Gloomy Odaiba

Wednesday, May 14, 2014

Hari ke-3 di Jepang. Setelah sarapan sandwich telur ala chef Mira (padahal isinya cuma telur sama abon) di hostel, kami pun bersiap-siap mengarungi Tokyo lagi. Kali ini agendanya adalah bersepeda di sekitar Asakusa. Setelah semua siap dan bergegas keluar dari hostel, brrrrrrr... angin dingin berhembus dibarengi oleh hujan rintik-rintik. Kami pun masuk ke hostel lagi lalu tidur mengambil sarung tangan, payung, syal, dan alat tolak dingin lainnya. Setelah dicek di accuweather ternyata suhu hari itu 7°C dan ada tambahan "Feels like 3° C", pantesan! Sepedaan hujan-hujanan plus dingin kayak gitu manatahaaan. Langsung kita merubah rencana menjadi Plan B. Bersepedanya dibatalkan, digantikan dengan jalan-jalan ke Odaiba karena Irfan ngebet banget pengen liat Gundam raksasa.


Odaiba adalah sebuah pulau buatan yang ada di teluk Tokyo. Ada sebuah jembatan bernama Rainbow Bridge yang menghubungkan Odaiba dengan Tokyo. Dari Asakusa, naik Tsukuba Express ke Akihabara lalu pindah ke JR Yamanote Line dan turun di Shimbashi. Di Odaiba, kita bisa naik Yurikamome line untuk muter-muter jadi biar hemat mendingan beli Yurikamome day-pass di stasiun Shimbashi seharga ¥820. Dengan day-pass ini, kita bisa naik kereta Yurikamome di Odaiba seharian sepuasnya.


Hari itu suasananya super gloomy dengan awan mendung abu-abu dan juga cuaca yang terasa super dingin untuk kami, makhluk-makhluk tropis. Jadinya kemarin kami lebih nyaman berada di dalam mall yang hangat. Aduh cemen gini padahal baru dinginnya musim semi, gimana ntar kalau main ke Iceland. Memang kemarin perbekalan pakaian kami didasari oleh riset yang kurang sehingga dirasa kurang mengakomodir udara dingin. Batal sudah ingin gaya-gayaan di Jepang karena mau pake baju apa juga ujung-ujungnya pasti ditutupin jaket. Tapi main di mall kemarin ternyata cukup menyenangkan juga karena selain hangat, hampir semua urusan peroleh-olehan dan titipan-titipan bisa diselesaikan di Odaiba. Selain ada toko Gundam yang super lengkap di lantai teratas Tokyo Diver City Plaza, ada toko bernama 3 Coins yang wajib dikunjungi. Banyak sekali printilan lucu dengan harga serba ¥300! Rasanya pengen beli semua untuk nanti bekal kalau udah punya rumah sendiri. Tapi ngelirik bagasi yang cuma 20kg dan di-share untuk 5 orang, dan juga ngelirik dompet, niat itu cuma dipendam saja. Suatu saat saya harus kembali lagi ke sini. Di foodcourt yang berada di lantai dasar, ada Takoyaki terenak yang pernah saya makan seumur hidup. Nama gerainya Gindaco. Dingin-dingin makan Takoyaki hangat nan lezat itu ternyata surga dunia sekali. Sampai-sampai kami nambah dua kali sekalian ngabisin koin recehan yang mulai menumpuk. Mas-mas yang jual sempat shock menerima pembayaran berupa segepok recehan tapi ya sudahlah tetap dilayani kok :))

*Selfie at its max with 26 Japanese students. Photo credit to : Ibunbun
*khusyuk nonton Gundam, beberapa menit sebelum dia sadar kalau dipoto trus kabur nyari emaknya
*treasures that I  found at 3 Coins
*the best Takoyaki that I've ever eaten. Photo credit to : Luqman

