York

Friday, December 8, 2017

Udah hampir setengah taun lalu aku dan Mira pergi ke York. Tapi karena sibuk tesis, pindahan, packing untuk pulang, settle back di rumah, lalu catch-up dengan makanan-makanan yang udah satu tahun gadapet akses, Mira jadi tidak sempat untuk nulis-nulis. Akhirnya, dia bayar aku untuk nulisin Blog bagian York. Licik juga ya dia. Kira-kira hasilnya seperti ini:


--
Jam 6 pagi, aku sudah berjalan menuju bus stop terdekat dari flat. Cuaca London jarang sekali akur dengan musim, jadinya pagi hari itu aku berjalan kaki menahan dingin walaupun secara teori bulan Juli harusnya musim panas. Sebagai makhluk tropis, suhu di angka-angka awal belasan ini biasanya sudah cukup bikin masuk angin, tapi karena hari itu aku mau ke York, rasa dinginnya teralihkan oleh excitement. York sudah aku datangi dua kali sebelum ini, dan itu saja masih mau balik lagi. Waktu aku bilang begitu ke Mira, dia jadi penasaran juga sama York, akhirnya berangkat deh aku untuk ketiga kalinya.

Ketika aku sampai di King's Cross, Mira - yang berangkat dari zona 2 - sudah lebih dulu tiba. Dari jaketnya, kelihatannya walaupun dia sudah tinggal di London hampir setahun dia masih kedinginan.

Setelah mengisi tas kami masing-masing dengan jajanan untuk di perjalanan, kereta kami berangkat dari King's Cross ke hogwarts York. Baru lima menit kereta kami berangkat, Mira tiba-tiba bilang,

"Eh. Itu Emirates Stadium deket banget!! Kamu ga mau foto????"

Tapi dia bilangnya aja waktu stadionnya udah agak lewat, jadi ketika kameranya udah siap, Emirates Stadiumnya udah ga keliatan. Aku cuma bisa menatap naas.

Kalau aku lagi nonton Arsenal di Upper tier, memang keliatan sih ada rel kereta deket banget, bikin penasaran kereta kayak gimana yang hoki banget bisa dapet view stadion dari sudut yang oke. Tapi begitu sekali-kalinya naik kereta tersebut, eh kebablasan.

Begitu sampai di York, aku jadi ingat lagi kenapa aku mau ke sana berkali-kali. Tepat di depan stasiun, tembok batu York masih utuh mengelilingi daerah Old Town. Pertama kali aku kesini, aku sempat berjalan mengelilingi York di atas tembok batu ini, ditemani guide dari ISH travel club yang pengetahuan tentang York-nya oke sekali. Bangunan-bangunan di sisi dalam tembok batu York masih kental sekali gaya abad pertengahannya. Kafe-kafe, gereja, serta toko-tokonya bikin seperti kembali ke masa lalu.

Karena kemarin Mira tidak sengaja mem-format SD Card kameranya ketika beres-beres, dia harus recover data-datanya. Walaupun untungnya berhasil, sebagian besar hasil recoveran-nya ga HD. Jadi dia buat kolase-kolase supaya resolusinya tetap bagus di blog. Ga sia-sia dia S2 jauh-jauh.

Senyum dikit kek Mba

Ketika kami sedang keliling old town, Mira penasaran sama satu toko yang di etalasenya banyak boneka dan rumah-rumahannya. Dari luar, toko ini keliatan seperti museum boneka. Namun setelah kami telusuri, ternyata ini toko perlengkapan natal dan juga boneka-boneka dan kerajinan dari kayu. Sepertinya mereka sadar kalau musim panas gini bukan waktunya orang belanja natalan, jadi turis-turis diperbolehkan masuk dan melihat-lihat saja. Ternyata memang di dalamnya barang-barangnya bagus dan unik. 



Dari toko natal, aku langsung ajak Mira ke York Minster, katedral utama kota York. Jalur yang aku ambil ternyata lewat di depan rumah kelahiran Guy Fawkes. Dia ini adalah konspirator yang mau meledakkan Westminster Palace. Dia ditangkap ketika sedang menyiapkan peledak di basement House of Lords. Sampai sekarang, tanggal dia ditangkap (5 november) dijadikan peringatan Guy Fawkes Day dimana di seluruh Britania Raya (not UK) akan ada festival kembang api.

Guy Fawkes biasanya lebih dikenal di luar UK sebagai tokoh yang menginspirasi topeng yang di kenakan oleh V di film V for Vendetta.


Sesampainya di Yorkminster, aku jadi teringat kata-kata guide ISH waktu pertama ke York dulu. Di depan Yorkminster ini dia kasih crash course tentang arsitektur. Dia ceritain ke kami bagaimana membedakan bangunan bergaya gothic, victorian, serta victorian gothic. Lalu setelah kasih crash course, dia kasih exam juga. Soal ujiannya adalah menebak gaya arsitektur dari Yorkminster. Jadinya ketika sekarang aku dan Mira sampai di depan York Minster, aku senyum-senyum sendiri di depan katedral gothic ini karena ingat materi crash course, padahal kuliah sendiri udah lupa. Mira sampai nanya kenapa aku senyum-senyum sendiri. Kalau semua course kuliahku kayak guide itu ngajarinnya, pasti udah distinction semua muridnya.


Karena kami berdua retjeh, kami tidak masuk ke dalam York Minster yang harganya lumayan buat belanja bahan makanan. Lagian kami udah mulai capek juga, jadinya kami jalan keliling Old Town aja, siapa tau ada tempat ngeteh yang enak buat duduk-duduk sekalian.

Sepertinya menarik, sayang ga jual minuman

 


Kami stay di kafe ini sampai satu jam sebelum jadwal kereta kami. Mira minum teh sencha mango yang sebelumnya udah diicip dikit di toko sebelahnya, aku minum ginger beer, dan gak lupa kami juga pesen scones. Karena York kotanya tidak terlalu besar, ternyata kami sampai di dekat stasiun cukup cepat. Sisa waktu untuk nunggu kereta aku pakai untuk ajak Mira jalan di atas tembok batu York. Walaupun engga bisa keliling seluruh kota, tapi setidaknya bisa dapet view dari atas temboknya.






Dari York, kami belum langsung pulang ke London. Kereta kami berhenti di Sheffield, lalu kami lanjut naik bus menuju Hathersage, 6 miles dari tujuan utama kami yang akan diceritakan di postingan lain. 


2 comments:

  1. Fotonya bagus-bagus... Btw, kok itu nama cafenya unik, must not be named :))

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, makasih ya. Itu bukan cafe, tapi toko yang jual pernak-pernik Harry Potter :D

      Delete

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS