Italy Trip #2: Venice

Friday, April 6, 2018

Perjalanan saya menuju Venice diawali dengan drama pagi buta di Milan. Sebelumnya saya sudah membeli tiket FlixBus (bus kesayangan turis kere macam saya) dari Milan menuju Venice dengan waktu keberangkatan pukul 06:30 dari Lampugnano Bus Station yang letaknya jauh dari tempat saya menginap. Waktu cek di Google Maps, saya lihat kalau metro (kereta bawah tanah) di Milan baru beroperasi di pukul 05:40. Berdasarkan pengalaman muter-muter di Milan hari sebelumnya, saya langsung menarik kesimpulan kalau metro di Milan belum bisa diandalkan seperti tube di London yang lumayan tepat waktu (kalau pun ada telat-telat dikit pasti langsung diumumin). Saat itu tertulis, kalau saya naik metro 05:40, saya akan sampai di terminal jam 06:21. Saya cuma punya waktu 9 menit dan rasanya itu mepet banget, belum lagi kalau ngaret-ngaretnya dihitung juga. Berhubung di sana kalau ditulis 06:30 ya beneran jam segitu bus-nya jalan ga pake acara ngetem.

Long story short, karena takut telat, saya mencari alternatif lain ke Lampugnano dan Google Maps bilang kalau saya bisa naik bus dari dekat hostel jam 5 pagi. Okesip, saya pun langsung set alarm untuk bangun sekitar jam 4:30 pagi.


Jam 5 kurang saya udah jalan menuju ke bus stop yang sebenernya ga terlalu jauh dari hostel. Tapi ternyata, jalan kaki pagi buta di Milan bikin saya super insecure. Jalanan sepiii, tapi banyak banget gelandangan yang gerak-geriknya jadi terlihat super mencurigakan. Bawaannya suudzon terus ke semua orang. Sampai di bus stop, ternyata ga ada orang. Saya nunggu sendirian sampai akhirnya ada seorang bapak yang ikutan nunggu bus juga. Setelah 15 menitan lewat dari jadwal, bus tak kunjung datang. Saya mulai panik, lalu mencari opsi lain. Mau naik Uber, ternyata lumayan mahal juga. Mau naik metro, stasiunnya masih belum buka. Si Bapak tiba-tiba ngajak ngobrol pakai bahasa Italia dan karena saya cuma geleng-geleng bilang ga ngerti, dia pun pergi.

Saya kembali sendirian.

Pas saya lagi bingung gitu, saya mulai jalan ke arah stasiun metro dan coba nelpon temen saya. Selain karena panik, saya tiba-tiba takut banget karena sendirian di pinggir jalan gelep-gelep, biar ada yang nemenin aja gitu maksudnya walaupun suara doang. Pas saya lagi telepon, ada seorang mas-mas homeless yang liatin saya terus dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan muka datar, jalan mendekat ke arah saya, lalu tiba-tiba berhenti sambil terus ngeliatin. Saya refleks mundur satu langkah, tapi si mas-mas lanjut jalan mendekat. Waduhhhh pas lagi panik kayak gitu, tiba-tiba ada petugas stasiun yang buka gerbang bak malaikat. Langsung saya ngacir lari ke dalam stasiun. Yang begini ini nih yang bikin saya kadang kapok jalan sendirian (tapi beberapa hari kemudian udah lupa dan diulang lagi, hehehe).

05:40 saya udah duduk manis di metro dan passs banget nyampe di Lampugnano di 06:21 trus langsung ngibrit naik bus. Rasanya lega bukan main saat itu. Saya langsung ngucap syukur banyak-banyak sambil sholat subuh. Jadi juga ke Venice!


Di Venice, transportasi utamanya adalah water bus yang jalan di sepanjang Grand Canal.

Waktu bikin itinerary trip di Italy, saya sempat bingung dan galau karena ada banyak banget tempat yang mau dikunjungi, tapi cuma punya waktu sedikit. Setelah pertapaan yang lama, bandingin harga, buka-buka maps, akhirnya saya memutuskan untuk ke Venice dulu di hari kedua sebelum ke Florence, tanpa menginap, berhubung harga penginapan di Venice yang masya Allah mahal-mahal banget. Tadinya saya udah mau skip aja gak jadi ke Venice, tapi rasanya kok sayang banget. Pada akhirnya, saya bela-belain naik bus paling pagi, biar pas sampai di Venice jam 10 siang, lanjut muter-muter bentar dan melanjutkan perjalanan ke Florence di sore harinya. Di sini terasa banget pentingnya packing seringan-ringannya, karena saya harus bawa-bawa gembolan selama jalan di sana.


Biar maksimal, saya ikutan free walking tour yang biasanya selalu ada di kota-kota wisata di Eropa. Tujuannya sih biar acara muter-muter saya agak ada faedahnya aja gitu dikit. Karena ada guide lokal yang bakal nyeritain sejarah tempat-tempat yang dikunjungi. Walaupun namanya free walking tour, di akhir kita bisa kasih tip ke guide-nya sesuai dengan kemampuan dan kepuasan kita terhadap acara tour-nya. Saya biasanya kasih koin-koinan aja sih. Hehe. Oiya, tour yang saya ikuti bisa dilihat di Venice Free Walking Tour.

Free walking tour kali ini dari awal banget udah di-state anti-mainstream sama guide-nya, karena kami ga pergi ke tempat-tempat hits yang biasanya didatengin oleh turis. Hari itu kami diajak untuk mengenal lebih dalam kehidupan orang-orang di Venice. Guide saya hari itu seorang cewe Italia yang mau liburan ke Indonesia di musim dingin, berhubung pas musim dingin Venice lumayan sepi dari turis. Nah, tips kalau jalan sendirian, ikut free walking tour aja karena lumayan ada temen ngobrol kayak gini biar gak ansos-ansos banget.

Rumahnya Marco Polo, seorang traveler, even before traveling became a thing. 

Love the colours!


Masquerade. Awalnya, asal-usul topeng ini adalah karena adanya kesenjangan sosial di Venice. Kayak ada kasta-kasta gitu: bangsawan dan budak. Jadinya, satu hari dalam setahun, semua orang memakai topeng biar terlihat sama dan setara, yang pada akhirnya, berkembang menjadi event tahunan yang meriah: Venice Carnival.

Bentuknya macem-macem, yang di kanan berbentuk muka dengan paruh burung itu biasanya dipakai oleh dokter.


Saya ikut walking tour dengan keadaan super laper karena cuma sarapan roti seadanya. Saat break, rombongan mampir ke bàcari, sebuah warung kecil khas Venice yang menjual snack-snack yang disebut dengan ciccheti.

Harganya sekitar 2 euro per-piece kalo ga salah. Lumayan mahal sih. Tapi karena laper yaudah deh mau gimana lagi. Yang putih itu adalah terong yang dibalut adonan tepung, cod fish, dan keju, croissant mini itu berisi krim dan cod fish, yang bawah kalo ga salah bruschetta dengan topping tuna saus tomat gitu deh. Enak tapi tetep ga kenyang :))

Cengek a.k.a rawit! Langsung pengen bikin indomie kuah atau ayam geprek.





Ponte Rialto, yang menyeberangi Grand Canal.

Venice letaknya di atas laut. Bangunan-bangunannya seolah terapung gitu dan ada banyak kanal berliku-liku di antaranya. Kanal paling besar ini disebut Grand Canal.

St. Mark's Basilica



Riwe kasih rekomendasi untuk minum espresso di Florian, tempat minum kopi dan teh yang udah ada sejak tahun 1720, soalnya katanya rasanya beda dan enak gitu. Pas saya ke sana dan baca menu di depan, terlihat lah bahwa secangkir imut espresso itu harganya 7 euro sajaaah. Langsung deh turis kere ini melipir perlahan mencari latte di cafe sebelah yang harganya 1 euro-an :))

Tapi Florian memang tempatnya asik gini sih. Berasa lagi di scene film-filmnya Wes Anderson. Foto ini saya ambil dari luar.


Gondola.


Akhirnya makan yang beneran setelah selesai walking tour. Nemu Pasta al Pomodoro cuma 5 euro saja di Venice di antara resto-resto fancy. Happy dan kenyang.


Leyeh-leyeh di pinggir Grand Canal sambil nunggu jadwal bus ke Florence



Perpaduan antara rumah-rumah berpalet warna pastel, lika liku gang sempit, dan kanal, Venice terbukti memang cantik banget. Yang saya gak suka ada dua: rame dan mahal banget! Gang-gang sempit dan kerumunan manusia bukan lah perpaduan yang asik. Walau begitu, rasanya 6 jam muter-muter Venice dengan terburu-buru rasanya masih kurang. Mungkin suatu hari kalau saya punya uang dan waktu yang banyak, saya akan kembali lagi selama beberapa hari, duduk chill di Florian sambil minum espresso, menelusuri gang-gang sempit lebih jauh, atau nongkrong di pinggir kanal.

Hujan mulai turun deras ketika saya sudah sampai di bus stop, menunggu FlixBus yang akan membawa saya ke Florence. Rasanya lelah sekali saat itu. Tidak lama kemudian, bus datang dan saya pun bersiap untuk tidur nyenyak di perjalanan.

Sampai bertemu lagi, Venice!

2 comments:

  1. Sumpah yang nama pasta aku bacanya Podomoro haha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. dulu awal2 aku juga selalu salah nyebut kok gas :))

      Delete

 
MIRA AFIANTI - TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS