Sputnik Sweetheart

Thursday, February 23, 2012

Semenjak lulus, tepatnya semenjak bekerja, saya jarang sekali bisa menamatkan suatu buku. Boro-boro tamat, biasanya suatu buku berakhir naas di tengah perjalanan dan tidak saya sentuh kembali karena mood membaca tiba-tiba menguap secara mistis. Maka saya terheran-heran ketika bulan ini (hingga saya mengetik postingan ini) saya telah menamatkan 4 buah buku. Prestasi yang luar biasa bukan? Bukan. Hahaha. Saya akhirnya mendapati bahwa melarikan pikiran sejenak dan menenggelamkannya ke dalam suatu buku merupakan cara yang paling efisien untuk melupakan sejenak rasa resah yang selalu menghantui belakangan ini. 

Saya sedang jatuh cinta dengan karya-karya seorang penulis jepang bernama Haruki Murakami.
Berawal dari Kafka on The Shore, lanjut Norwegian Wood, saya langsung jatuh cinta dan penasaran dengan karya-karyanya yang lain. After Dark dan Sputnik Sweetheart adalah dua yang berhasil saya khatamkan di bulan ini, tapi sekarang mari kita bahas tentang si Sputnik Sweetheart.

Cover versi tidak vulgar. Versi yang saya baca bergambar wanita nude :P

Pernahkah kamu merasa benar-benar kehilangan akan sesuatu? Sesuatu yang benar-benar berharga. Mungkin dulu semasa 'sesuatu' itu masih ada, kamu tidak menyadari makna kehadirannya dan tidak menyadari bahwa akan sebegitu menyakitkannya ketika ia menghilang. Vanished, like a smoke. Rasa kehilangan itu yang menjadi tema besar dalam buku ini. Miu, seorang wanita mapan, yang kehilangan sesuatu dalam dirinya, yang menjadikannya merasa setengah hidup. K, sudut pandang 'aku' dalam buku ini yang kehilangan Sumire. Dan Sumire, seorang gadis yang menurut saya keren sekali- yang sangat hobi menulis dan segala sesuatu yang berbau literatur, yang tiba-tiba kehilangan sesuatu dalam dirinya ketika mulai jatuh cinta kepada Miu, membuatnya tak lagi bisa menulis, bahkan membaca buku.

"Imagine The Greatest Hits of Bobby Darin minus 'Mack the Knife', That's what my life would be like without you."

Sama seperti buku-buku Haruki Murakami yang lain, saya bengong dan melamun lama setelah selesai membaca Sputnik Sweetheart ini. Hal yang saya sukai dari karya-karyanya adalah ceritanya yang penuh dengan hal-hal absurd yang terkadang (sering malah) tidak saya pahami. Membuat saya bertanya-tanya apa maksud di balik itu semua. Membaca buku-bukunya membuat saya merasa sedang bermimpi, mimpi panjang yang absurd dan surreal, dan ketika terbangun kepala saya dipenuhi dengan begitu banyak pertanyaan yang jawabannya entah ada di mana. Perasaan yang menyenangkan. Selain itu, Haruki selalu sukses membangun karakter-karakter yang kuat dalam ceritanya. Dengan background hidup yang kebanyakan kelam.

Saya menyadari betul bahwa kebanyakan review buku yang saya tulis ujung-ujungnya selalu membuat si bukunya terlihat tidak semenarik yang saya baca. Akan tetapi seseorang pernah berkata, tulislah apapun mengenai buku yang telah kamu baca, agar ingatan tentang buku itu tidak hilang begitu saja. Scripta manent verba volant. Tapi percayalah, terlepas dari review saya yang kacangan ini, Sputnik Sweetheart ini sangat recommended. Jauh-jauh lebih keren daripada yang saya gambarkan di sini :) 
---

Tomorrow  I’ll  get  on  a  plane  and  fly  back  to  Tokyo.  The summer holidays are nearly over, and I have to step once more in  that endless  stream of  the everyday. There’s a place  for me there.  My  apartment’s  there,  my  desk,  my  classroom,  my pupils.  Quiet  days  await  me,  novels  to  read.  The  occasional affair.

But  tomorrow  I’ll  be  a  different  person,  never  again  the person  I  was.  Not  that  anyone  will  notice  after  I’m  back  in Japan. On the outside nothing will be different. But something inside has burned up and vanished. Blood has been shed, and something  inside  me  is  gone.  Face  turned  down,  without  a word,  that  something makes  its  exit. The door opens;  the door shuts. The light goes out. This is the last day for the person I am right  now.  The  very  last  twilight.  When  dawn  comes,  the person I am won’t be here any more. Someone else will occupy this body.


*


Why do people have  to  be  this  lonely? What’s  the point  of  it  all?  Millions  of  people  in  this  world,  all  of  them  yearning, looking  to  others  to  satisfy  them,  yet  isolating  themselves. Why? Was the Earth put here just to nourish human loneliness? I  turned  face-up on  the  slab of  stone, gazed  at  the  sky,  and thought about all the man-made satellites spinning around the Earth.  The  horizon was  still  etched  in  a  faint  glow,  and  stars began  to  blink  on  in  the  deep,  wine-coloured  sky.  I  gazed among them for the light of a satellite, but it was still too bright out  to  spot  one  with  the  naked  eye.  The  sprinkling  of  stars looked  nailed  to  the  spot,  unmoving.  I  closed  my  eyes  and listened  carefully  for  the  descendants  of  Sputnik,  even  now circling  the  Earth,  gravity  their  only  tie  to  the  planet.  Lonely metal  souls  in  the  unimpeded  darkness  of  space,  they meet, pass  each  other,  and  part,  never  to  meet  again.  No  words passing between them. No promises to keep.

1 comment:

  1. bener banget,,,
    susah banget skrg buat namatin baca buku mbak
    wah 4 buku? great mbakk!!
    keep reading and keep writing

    ReplyDelete

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS