Ericeira dan Sintra

by - January 05, 2018

Hari ke dua di Lisbon, setelah sarapan yang agak kesiangan di rumahnya Rita (kami dibikinin kopi yang enak banget sama bapaknya) dan ngobrol-ngobrol dikit, kami pun berangkat. Hari itu saya dan Max diajak oleh keluarganya Rita untuk jalan-jalan ke kota di dekat Lisbon. Tepatnya ada dua kota yang akan kami kunjungi hari itu, yang pertama terletak di daerah pantai, dan yang kedua terletak di daerah berbukit. 


Senang sekali karena keluarganya Rita ini ternyata baik dan ramah banget ke saya dan Max, kayak udah dianggep jadi anak sendiri gitu deh. Si Tante yang asli Portugal nggak terlalu bisa bahasa Inggris jadi cuma senyum-senyum aja sambil ngangguk-ngangguk kalo kita lagi ngobrol. Nah, si Om yang asli Jerman itu keliatan seneng banget karena ada tamu dari kampung halamannya sendiri. Jadi deh dia kalau udah ngobrol sama Max kayak udah gak bisa berhenti gitu. Dari mulai ngomongin hal receh selevel selai marmalade sampai ke obrolan berat kayak situasi Jerman pas runtuhnya tembok Berlin. Di malam sebelumnya, Max dan si Om ngobrol sampai sekitar jam 3 pagi dan yang bisa saya tangkap sayup-sayup cuma "Ja... Bitte.. Ach so...", hahaha maklum, dulu kalau pelajaran bahasa Jerman pas SMA saya selalu remedial :P

Sepanjang perjalanan kami ngobrol-ngobrol seru sampai gak kerasa akhirnya udah sampai di perhentian pertama kami. Kota ini bernama Ericeira, yang sepintas mengingatkan saya ke kota bernama Essaouira di Maroko. Gak cuma nama kotanya yang sepintas mirip (Ericeira dilafalkan eri-se-ra dan Essaouira dilafalkan esa-wi-ra), tapi juga suasananya, karena semua bangunan di kedua kota tersebut sama-sama mempunyai palet warna biru dan putih, mirip-mirip di Santorini juga. Apakah ada kesengajaan? Saya belum riset lebih lanjut sih soal ini. Tapi memang perpaduan warna laut yang biru dan bangunan biru-putih ini cantik juga sih dipandang mata.


Ikan sarden yang jadi souvenir khas Portugal


Rita bilang, kalau Ericeira ini adalah tujuan muda-mudi Lisbon kalau mau liburan bareng teman-teman. Mungkin semacam Medan dan Danau Toba kali ya #cocoklogi. Kata dia, dulu pas masih sekolah, dia sering nyewa villa dan liburan rame-rame dengan teman-temannya. Karena saat itu pas lagi musim panas, banyak orang yang berjemur dan celup-celup di pantai, meskipun saya yakin, pasti airnya masih dingin karena meskipun terik, tapi angin yang lewat itu lumayan adem juga.






Setelah puas muter-muter liat yang seger-seger (whoa it rhymed), kami pun mampir ke restoran karena udah lumayan krucuk-krucuk sepanjang jalan nyium aroma seafood yang lagi dibakar. Rita, yang seperti biasa sudah well-prepared, ternyata udah reservasi meja di sebuah restoran yang lagi-lagi terlihat fancy tapi ternyata murah banget! Gimana saya gak jatuh cinta sama Portugal, saya makan steak tuna yang super enak, seger, gede, ga amis sama sekali meskipun tingkat kematangannya medium rare, yang harganya cuma 9 euro! Wah udah ga bener ini. Dan emang dasar rejeki anak kurang sholeh, makan siang kali itu saya dan Max ditraktir sama si Om dan Tante. #salimOmDanTante

Steak tuna dan kentang yang sederhana tapi nikmat tiada dua.


Sehabis kenyang makan tuna dan ngopi-ngopi dikit (karena kebiasaan orang Portugal yang ternyata sama kayak di Italia, yaitu minum satu shot espresso abis makan siang), kami pun melanjutkan perjalanan ke Sintra, yang letaknya di atas bukit. Di perjalanan, kami bisa lihat Sintra dari kejauhan karena ada istana yang ada di puncak bukitnya. Rita dari awal udah ngewanti-wanti kalau cuaca di Sintra ini cukup labil karena posisinya yang ada di atas bukit dengan ketinggian yang cukup tinggi. Intinya dia bilang, dia gak pernah deh ke Sintra dalam keadaan cerah, pasti selalu berawan dan gloomy.


Tapi ternyata hari itu semesta berpihak pada kami, karena Sintra cerah banget! Rita dan orang tuanya sendiri sampai terheran-heran. Berhubung hari itu cerah, supaya lebih menikmati sinar matahari (dasar bule-bule), kami memutuskan untuk trekking jalan kaki naik ke atas istananya. Jadinya Om dan Tante nurunin kita di pusat kota Sintra dan mereka balik ke rumah dulu sampai kita beres jalan-jalan (Sintra cuma 15 km-an dari Lisbon).


Di jalan saya liat tulisan 'mitos' dan 'lendas' di poster yang dipajang di visitor center. Pas saya iseng nanya ke Rita, ternyata artinya sama kayak 'mitos' dan 'legenda' di dalam bahasa Indonesia. Saya sama Rita langsung excited dan dari situ kita mulai nyari-nyari lagi kata yang artinya sama. Dari situ saya tau kalo 'gereja' dalam bahasa Indonesia sama kayak 'igreja' di bahasa Portugis. Selain itu sepatu, garpu, jendela, meja, mentega, bendera, sekolah, juga sama! Mungkin ga sama plek dari segi tulisan, tapi yang diucapin Rita dan saya itu terdengar 11-12 sama. Seru, karena kita jadi ketawa-tawa dan nyari-nyari terus. Besok harinya saya juga jadi tau kalau risol dan pastel (iya, makanan yang enak itu) juga bernama sama di bahasa Portugis. More on this later.


Jalur trekking menuju istana ternyata lumayan seru dan curam juga. Dari awalnya kami melewati taman yang jalurnya rapih berupa paving blok sampai tiba-tiba jadi nyasar ke hutan yang rimbun dengan jalur berupa jalan setapak doang. Tapi ga kerasa, karena sambil ngobrol, tiba-tiba kami udah hampir sampai di istana, ditandai dengan terlihatnya benteng yang ada di bukit sebelah.

Benteng yang ada di bukit sebelah istana.

Hore, udah deket!


Untuk masuk ke istana ini, pengunjung harus beli tiket masuk seharga 15 euro/orang. Lumayan mahal yaa, apa lagi kalau dibandingin sama harga makan siang tadi. Haha. Tapi kata Rita istana ini luas dan indah, jadinya impas lah terbayar dengan harga segitu. Karena udah nanggung trekking nyampe ke atas, rugi dong yaaa kalau gak masuk. Akhirnya kami pun langsung ngantri untuk beli tiket. Oiya, dan ternyataaaa, pas nyampe di atas langsung keliatan rame gitu ada mobil-mobil dan bahkan shuttle bus yang bolak-balik ke city center. Padahal kami ber-tiga udah kucel banget keringetan abis mendaki kurang lebih sejam-an. Rita sambil nyengir bilang ke saya dan Max kalau "gapapa ya tadi jalan, biar berasa feel-nya". Istimewa memang tour guide saya yang satu ini. Hehe.


Palácio da Pena atau Pena Palace ini ternyata memang besar dan megah. Menurut saya disain istana ini agak absurd tapi somehow indah. Di satu sisi ada bagian yang mirip dengan mesjid, karena ada kubahnya. Di sisi lain ada bagian yang penuh ukiran bertema laut lengkap dengan dewa Neptunus-nya. Di sisi yang lain ada tembok yang pattern-nya khas Portugis. Saya rasanya ingin nulis komentar yang sok-sok bahas dari segi arsitektur tapi tampaknya cukup sadar diri kalau saya gak punya kapabilitas di bidang itu. Hahaha. In short, this palace is weird, in a beautiful way. #diplomatis.

Mungkin biar kebayang bisa disimak di foto-foto di bawah ini:


My fave! The details, though~

Di sini awannya bergerak cepat sekali, berasa lagi liat video time-lapse versi live.  

Sisi yang mirip mesjid.

Benteng yang tadi sekarang jadi terlihat kecil.


Tuh kan, mesjid.

Sisi yang ini mirip istana boneka TMII.


Setelah puas dan lelah muter-muter akhirnya kami kembali ke peradaban kota Sintra dengan menggunakan shuttle bus. Dan ternyata jadi kerasa deket banget kalo naik bus. Bener sih kata Rita, lebih kerasa perjuangannya kalo jalan kaki dan nanjak. Di Sintra, sambil nunggu Om dan Tante jemput, kami bertiga mampir di Casa Piriquita, sebuah cafe tempat ngeteh-ngeteh sore yang terkenal di Sintra. 


Jadi katanya, cafe ini sudah ada sejak tahun 1862, yang kalau dihitung berarti umurnya udah hampir 160 tahun! Saya suka nih kuliner-kuliner yang ada label 'since'-nya gini. Kayak takjub aja mereka bisa konsisten jualan dan mempertahankan restorannya. Pas nyampe di sana, cafe yang gak terlalu luas ini ternyata udah penuh sama orang. Untungnya gak perlu nunggu terlalu lama, kami ber-3 langsung dapet meja. Oiya, yang khas dari cafe ini adalah queijadas dan travesseiros-nya. 


Travesseiros dan queijadas.

Travesseioros adalah semacam pastry yang isinya almond. Enaaaak enaak. Ringan dan lumer di mulut. Sementara itu, queijadas sendiri menurut saya lebih kayak versi bolu-nya portuguese egg tart. Teksturnya agak bantet, dan saya nggak terlalu suka karena manis banget. Kami sengaja gak pesen terlalu banyak karena selain cuma pengen icip-icip, si Om dan Tante juga ngajakin dinner bareng nanti sesampainya di Lisbon. #eluselusperut

Kalau saya sendirian ke Lisbon, saya 100% yakin ga akan masuk ke restoran ini kalau liat dari penampakan luarnya.

Sampai di Lisbon, kami langsung ke daerah Belém untuk makan malam. Nama restorannya Portvgalia, terletak persis di sebelah The Padrão dos Descobrimentosmonumen yang mirip pedang yang saya ceritain di postingan sebelumnya. Wah, kalau ngeliat tampilan luar restorannya, pasti fancy banget nih, pikir saya. Pas masuk juga beda deh pokoknya pelayanannya, kerasa gitu mahalnya. Saya sempet ga enak sendiri karena masuk cuma pake baju seadanya plus kucel banget abis main seharian. Complimentary appetizer-nya aja ada octopus saladnya. Restoran ini juga udah ada sejak jaman dulu gitu, tepatnya dari tahun 1925.  



Tapi pas buka menunya..... harganya lagi-lagi cuma 9 euro! Saya pun tercengang sok kaya raya, padahal di London juga aslinya saya receh banget hidupnya. Hahaha. Tapi emang agak shock aja sih restoran se-fancy itu cuma 9 euro harga main course-nya. Dan gak ada yang namanya service charge tak tertulis yang menjebak. 

Malam itu saya pesan chicken steak ala Portvgalia yang memang jadi signature restoran ini. Jadi steaknya agak beda karena dikasih saus khas Portvgalia yang rasanya creamy, trus ditambahin telur ceplok di atasnya. Enaaak dan beda cita rasanya dari berbagai steak yang pernah saya makan sebelumnya. Dan malam itu ternyata anak kurang soleh ini pun ditraktir lagi. Alhamdulillah. #sungkemOmDanTante

Hmmmm, lagi-lagi Portugal sukses memanjakan mata dan perut saya. Setelah kenyang makan dan ngobrol-ngobrol, kami pun kembali ke rumah karena besoknya ada agenda padat seharian muterin daerah old-town nya Lisbon. Excited!

Trus gimana, nih? Jadi pengen ke Lisbon ga?

You May Also Like

2 comments

  1. Aaaahh seru banget Mir! Jadi pengen ke Portugal lagi dan main ke Ericeira dan Sintra. Kotanya keliatan nyaman dan makanan2nya itu loh bikin ngilerrrr X))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cus berangkat, Zu! Makanan sama murahnya itu sih ya memang, dua poin unggulnya Portugal di kalangan mahasiswa. Hahaha.

      Delete