Puas belanja di Tokyo Diver City Plaza, kami pindah ke mall lain bernama Venus Fort. Awalnya ke sini cuma ingin naik ferris wheel-nya saja, tapi ujung-ujungnya teuteup lanjut shopping. Haha. Di sana ada toko serba ¥100. Tokonya lebih besar dari 3 Coins dan isinya jauh lebih variatif. Awalnya pada nggak percaya harganya serba ¥100, sampai akhirnya numbalin saya buat bayar belanjaan duluan. Pas saya udah di kasir, yang lain cuma mengawasi dan ketika akhirnya saya bayar langsung pada ngambil keranjang dan borong. Hahaha. Dari mulai mini-fan USB, kaos kaki lucu, syal, topi, sumpit-sumpit, perlengkapan rumah tangga, tas, iphone case, semuanya ¥100. Sejak saat itu kita semua jadi fans toko 100 yen yang banyak sekali bertaburan di Jepang. Di sebelah toko 100 yen ada duty free shop yang menjual segala macam barang dari mulai alat elektronik, makanan, sampai souvenir khas Jepang. Harganya nggak jauh beda dari Nakamise Street jadi kalau mau belanja nyaman tanpa dijutekin penjual di Nakamise, belanja di sini bisa jadi alternatif. Oiya gak jauh dari toko 100 yen juga ada toko yang menjual pernak-pernik Ghibli! Harganya lumayan bersaing dari merchandise store di Museum Ghibli.

Di Venus Fort, saya bertemu dengan Martin, teman sekelas pas SMA yang pinternya kebangetan. Murid kesayangan guru fisika saya yang super killer (yang killer gurunya, bukan Martin) ini dapat beasiswa S-1 di Jepang dan sekarang sedang melanjutkan pendidikan S-2nya. Sudah sekitar 7 tahun dia tinggal di Sendai dan logat bahasa Indonesianya jadi kejepang-jepangan banget. Bahkan mukanya juga udah mirip orang Jepang, tidak seperti Martin yang kukenal pas SMA dulu, halah. Pagi itu dia ada jadwal interview di Tokyo dan menyempatkan waktunya buat nyamperin saya ke Odaiba dan nemenin naik ferris wheel sebelum malamnya kembali lagi ke Sendai. Terharu. Dia cerita kalau di Jepang itu job-hunting biasanya dilakukan sebelum lulus, jadi ketika nanti udah lulus bisa langsung mulai bekerja. Dan saat itu memang lagi musimnya job-hunting jadi para mahasiswa dari seluruh penjuru Jepang berbondong-bondong ke Tokyo untuk interview di berbagai perusahaan. Pantesan kemarin-kemarin di Shinjuku sering banget nemuin rombongan muda mudi berpakaian jas formal sambil menggotong koper.


Dari atas ferris wheel raksasa, bisa terlihat pemandangan teluk Tokyo yang sayangnya super mendung. Tiketnya sekitar ¥3000 untuk 6 orang. Dan ternyata di dalam kabinnya hangat! Padahal tadinya mau diadakan games tahan-tahanan dingin di atas ferris wheel :))

*di dalam Ferris Wheel bersama Martin (liat yang paling rapih- haha). Photo credit to : Ibunbun

Sebagai turis sejati, jangan lupa foto di patung Liberty mini dengan latar Rainbow Bridge. Sayang sekali kemarin mendung, padahal kata Martin sunset di Rainbow Bridge biasanya super ciamik. Oiya kenapa dinamakan Rainbow Bridge, katanya karena kalau malam hari jembatannya menyala berwarna-warni kayak pelangi. Tapi Martin bilang di Jepang lagi ada krisis listrik jadi mungkin kemarin pas saya ke sana lampu-lampu jembatannya nggak dinyalain. Atau mungkin juga saya datangnya kurang malam, karena pas besok harinya melihat pemandangan Odaiba dari atas Tokyo Tower, ternyata jembatannya nyala! *more on that later


See you again, Odaiba. One day I'll be back again (hopefully) with the clear sky and great weather :D

2 comments:

  1. Miraaa itu gundamnya miraaaaaaa *histeris*

    ReplyDelete
  2. Pengen deh ke Odaiba... sunset, aku suka banget

    ReplyDelete

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS