Italy Trip #5: Pisa

Saturday, May 26, 2018


Di pagi hari yang mendung itu, saya dan Dharma sudah berada di stasiun Santa Maria Novella, menunggu kereta yang akan membawa kami ke Pisa. Hari itu kami akan mampir sebentar di Pisa sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke kota tujuan terakhir di Italia, yaitu Roma. Awalnya saya kira menara Pisa itu ada di Roma, sampai pada akhirnya saya tau kalau menara Pisa itu ya ada di Pisa saat googling menyusun itinerary beberapa hari sebelum berangkat ke Italia (ketauan kan Geografi-nya jelek hahaha). Sebenernya setelah riset kilat, di Pisa tidak banyak hal yang menarik perhatian kami. Namun berhubung udah sampai di Italia, masa iya gak mampir bentar untuk liat menara miring yang dari dulu udah eksis di buku IPS jaman SD? Ya ga? 


Dari stasiun Pisa Centrale, kami harus berjalan kaki kurang lebih 2 km menuju ke Pisa Tower. Dari pas keluar stasiun, mata saya langsung memandang ke sekeliling, mencari penampakan menara Pisa, karena saya kira menaranya bakal tinggi banget macam Eiffel gitu.

Saya tidak berhasil menemukan penampakan Pisa, jadi lah pasrah aja jalan kaki mengikuti rute yang ditunjukkan oleh sahabat dekat saya, si Google Maps. Kota Pisa ternyata cantik juga, tambah syahdu karena jalanan yang agak basah sehabis hujan, dan suara musik dari pengamen jalanan yang bermain lagu klasik dengan flute. Wah romantis banget, sayang aja saya waktu itu jalannya sama Dharma. Hahaha.




Setelah berjalan santai selama kurang lebih setengah jam, akhirnya saya melihat penampakan menara Pisa dari balik rumah-rumah. Tandanya kami sudah dekat.

Kami pun sampai pas ketika matahari mulai muncul kembali dari balik awan-awan hitam. Saya langsung bergumam di dalam hati, "Oh, oke. Gini aja nih?" karena :
  1. Menara Pisa gak setinggi yang ada di bayangan saya. Tingginya ternyata cuma 55.86 meter, kurang lebih setengahnya Monas. Di bayangan saya tuh bakalan tinggi menjulang banget.
  2. Ternyata miringnya juga ga miring-miring banget. Cuma sekitar 4 derajat gitu deh.
Tapi, saya segera bangkit dari kekecewaan dan menemukan hiburan baru : merhatiin pose orang-orang yang mau foto dengan menara Pisa. Bisa disimak seperti gambar di bawah ini:





Saya sama Dharma sampai sakit perut ketawa-ketawa memperhatikan tingkah orang-orang. Entahlah siapa yang pertama kali mencetuskan, tapi sekarang kayaknya berasa ga afdhol gitu kalau ke Pisa tapi fotonya pakai pose yang B aja. Minimal harus pose pura-pura menahan menaranya biar ga jatuh gitu. Ehehe.

Menara Pisa ini berdiri di belakang Pisa Cathedral, dan sekomplek juga dengan Pisa Baptisery. Menara ini miring karena struktur tanah di bawahnya yang terlalu lembek gitu deh. Setelah melalui rekonstruksi akhirnya menara ini bisa berdiri kokoh tapi ya tetep miring. Gitu kata Wikipedia.

 Pisa Cathedral dan Leaning Tower of Pisa


Pisa Baptisery di belakang sana. 


 


Setelah puas muter-muter dan foto dari pose yang bener sampai yang gak bener, kami pun langsung beranjak lagi karena kereta kami menuju Roma akan berangkat di pukul 3 sore.

Sah sampai di Pisa!



Kami mampir makan di La Ghiotteria di dekat stasiun, sesuai dengan saran dari TripAdvisor. Restoran kecil ini terletak di gang kecil dan dikelola oleh dua orang bapak-bapak (satu orang koki, dan satu orang yang nyatet pesanan). Kerasa otentik banget. Saya pesan pasta Arrabiata dan Dharma pesan Pasta Jack Daniels yang dibungkus pake alumunium foil. Karena pegawainya cuma berdua, pesenannya lamaaa banget datangnya. Untungnya kami termasuk orang-orang pertama yang sampai di restoran, karena gak lama kemudian restorannya langsung penuh banget.

Penne Arrabiata pesenan saya. Simply delicious.

Dharma kayak dapet kado ulang tahun. 

Ditutup dengan espresso.

WiPi. Sunda pisan. 


So, that was it! A quick visit in Pisa. Sampai bertemu di Roma!

No comments:

Post a Comment

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS