapak yang tadinya terlihat lebar lalu semakin rapat. Baru kali ini saya masuk ke hutan yang beneran belantara. Terlebih lagi, aktivitas trekking di Bukit Lawang baru dibuka kembali sebulan belakangan karena pandemi, jadinya banyak jalan setapak yang sudah jarang dilewati dan kembali menjadi belukar. Kalau ga ada Bang Aris dan Bang Idris, alamat kami semua udah jadi manusia hutan ga bisa pulang.


Sepanjang perjalanan, beberapa kali Bang Aris atau Bang Idris bergantian memisahkan diri untuk mencari orangutan. Terkadang sambil bersaut-sautan menirukan suara orangutan untuk memancing mereka datang, terutama ketika terlihat bekas sarang orangutan di atas pepohonan.


"Kalau hujan gini, orangutan kayak manusia, Kak. Malas keluar", ujar Bang Idris


Kemarin malam, hujan memang turun dengan derasnya sehingga hawa pagi itu lumayan adem dan enak untuk ndusel-ndusel. Kebayang sih, saya aja mager kalo weekend disuruh keluar rumah, gimana lagi kalau habis hujan ya. Pasti pengennya boboan sambil makan Indomie dan nonton Netflix. Saya kebayang orangutan lagi pada chill di atas pohon sambil ngemil pisang.


"Orangutan itu ga terlalu suka pisang, Kak. soalnya di hutan banyak buah lain yang lebih enak. Ada mangga, durian, manggis, jengkol.." - wow, sebuah pengetahuan yang baru.


Senang sekali rasanya hari itu karena akhirnya bisa melihat pemandangan hijau yang luas dengan aroma yang berbeda-beda. Terkadang tercium aroma jengkol (salah satu kesukaannya orangutan, sama kayak Papa saya hahaha), pandan (tandanya ada musang di sekitar), atau simply bau tanah yang basah aja. Tentram sekali, ditambah bunyi-bunyian serangga atau burung yang bikin hutannya jadi terasa lebih hutan. Sesekali kami juga melihat kawanan Thomas Monkey yang lagi bercanda di atas pohon dan rebutan makanan. 


Makin lama makin mengecil jalannya



Hotel di tengah hutan

Di tengah hutan, tau-tau ada hotel! Saya sih serem ya liatnya, kebayang scene film horror. Tapi menurut abang-abang guide, penginapan ini lumayan populer di kalangan turis-turis luar yang ingin menyendiri. Baiklah..


Ini salah satu jalan yang kami lewati

Semut gajah! Gede bangetttt



Meskipun di TNGL ini banyak banget populasi orangutan, tapi ada beberapa yang 'jinak' dan sering nyamperin kalau lagi ada turis yang trekking. Saking jinaknya, mereka sampai punya nama sendiri dan guide-guide ini pada hapal loh! Tapi selain orangutan jinak, ada juga orangutan yang agresif karena trauma atas perlakuan kasar manusia ketika dia berada di penangkaran. Salah satu yang agresif namanya Mina. Bang Aris bercerita kalau dia pernah digigit Mina karena berusaha melindungi turis yang ketemu Mina ditengah jalan. Beberapa kali dia ngingetin saya dan yang lain untuk awas dan selalu lihat kanan kiri karena terkadang Mina sering berjalan di daratan dan membuat turis lengah. 

Bang Aris dan Bang Idris mulai terlihat frustasi karena tak kunjung menemukan orangutan. Padahal kami semua asik-asik aja dan menganggap kalau bertemu dengan orangutan bukanlah inti dari perjalanan ini. Hari itu selain grup kami, kami hanya bertemu 1 bapak bule bersama seorang guide yang juga mengeluh karena orangutan yang mager dan gak mau keluar dari sarangnya :))

Ketika sedang berjalan, tiba-tiba kami mendengar teriakan Bang Idris yang memang memisahkan diri untuk scanning orangutan. Kami buru-buru ke sana dan mendapati burung merak yang cantik sekali. Saya menahan nafas karena takut si merak terganggu oleh keberadaan kami. Baru kali ini saya melihat burung merak di alam bebas :")

Ga jauh dari tempat kami melihat si merak, ada sebuah area yang bersih dari dedaunan. Menurut Bang Idris, merak jantan akan membersihkan area tersebut untuk venue fashion show memamerkan keindahan buntutnya demi menarik perhatian betina. Bang Idris menunjukkan video di HP-nya ketika ada merak yang lagi fashion show melenggak lenggok. Lucu juga ya dia.

Hey, merak!

Buntutnya panjaaang

Hundreds years old tree!

Feast in the jungle

Di tengah perjalanan, Bang Idris dan Bang Aris membuka perbekalan. Bak kantong ajaibnya Doraemon, dari tas mereka yang terlihat kecil dan enteng, keluar lah buah-buahan segar; ada semangka, nanas, dan rambutan. Ketika kami sedang menikmati buah-buahan, ada seekor gibon yang datang dan mencuri nanas :)) Mayan kaget karena Sarah  tiba-tiba teriak histeris, saya kira ada ular atau malah ada Mina. Bahkan Gibonnya juga ikut kaget dan lari karena teriakan Sarah. Kasian juga karena setelahnya dia masih ngintip-ngintip penasaran dengan muka memelas karena pengen makanan lagi. Sayang saya ga sempet motret Gibon ini.


Salah satu trek challenging, melewati pohon yang habis kena petir

Hutan sehabis hujan memang membuat orangutan malas untuk keluar dari sarangnya. Tapi ada hewan lain yang justru semangat untuk menampakkan diri, yaitu PACET! Buat yang belum tau, pacet ini adalah hewan semacam lintah yang haus akan darah. Saya baru kali ini liat pacet sebanyak itu ya Allah. Awalnya kami semua senang-senang saja di hutan sampai akhirnya melihat pacet yang mulai merangkak naik di sepatu mencari setetes darah. Saya dan Sarah yang notabene cewe kota yang takut sama pacet dikit-dikit cuma bisa teriak histeris tiap ada pacet yang naik ke sepatu kami. Saya sampai kasian sama guide-guide kami karena setiap 5 menit melangkah saya selalu ngecek sepatu dan teriak ke Bang Aris untuk ngambil pacet yang hinggap. 


Pada akhirnya kami semua tentu tak luput dari gigitan sayang pacet-pacet haus darah, walau ga ada yang ngalahin gigitan pacet di pantatnya Pojan sih :)))) Sebuah pengingat untuk ga pakai celana pendek di hutan belantara sehabis hujan.


Setiap liat daun-daun basah gini, langsung was-was karena biasanya ada pacet yg menggeliat-geliat

Spot ini digigit pacet 4x berturut-turut. Kadang ada 2 pacet nempel bersamaan :")


Ternyata benar yang dibilang Bang Aris karena tanjakan yang kami lewati di awal perjalanan tadi tidak ada apa-apanya. Sepanjang perjalanan kami masih naik turun bukit dengan jalur yang licin sehabis hujan dan ancaman pacet yang haus darah. Berkali-kali kami melewati kubangan air yang bikin saya was was melangkah karena takut melihat pacet yang bergelantungan. 


"Bang, ini ga ada jalan yang biasa aja ya?" ujar saya mengeluh 

"Lah, ini udah jalan yang biasa kak."


Ternyata perjalanan kami yang penuh perjuangan ada hasilnya. Walaupun awalnya udah pasrah ga akan ketemu orangutan, hari itu kayaknya kami masih beruntung karena akhirnya ada satu orangutan yang sedang nongkrong di atas pohon. Namanya Catherine, orangutan betina yang masih remaja yang merupakan anaknya Mina. Hehe lucu bangeeet liatin dia nongkrong di atas pohon sambil liatin kita di bawah :") Rasanya ingin peluk deh karena terlihat fluffy.


Di sana kami bertemu bapak bule yang tadi papasan dengan keadaan kaki yang telah bersimbah darah dan beberapa pacet yang sedang nangkring asik di kakinya :"(


Catherine lagi chill

Tetangganya Catherine yang baru lahiran

Mulai turun gunung




Setelah melihat orangutan, kami pun turun gunung menuju sungai. Tepat jam 1 siang kami sampai di tepi sungai dan ga kerasa (bohong, kerasa banget karena tiap menit was-was ada pacet) udah 5 jam kami berjalan kaki di hutan. Rasanya senangggg dan lega tiada tara melihat bebatuan dan bukan tanah basah, sampe akhirnya saya melihat 2 pacet hinggap di bekas gigitan pacet sebelumnya dan 1 pacet besar sedang menggeliat di sekitar lutut. Teriakan saya kencang membelah gunung dan saya yakin membangunkan semua orangutan yang sedang bobo.



Belum selesai lagi, ketika sedang makan nasi goreng (yang lagi-lagi dengan ajaibnya keluar dari kantong Doraemon), ada pacet seukuran kelingking yang berjalan di tangan saya. Saya langsung insecure parah dan ingin cepat-cepat mandi karena udah negative thinking kalau si pacet nangkring di tempat yang tidak sepantasnya.


Kabar baiknya, perjalanan kami hari itu diakhiri dengan tubing di sungai. Happy sekali! Rasa insecure karena pacet hilang sesaat. Sungainya dingin dan jernih, dengan hutan rapat di kanan kiri. Ada 2 air terjun tinggi yang kami lewati di perjalanan. Berasa lagi di Amazon deh ngeliat sungai dan hutan yang rapat begini.



Such a memorable experience! Walau setelahnya backpain saya kumat 2 minggu lamanya wkwkwk. Saya jadi penasaran untuk nyoba trekking di Tangkahan, sisi lain TNGL yang ada gajahnya dan jadi tempat favoritnya Nicholas Saputra. Semoga ada waktu untuk kembali lagii~

PS : foto-foto binatang sebagian besar difoto oleh adik saya si Pojan

5 comments

  1. Salam kenal Kak. Wah asik banget petualangan trekking di Bukit Lawang-nya (walau kebayang aroma insecure gara-gara pacet hiyyy); Jadi pengen banget nyobain jugak. Waktu ke Sumatera Utara baru sempat ke Tangkahan aja (dan itu cuma main tipis-tipis di sungainya). Semoga bisa ke Bukit Lawang juga ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo salam kenal! Wah, aku pengen banget ke Tangkahan. Semoga aku bisa ke sana dan kamu bisa ke Bukit Lawang yaa :)

      Delete
  2. (((walau ga ada yang ngalahin gigitan pacet di pantatnya Pojan sih))) ngakaaaaakkk! Kacian Pojan. Tapi ngakak wakakakak. Belom pernah ya Allah digigit pacet, mau pengsan bayanginnya! Tapi kalau 2 pacet nempel bareng, janjangan mereka lagi ena ena kali Mir, bukan ngisep darah wkwkwk.

    Terus aku pun ngakak pas bayangin gibonnya kaget gegara dengar teriakan. Nanasnya gak jatoh kan? Aku bayangin mukanya si gibon melas melas, mirip sama muka raja julian di Madagaskar (meski dia bukan gibon sih) wkwkwk. Hiburan banget Mir tulisanmu. Kangen deh ah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Epik sih karena Pojan ngerasa gatel di pantat, pas digaruk, eh ada pacet nempel :))) kalo Junda digigitnya malah di ketek.

      Iyaa kasian gibonnya, untungnya ga jatoh tin nanasnya. Tapi mukanya melas-melas gitu ngintip-ngintip, akhirnya kita lempar2 lagi sisa buah-buahannya

      Delete
  3. Omgggg, digigit pacet rasanya bagaimana, mba? Geli begitu yah? Saya nggak akan sanggup membayangkannya 😂 tapi memang nggak berasa kah mba saat pacetnya naik ke badan? Kok bisa sampai gigit pantat? 😱 seraaaaam hahaha.

    By the way, seru baca cerita perjalanan mba Mira. Berasa diajak masuk ke hutan, lewati sungai, naik turun bebatuan dan pertahanan 😍 terus foto orangutannya bagus bangettts, plus paling suka foto-foto merak 😆 hehehe. Thanks sudah membawa saya jalan-jalan virtual, mba. Semoga one day mba Mira bisa ke Tangkahan 😍

    ReplyDelete