Prague: A Love (and Mostly) Hate Relationship

Saturday, November 18, 2017

Praha terkenal banget sebagai salah satu kota yang romantis. Berdasarkan foto dan testimoni para netizen di dunia maya, terbentuk bayangan kalau kotanya bakal syahdu macam Edinburgh gitu. Didasari rasa penasaran dan tiket pulang murah ke London dari Praha, berangkat lah saya ke sana sebagai tujuan terakhir di rangkaian perjalanan Eurotrip di musim panas kemarin. Yang namanya jalan-jalan pasti ada enak dan ga enaknya. Mungkin keliatannya dari foto-foto yang dipajang di socmed cuma keliatan senang-senangnya aja, tapi kali ini saya mau cerita bagian kurang senangnya.


Dimulai dari perjalanan Salzburg - Praha menggunakan overnight bus yang sengaja dipilih demi menghemat budget penginapan. Ternyata, rute tersebut mengharuskan saya untuk transit di Graz, sebuah kota di Austria, dan berpindah bus. Saya tiba di Graz pukul 23:30 dengan keadaan super ngantuk dan harus menunggu sekitar 1 jam 20 menit hingga bus tujuan ke Praha datang. Saya kira yang namanya terminal seengganya akan ada ruangan buat nunggu, tapi kenyataannya, cuma ada halte kecil gitu dengan keadaan gelap dan sepi, di mana saya cuma satu-satunya orang yang menunggu di sana dan ada beberapa muda mudi lagi chill nongkrong-nongkrong di rerumputan dekat halte. Terminal Graz sebenernya berada tepat di sebelah stasiun kereta tapi sayangnya stasiun tersebut dikunci karena sudah malam. Fix sudah, saya harus terima nasib berdiri sendirian gelap-gelapan nunggu bus.

1 jam 20 menit (yang terasa seperti 5 jam penuh dengan komat kamit doa) kemudian, bus pun akhirnya datang. Berdiri tengah malam di luar dengan angin yang lumayan kencang ternyata menyebabkan penyakit yang populer di kalangan orang Indonesia datang menghampiri. Yak, saya resmi masuk angin dengan perut kembung sekembung-kembungnya.


12 jam berlalu sejak berangkat dari Salzburg, sampai lah saya di Praha. Kesan pertama, "mana nih bangunan-bangunan tuanya?" karena yang terlihat cuma bangunan-bangunan modern yang beda banget dengan foto-foto di Google. Ternyata, hostel saya yang dekat dengan terminal bus ada di sisi 'modern' dari Praha.

Setelah check-in di hostel yang petugasnya ga ada ramah-ramahnya sama sekali, malah cenderung jutek (belakangan baru tau kalo emang orang-orang di Praha cenderung dingin gitu pembawaannya), saya pun siap-siap untuk mandi. Tapi, begitu saya sampai di kamar mandi wanita, ternyata .......
..
..
..
JENG JENG!
kamar mandinya ga ada sekat-sekatnya!

Jadi cuma ada shower-shower berjejer tanpa pintu/sekat/gorden dan yaudah kalau mau mandi harus ikhlas ditontonin orang lain. Mau marah tapi kusudah lelah. Mau ga mandi tapi harus mandi karena kemarin seharian di jalan. Akhirnya saya pun mandi kilat mojok-mojok ke dinding :(


Setelah mandi dan sarapan roti bekel dari Salzburg, saya pun bersiap menjelajah kota Praha ke daerah old town. Di sini kita bisa beli tiket terusan untuk tram, bus, dan metro yang jadi satu. Harganya lumayan murah dan sebenernya kalau mau naik tapi ga punya tiket juga bisa banget! Berhubung tiketnya ga akan diperiksa di pintu masuk semua moda transportasinya.... kecuali kalau lagi apes ada petugasnya. Tapi, meskipun selama dua hari di sana tiket saya nggak pernah diperiksa, biar aman ya lebih baik punya tiket dan jangan lupa divalidasi pas baru beli. Petugasnya mungkin ga akan liat, tapi Allah liat kok #mamahdedeh

Saya lumayan suka metro-nya Praha karena relatif lebih bersih dibandingkan Paris, Milan, atau Roma. Keretanya sendiri tua, tapi disain stasiunnya sendiri agak futuristik gimana gitu. Tiap stasiun punya warna yang berbeda-beda seperti stasiun Staroméstská di bawah ini yang berwarna merah.


Hari itu matahari bersinar terik banget, saya jadi kurang menikmati jalan-jalannya karena efek masuk angin, kepala pusing, dan tenggorokan yang tiba-tiba kumat radangnya. Saya raba kening saya, anget. Praha hari itu padat sekali. Perpaduan dari matahari yang terik, kepala yang pusing, dan rombongan besar buibu dan bapak-bapak turis dari negeri Tirai Bambu yang agak agresif dengan tongsisnya benar-benar buruk sekali.

Dengan susah payah saya jalan kaki panas-panasan lumayan jauh untuk cari apotik, yang pertama tutup, untungnya ga jauh dari situ ada apotik lain. Saya udah panik aja takut tiba-tiba pingsan sendirian di jalan. Saya beli obat dan langsung minum saat itu juga di apotik sambil istirahat sebentar. Pas udah agak mendingan, saya cari mesjid untuk makan siang karena susah banget cari makanan halal di Praha, sholat dzuhur, dan leyeh-leyeh.


Matahari sudah lumayan redup, saya juga udah agak mendingan demamnya, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Gak lama kemudian, hujan turun. Langit memang kadang-kadang suka bercanda. Tau aja dia kalau saya gak bawa payung dan cuma punya jaket jeans aja :')


John Lennon wall


Charles Bridge




Oke, harus saya akui bahwa Praha memang cantik sekali, terlepas dari pengalaman-pengalaman saya yang kurang enak di sana. Rasanya seperti sedang berada di cerita-cerita dongeng. Menjelang matahari terbenam, saya berniat naik ke atas astronomical clock tower yang berada di pusat kota Praha. Konon katanya, saking suksesnya clock tower tersebut pada masanya, sang pembuat jam kemudian dibuat buta oleh pemerintah Praha agar beliau tidak bisa membuat jam tandingannya. Sayang sekali sesampainya di sana, si tower ini lagi direnovasi.




Trdelník, pastry khas Praha yang rasanya... biasa banget. 

Berhubung astronomical clock lagi tutup, jadi naik Charles tower aja yang letaknya ada di ujung Charles bridge.

Menjelang matahari terbenam


Praha adalah tempat kelahiran dari Franz Kafka.


Franz Kafka statue yang bisa gerak-gerak


Hari ke-dua di Praha, hujan turun sederas-derasnya. Saya habiskan hari itu dengan berteduh di sebuah coffee shop random dan berkunjung ke toko buku.

Lesson learned : do not ever leave your umbrella!

Shakespeare & Son -- a perfect shelter for rainy day.








Saya akhiri perjalanan di Praha dan rangkaian perjalanan Eurotrip kali itu dengan drama lain di bandara. Yak, ternyata saya lupa check-in di website sehingga saya harus ikhlas membayar denda sebesar 35 pounds (yang lebih mahal dari harga tiket saya ke London) hanya untuk mencetak selembar boarding pass. Pengalaman dan pelajaran benar-benar mahal ya ternyata :(

--

Dan berikut random footages yang saya kumpulkan di rangkaian perjalanan Brugge - Salzburg - Hallstatt - Prague:


4 comments:

  1. Aku abis nulis cerita kerugian pas ketinggalan kereta di York, terus baca yg kamu ceritain lupa web check in, astaga meringiissss ahahahaha. Dua hari yg seru di Praha ya Mir. Besok besok kesana lagi pake koyo di udel 😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nihh, waktu itu belum tau jurus koyo di udel. hahaha

      Delete
  2. ku menghindari berkeliaran siang hari di praha pas summer karena panasnya bikin pala pusing mir hahah yap praha is indeed beautiful but pasti ada aja pengalaman yg bikin gak lupa ya, *i dropped the 5dmark ii to the ground in charles bridge. it broke and i had to bring it to the service center dengan sebelumnya nangis2 bombay dulu wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. edaan ken, menangys yah itu pasti. trus akhirnya bener? Alhamdulillah ya masih terselamatkan.

      Delete

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS